Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Menjadi ‘Da’i yang Punakawan’

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 15 Maret 2020 12:18 12:18 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 15 Maret 2020 12:18
Bagikan
ILUSTRASI: Dai Pedalaman
Bagikan

Oleh: Zakhi Hidayatullah

 

Hidayatullah.com | “NGLURUK tanpo bolo, menang tanpo ngasorake, sekti tanpo aji, sugih tanpo bondo” (berjuang tanpa massa/pasukan menang tanpa mempermalukan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/kekuatan, dan kaya tanpa didasari kebendaan). Begitu kira-kira–yang konon katanya- ungkapan Sunan Kalijaga yang harus didengungkan kembali di era yang penuh ejek mengejek.

Kita bisa menang tanpa banyak massa, tanpa perlu men-togok- kadrun-kan harkat martabat manusia. Tanpa perlu saling menguji kesabaran antar sesama, serta tanpa memutus tali persaudaraan karena beda cara berfikir dan bersikap.

Islam di Indonesia yang kini kita nikmati merupakan masterpiece Sang Sunan bagaimana kedamaian dan kerahmatan Islam disebarkan di tanah Nusantara. Melalui syiar paling inovatif pada zamannya, yakni dengan memasukkan tokoh punakawan (pengawal) dalam dunia pewayangan, Sunan Kalijaga mampu menyelipkan unsur dan filosofi Islam melalui Semar, Gareng, Petruk dan Bagong tanpa harus secara frontal merubah keyakinan masyarakat saat itu.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Jika mempertanyakan judul di atas, memang siapa da’i-da’I  yang punakawan itu? Kemudian bagaimana metode dakwahnya ? Dan mengapa harus menjadi da’i yang punakawan?

Punakawan dalam pewayangan Jawa terdiri dari tokoh Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, dalam pewayangan kelompok ini disebut sebagai punakawan, adapun secara harfiah arti puna adalah “paham”, kawan adalah “teman”, yang memiliki maksud bahwa punakawan bukan sekedar abdi atau pengikut biasa, tapi mereka mampu menjadi penasihat spiritual, pamomong (pembimbing), teman bercengkrama, penghibur dikala susah, mampu memahami masalah, dan selalu mengajak para kesatria asuhannya untuk melakukan kebajikan.

Punakawan tidak lahir dalam cerita pewayangan Mahabarata dan Ramayana, punakawan diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebagai wujud bahwa dalam mendakwahkan Islam, maka nilai-nilai dalam ajaran Islam harus dimasukkan dalam wayang sebagai sebuah saluran yang dapat dinikmati dan diterima oleh banyak orang. Begitulah cara Sunan Kalijaga dalam melaksanakan dakwahnya yang berpatok pada ayat dakwah bil hikmah.

Para tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk dan Gareng memiliki karakter dan watak yang berbeda-beda, tetapi menjadi satu kesatuan sebagai bentuk muslim yang ideal. Semar berasal dari kata ismar, yakni seorang yang memiliki kekuatan fisik dan psikis, Semar merepresentasikan mentor yang baik bagi kehidupan, baik bagi raja maupun masyarakat umum.

Nala Gareng berasal dari kata Nala Qarin, yakni orang yang memiliki banyak teman. Gareng merepresentasikan orang yang supel, tidak egois, serta memiliki kepribadian yanh menyenangkan sehingga memiliki banyak teman.

Sedangkan Petruk merupakan kependekan dari frasa fatruk ma siwa Allah, yakni seorang yang memiliki fokus orientasi bahwa segala tindakannya untuk Allah. Ia merepresentasikan orang yang memiliki kepedulian sosial begitu tinggi dengan dasar kecintaan kepada Allah.

Dan Bagong berasal dari kata baghayang, yang berarti menolak segala hal yang bersifat buruk atau jahat. Baik pada diri sendiri atau yang terdapat pada masyarakat.

‘Dai Punakawan’

Punakawan memiliki peran aktif dalam menghidupkan jalan cerita pewayangan. Sebagai contoh, dalam cerita Semar Mbangun Kahyangan, diceritakan bahwa saat itu Semar sebagai punakawan memiliki keinginan untuk membangun Amarta yang berada dalam kondisi kritis. Para punggawa kerajaan Amarta saat itu mengalami kemunduran dengan rusaknya moral para pemimpin serta jauhnya hubungan antara penguasa dan rakyat.

Maka dari itu Semar sebagai punakawan yang bertugas sebagai penasehat para kesatria merasa cemas, hingga akhirnya ia ingin meminjam tiga pusaka kerajaan yakni Jamus Kalimasada, Payung Tunggal Naga, dan Tombah Yusdhistira beserta kelima pandawa untuk bisa ikut juga datang ke kediaman Semar di Karangbuyutan. Singkat cerita, Petruk diutus oleh Semar untuk menyampaikan maksud dan keinginan Semar tersebut, tapi Khrisna menolak dan menganggap bahwa Semar hanya memanfaatkan pandawa saja.

Melalui kisah singkat tersebut, terdapat makna mendalam. Semar Mbangun Kahyangan merupakan sebuah simbol bahwa kahyangan dalam narasi tersebut adalah jiwa dari pemimpin dan punggawa. Jika jiwa pemimpin dan punggawa baik, maka jalannya pemerintahan akan baik, sehingga kehidupan suatu negeri akan sejahtera, aman, dan tentram, kehidupan seperti inilah yang disebut layaknya hidup di Surga.

Semar sebagai pamomong para kesatria memerintahkan Petruk sebagai seorang rakyat kecil untuk menghadap penguasa, akan tetapi para penguasa Amarta mencurigai maksud baik tersebut. Ini memiliki arti bahwa pada dasarnya pemimpin itu harus mendengarkan saran meskipun dari rakyat kecil.

Maksud dari Semar dalam mengajak para Pandawa untuk membawa tiga pusaka karena ketiga pusaka tersebut tidak boleh ditinggalkan. Pusaka pertama Jamus Kalimasada bermakna dua kalimat syahadat, bahwa pemimpin harus berpegang teguh kepada Islam terutama dalam menjalankan syari’atnya, agar mendapatkan tuntutan dan keberkahan dari Sang Pencipta.

Pusaka kedua adalah Payung Tunggal Naga, dapat diartikan bahwa seorang pemimpin harus mengayomi dan melindungi rakyatnya. Kemudian pusaka yang ketiga adalah Tombak Yudhistira sebagai lambang keseimbangan dan keadilan, bukan tombak biasa yang runcing satu sisi saja.

Jika menilik dari sikap para punakawan tersebut yang kemudian dikontekstualisasikan dengan kondisi para tokoh umat saat ini, terlebih lagi da’i sebagai orang yang bersentuhan langsung dengan umat, maka nilai-nilai punakawan tersebut dapat kembali direnungkan sebagai metode dakwah. Kisah punakawan bisa menjalankan kembali fungsi da’i terutama sebagai pemberi nasehat para penguasa, pembimbing umat, serta dekat dan membersamai rakyat kecil.

‘Da’i yang punakawan’ tentu akan menjadi mata air sebagai penawar haus bagi orang-orang yang meminumnya, kehadirannya pun seperti hujan yang menyuburkan tanaman, bukan hujan yang menjadi bencana banjir untuk masyarakat. Para da’i punakawan tentu tidak akan disibukkan dengan mencari jabatan, harta, dan kekuasaan, karena semua hanyalah alat, yang terpenting adalah bagaimana Islam dapat sampai dan diaplikasikan segala lapisan umat, apalagi sampai mengatakan partai adalah solusi agar Islam menang atau menganggap bahwa harta kekayaan adalah solusi kejayaan Islam.

Tapi tentunya opini ini hanya menyampaikan bahwa da’i yang punakawan hanyalah salah satu varian bagaimana harusnya seorang da’i dalam berdakwah. Tapi namanua juga opini. Siapa saja bisa mengingkarinya. Toh yang nulis hanya fotografer, bukan ustadz.*

Fotografer Partikelir

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:daidakwahpewayanganpunakawanSunan Kalijaga
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jelajah Tadabbur Alam dan Sirah di Spanyol Andalusia [1]
Tulisan selanjutnya Masjid Al Aqsha Ditutup Sementara, Shalat di Areal Kompleks

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Amerika Tutup Misi Diplomatik di Medan dan Kota Lain di Beberapa Negara

Berita
4 Agustus 2026 20:41
Hadiri Saudi Education Expo 2026, UBN Dukung Penguatan Kerja Sama Pendidikan Indonesia-Arab Saudi
Retak dari Dalam, Tentara ‘Israel’ Memberontak di Pangkalan Sde Teiman
‘Masjidnya Rasulullah Berfungsi sebagai Sekretariat Negara’
Blackstone akan Buka Kantor di Kuwait

Terbaru

  • Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
  • Di Era AI, Perpustakaan Menjadi Benteng Informasi Sahih
  • Perang dengan Iran Kuras Persediaan Rudal Amerika Serikat
  • Waketum MUI Marsudi Syuhud Siap Maju sebagai Calon Ketum PBNU
  • Pengembangan ‘Warisan Budaya’, Dalih Zionis Perkuat Cengkraman atas Tepi Barat
  • Menko PM Luncurkan Program 10 Ribu MCK untuk Pondok Pesantren Seluruh Indonesia
  • Amerika Tutup Misi Diplomatik di Medan dan Kota Lain di Beberapa Negara
  • Suhu Udara Panas Menyulut Kebakaran di Pangkalan Militer Iraq
  • Pemimpin Hizbullah Bersedia Bertemu dengan Pemimpin Suriah
  • Kemenhaj Siapkan Sanksi Tegas Bagi Biro Umrah yang Telantarkan Jamaah

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?