Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Materi Perang dan Intoleransi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 September 2019 06:46 6:46 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 September 2019 06:46
Bagikan
Bagikan

Oleh: Henri Shalahuddin

 

Hidayatullah.com | Rencana Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama (Kemenag) menghapus materi perang (jihad al-qital) dalam materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam untuk tujuan mendidik siswa menjadi lebih toleran kepada penganut agama lain cenderung salah sasaran.

Sebab kecenderungan sikap intoleran hingga tindakan bom bunuh diri 0061di gereja yang dilakukan oleh oknum Muslim tidak bisa dikaitkan karena pelakunya memahami ajaran Islam dengan baik, khususnya tentang peperangan yg terjadi dalam sejarah Islam.

Ini merupakan kebijakan menyimpang dan nyeleneh yang dihantui oleh pemikiran fobia Islam, meskipun pembuat kebijakan itu seorang Muslim.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Seakan-akan diyakini bahwa jika setiap murid memahami peperangan yang pernah dijalankan oleh Rasulullah ﷺ pasti akan anarkhis, intoleran dan bertindak brutal kepada penganut agama lain. Orang yang berpikir seperti ini dikuatirkan sedang mengalami gangguan delusi. Orang yang mengalami delusi seringkali meyakini hal-hal yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Baca:  Bantah Hapus Materi Perang, Kemenag Akan Perkaya Fakta di Pelajaran Sejarah

Jihad fi sabilillah yang meliputi segala bentuk jihad termasuk perang, adalah puncak tertinggi dari ajaran Islam (dzirwatu sanamihi) sebagaimana disebutkan dalam hadits Mu’adz bin Jabal.

Perang adalah bagian dari keniscayaan yang selalu berulang di sepanjang sejarah, di setiap zaman dan tempat.

Oleh sebab itu Islam mengatur bagaimana berihsan dalam perang, sekiranya peperangan itu harus dilakukan. Paling tidak, sebelum melakukan jihad qital (perang), ada dua tahapan yang harus dilalui, yakni jihad tarbawi dan jihad tanzimi.

Jihad tarbawi adalah menyiapkan pengetahuan yang utuh tentang bab keluasan bab jihad, syarat dan rukunnya. Sementara jihad tanzimi adalah menanamkan bahwa perang itu bukan kegiatan liar dan harus diorganisir oleh pengambil keputusan badan eksekutif tertinggi (negara). Perang bukan kewajiban yang diputuskan oleh individu atau kelompok-kelompok masyarakat (milisi).

Seorang Muslim harus mengenal pondasi ajaran jihad, termasuk yg paling mendasar bahwa perang dalam Islam itu sifat dasarnya defensif, bi annahum zulimu (karena dizalimi dan dianiaya. QS. al-Hajj: 39).

Maka dalam kondisi perang, setiap Muslim diajarkan perbuatan apa saja yang harus dihindari ketika berperang. Misalnya larangan merusak tempat ibadah, merusak lingkungan, membunuhi binatang ternak, menebangi tanaman, membunuh musuh yang menyerah, menganiaya,dan segala bentuk yang tidak beradab lainnya.

Baca: Kasih Sayang Islam dalam Jihad di Medan Perang

Dikatakan sebagai puncak tertinggi ajaran Islam, karena beberapa sebab, di antaranya karena Islam menekankan moralitas tentara di saat-saat yang paling genting, dimana emosi dan hawa nafsu banyak berperan, yakni dalam kondisi membunuh atau dibunuh.

Ungkapan klasik dalam bahasa Latin, “Si vis pacem, para bellum (Jika kamu ingin damai, maka bersiaplah untuk berperang) ini seolah-olah menggambarkan bahwa peperangan adalah sebuah “keniscayaan” yang akan seralu berulang.

Namun demikian, perlu juga ditelaah ulang materi peperangan dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Sebab tidak sedikit terjadi penyimpangan dalam materi ajar tentang sejarah Islam yang hanya merujuk pada penulis orientalis yang tidak beriktikad baik terhadap penggambaran sejarah Islam. Sehingga mengesankan bahwa sejarah perkembangan Islam dipenuhi dengan perang dan aksi-aksi brutalisme.

Tetapi biar tujuan kebijakan Kemenag ini bisa mendapatkan hasil maksimal, akan lebih baik jika hal ini diusulkan kepada Amerika Serikat dan negara-negara yang mempunyai anggaran perang dan kegiatan militer yang tertinggi di dunia. Misalnya; Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Arab Saudi, Prancis, dan Britania Raya.*

Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), alumni S3 Universitas Malaya, Malaysia  

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:intoleransijihadKemenagmateri perangperangSejarah Kebudayaan Islamsejarah perangSKI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Komisi IV DPR sebut 90 Persen Karhutla Sengaja Dibakar
Tulisan selanjutnya Gandeng Al Azhar, Muhammadiyah Buka Program Studi Bahasa Indonesia di Mesir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?