Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kesehatan

Duh…! Sulitnya Menaklukkan HIV/AIDS

Dija
Terakhir diupdate: 12 November 2011 09:58 9:58 am
Dija
Dipublikasikan 12 November 2011 09:58
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Strategi imunisasi konvensional sejauh ini gagal memerangi HIV. Virus AIDS memiliki perilaku berbeda dengan virus biasa. Kini diupayakan strategi baru imunisasi kombinasi untuk mencegah penyebaran infeksi HIV.

Para peneliti yang mengindentifikasi virus HIV sekitar 27 tahun lalu, merasa yakin, pengembangan vaksinnya hanyalah masalah waktu. Nyatanya asumsi itu keliru.

Strategi pengembangan vaksin konvensional adalah, menyuntikkan virus mati atau potongan kode genetikanya, untuk memicu aktivitas sistem kekebalan tubuh. Jika sistem kekebalan tubuh bereaksi, ciri khas bibit penyakitnya disimpan dalam memori pertahanan tubuh, untuk melawan keberadaan virus aslinya. Tapi virus HIV amat cerdik dan terus mengubah kode genetikanya.

Penelitian dan pengembangan vaksin anti HIV hingga kini masih terus dipacu. Namun para peneliti sejauh ini gagal menemukan vaksin ampuh. Pertanyaan yang dilontarkan awam adalah, mengapa sekian lama tidak berhasil dikembangkan vaksin anti HIV?

Pakar virologi dari Universitas Rühr di Bochum, Klaus Überla, yang sejak 15 tahun terakhir melakukan riset vaksin anti HIV secara intensif, menjelaskan sifat virus defisiensi kekebalan tubuh manusia itu.

Baca Juga

Jangan Anggap Sepele Hernia
Riset: Remaja Pengguna Vape Lebih Berisiko Jadi Perokok
Vape Ancaman Baru Remaja, Perlu Ada UU yang Tegas
Makanan Cepat Saji Tingkatkan Risiko Kanker Paru-Paru
Tekanan Akademis dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

”Sebuah poin terpenting adalah, HIV amat variabel. Dalam arti, kita tidak menghadapi satu jenis virus, melainkan sekumpulan besar virus, yang terus melakukan mutasi. Sejauh ini terdapat kesulitan untuk mengembangkan sebuah vaksin, yang melindungi kita terhadap berbagai bentuk HIV yang berbeda,” kata Überla, dikutip Deutsche Welle (05/12/2011).

Amat cerdik

Virus HIV berbeda dengan virus hepatitis A, rabies atau polio yang tidak melakukan mutasi dengan cepat, sehingga dapat dikembangkan vaksin antinya. HIV juga memiliki selaput lapisan luar protein yang berbeda-beda antara satu virus dengan virus lainnya. Selain itu HIV dapat menyamarkan dirinya sedemikian rupa, sehingga sistem kekebalan tubuh tidak mengenalinya sebagai bibit penyakit. Dengan begitu juga tidak menyerangnya.

Überla mengungkapkan lebih lanjut :”Kombinasi ini menyebabkan, juga jika antibodi antivirus terbentuk, seringkali tidak mampu mencegah penyusupan virusnya. Itu hanya mengikatnya, tanpa dampak apapun.“

Inilah alasan utama, mengapa vaksin terbaru yang dikembangkan para peneliti dari Spanyol, tidak diyakini akan dapat sukses memerangi HIV. Memang dalam ujicoba, sekitar 95 persen responden yang diimunisasi, mengembangkan antibodi antivirus HIV. Akan tetapi, apakah antibodi ini benar-benar ampuh melindungi responden dari serangan virus HIV/AIDS, tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti. Sebab sejauh ini belum ada uji klinis untuk meneliti keampuhannya.

Dalam riset pertama, para peneliti dari Spanyol melakukan proses klasik, dengan menyuntikkan virus mati berupa selaput luar protein HIV. Überla mengungkapkan hasilnya : ”Terlihat responden yang diimunisasi tidak terlindungi, walaupun mereka membentuk antibodi terhadap protein selaput virus. Antibodi ini tidak dapat mencegah virus memasuki sel sasarannya.“

Strategi baru juga gagal

Para peneliti juga mengembangkan strategi baru yang dianggap lebih ampuh. Mereka memanfaatkan kode genetika protein selaput permukaan virus HIV. Sebagai tambahan, para peneliti menyuntikkan virus influenza yang tidak berbahaya, yang mengalihkan kode genetika virus HIV ke dalam tubuh pasien yang diimunisasi. Teorinya, sel pertahanan tubuh akan memerangi protein virus HIV tsb, dan dapat mempertahankan diri jika di kemudian hari diserang virus HIV yang sebenarnya.

Namun dalam ujicoba pada manusia yang dilakukan industri farmasi Merck, terlihat hasil sebaliknya. Responden yang diimunisasi, justru meningkat risikonya terinfeksi HIV, dibanding responden yang tidak diimunisasi. Merck merasa terkejut dan segera menghentikan ujicobanya. Kesulitan riset dengan virus HIV adalah, selnya justru berkembang biak dalam sistem kekebalan tubuh. Dengan imunisasi, sel target virusnya bersiap menghadapi infeksi, dengan begitu virusnya bahkan dapat menyusup lebih baik lagi ke dalam sel target.

Vaksin kombinasi lebih menjanjikan

Dalam ujicoba vaksin AIDS di Thailand dua tahun lalu, para peneliti menguji coba vaksin kombinasi. Hasilnya, probabilitas terinfeksi HIV setelah imunisasi, turun hingga 30 persennya. Kedengarannya tidak spektakuler. Tapi pakar virologi Klaus Überla mengatakan, infeksi HIV dalam hampir semua kasus, biasanya hanya dipicu satu partikel virus yang menyusupi satu sel.

”Artinya, sebuah unsur aktif tidak perlu amat ampuh, untuk mencegah sebuah infeksi. Sebuah vaksin yang mampu mencegah separuh kasus infeksi virus, juga berarti menghindari 50 persen infeksinya”, kata Überla.

Dalam kasus HIV, juga sebuah perlindungan yang keampuhannya tidak terlalu tinggi, akan mampu meredam cukup kuat penyebaran penyakitnya. Imunisasi merupakan metode paling efektif dan juga paling murah, untuk dapat mengendalikan epidemi HIV/AIDS, kata Klaus Überla. Pakar virologi itu optimis, suatu saat nanti akan berhasil dikembangkan vaksin anti HIV semacam itu. *

Redaktur: Dija
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Swiss Periksa Aset Para Diktator
Tulisan selanjutnya Pesantren Karangasem Belajar Jurnalistik ke HMG Surabaya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT

Berita
13 Juni 2026 11:14
Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial
Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh
Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli
Wakaf Al-Qur’an, Tumbuhkan Generasi Qurani di Cibuntu

Terbaru

  • Santri Tahfidz Ar-Riyadh Tampil pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRD Bontang
  • Hijrah Digital adalah Upaya Memuliakan Waktu di Era Teknologi
  • Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
  • Wakaf Al-Qur’an, Tumbuhkan Generasi Qurani di Cibuntu
  • Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan
  • Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial
  • Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi
  • Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh
  • Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
  • Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli

Mungkin Anda Juga Suka

Kesehatan

Studi: Manfaat Utama Kopi Bagi Kesehatan Tergantung Waktu Meminumnya

15 Januari 2025 07:30
Kesehatan

Hindari Tertular HMPV, Pakar UGM Anjurkan Masyarakat Ikuti Pola Hidup Sehat

10 Januari 2025 13:20
Kesehatan

Terbukti, Konsumsi Alkohol Penyebab hampir 1 Juta Kasus Kanker di Amerika Serikat

7 Januari 2025 11:10
Kesehatan

Studi: Setiap Batang Rokok Merampas 20 Menit Kehidupan Perokok

5 Januari 2025 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?