Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Belajar dari Kisah Nabi Yunus & Hijrah Nabi Muhammad

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 September 2019 08:48 8:48 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 September 2019 05:00
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

KUN fayakun. Jika Allah berkehendak, maka terjadilah. Inilah kuasa Allah. Peristiwa langka yang bisa jadi tak akan terulang kedua kalinya.

Ada manusia yang ditelan ikan raksasa. Masuk dalam keadaan hidup dan keluar juga dalam keadaan yang sama. Ia tetap hidup meski berada di dalam perut ikan tersebut. Inilah kisah ajaib Dzun Nun, nama lain dari Nabi Yunus bin Matta (semoga salam dan keselamatan selalu tercurah untuk beliau).

Iya, tak ada yang menyangka. Sebagian umur Nabi Yunus justru dihabiskan di dalam perut ikan yang menelannya di tengah samudera. Dalam riwayat, ada yang menyebut ia berdiam selama tiga hari. Ada yang bilang 40 hari. Ada juga yang berkata, Nabi Yunus ditelan di pagi hari dan dimuntahkan di petang hari.

Secara ilmu pengetahuan dan logika manusia, bisa apa orang itu di tengah suasana pekat yang berlipat-lipat? Mulai dari gelapnya dasar samudera, gelapnya “kamar” di perut ikan, hingga gelapnya malam yang ikut mendera.

Namun demikian teladan dari manusia pilihan yang diutus ke kaum Asyiria di Ninawa, Irak. Bagi Nabi Yunus, selalu ada cahaya terang yang benderang. Selalu ada sinar yang berbinar. Selalu ada harapan yang mapan.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Bahwa ilmu yang dimilikinya bukan hanya mengantarnya sebagai orang yang pandai di tengah kaumnya. Tapi juga melahirkan keyakinan yang utuh kepada Allah. Semakin dia mengenal Allah kian luruh pula hatinya untuk bersujud dan bermunajat hanya kepada-Nya.

Dengan bimbingan Zat Yang Maha Mendengar, Nabi Yunus lalu tak henti merintih. Lirih. La Ilaha illa Anta. Subhanaka inniy kuntu min azh-zhalimin (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat aniaya). Apa-apa yang dimilikinya seketika lebur dalam deburan ombak di tengah samudera. Tak ada yang bisa dibanggakan kecuali hanya memuji dan bertasbih kepada Allah.

Amazing! The power of hope. Munajat dari dasar samudera di dalam perut ikan itu ternyata mampu menggetarkan lapisan langit yang bersusun-susun. Ternyata, harapan itu benar-benar ada. Atas kehendak Sang Pencipta, Nabi Yunus didamparkan kembali ke daratan. Dia kembali muncul di tempatnya bertugas dulu. Melanjutkan misi dakwahnya, mengajak penduduk Ninawa menegakkan tauhid, menyembah hanya kepada Allah semata.

Baca: Tingkatkan Amal Shaleh di “Bulan Allah”

Hal yang sama diperagakan dalam kisah hijrah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Usaha-usaha yang diikhtiarkan dan berbagai strategi yang diupayakan tak lantas menyilaukan Rasulullah. Bahkan dengan jaminannya sebagai manusia terbaik yang bergaransi untuk selalu mendapat bantuan dan pertolongan sekalipun. Nabi tetap saja memilih khusyuk berdoa memohon pertolongan kepada Allah.

Beliau sadar, semua manusia boleh menggelar agenda dan program yang dikehendakkan, tapi sebaik-baik makar ialah yang direncanakan oleh Allah.

Inilah yang membedakan antara ilmu yang memberi harapan dan manfaat dengan ilmu yang menjadikan manusia lalai untuk mengingat Allah. Faktanya, tak sedikit orang yang tertipu dengan ilusi fatamorgana dari sekelilingnya. Seolah dengan kecerdasan ilmu dan kehebatan akalnya, dengan mudah ia bisa meraih segala yang dimimpikannya. Seolah karena mampu dan berkuasa, maka ia tak perlu menengadahkan tangan dan membungkukkan badan di hadapan-Nya.

Hikmah berikutnya, jika kondisi kritis tersebut di atas masih saja menyelip harapan. Lalu mengapa kita kadang tak serius dalam berusaha untuk satu kebaikan? Mengapa kita masih sering ngambek hingga malas-malasan berdoa? Hanya gara-gara sekali waktu pernah terbentur dengan kerikil kecil dalam hidup. Atau hanya gara-gara merasa pintar dengan gelar ilmu yang dipunyai.* Masykur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:1441 HhijrahhijriyahNabiNabi MuhammadNabi Yunus
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemuda Muhammadiyah: Pimpinan KPK Harus Berintegritas Kuat Lawan Korupsi
Tulisan selanjutnya Somalia Ingin Belajar dari Indonesia dalam Manajemen Haji

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?