Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Saatnya Umat Islam Berperan Melawan Covid-19

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 5 April 2020 08:51 8:51 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 4 April 2020 20:51
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ahmad Djalaluddin

 

Hidayatullah.com – CARA memahami wabah akan berdampak pada cara menghadapinya. Pihak yang menganggap covid-19 sebagai wabah, cenderung protektif. Tapi, bagi yang menganggapnya sederhana, biasa-biasa, akan cenderung longgar.

Bagi yang memandangnya sebagai fakta global (pandemik), tentu berbeda dengan yang melihatnya berdasar pengalaman pribadi. Yang kedua akan berkata, “Aku tetap sehat meskipun beraktivitas dan berinteraksi dengan khalayak.”

Namun menilai mashlahah  (manfaat) dan mafsadah (mudharat), tak cukup hanya berdasar pengalaman pribadi. Apalagi asumsi. Karena itu dalam ushul fiqih ditetapkan syarat objektif bagi mashlahah -mafsadah.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Maslahah itu harus hakiki (riil), bukan wahmiyah (dugaan). mashlahah  bersifat umum, bukan personal atau kelompok. Anggapan mashlahah  tak boleh bertentangan dengan nash atau ijma` dan harus sejalan dengan maqashidusy-syari’ah (tujuan syariah). Dan mashlahah bersifat i (primer, mendesak).

Demikian pula dalam mengukur mafsadah, termasuk wabah. Besar-kecilnya wabah, berbahaya atau tidak, mesti terukur. Tidak cukup dengan dugaan atau berdasar pengalaman personal.

Bagi yang memahami dunia virus, mungkin akan berpendapat bahwa covid-19 itu kecil. Bisa disembuhkan. Pandangan ini tak salah karena ia berinteraksi dengan virus di laboratorium dan mungkin juga memiliki pengalaman yang bersifat kasuistik.

Tetapi, berbeda dengan dokter yang berhadapan dengan virus yang sudah menyerang tubuh manusia. Ditambah lagi, sang dokter melihat daya dukung sarana dan prasana yang minim untuk menghadapi wabah ini.

Di manakah posisi covid-19 sekarang?

Tentunya berdasar ukuran yang hakiki, dari sudut pandang umum-makro dan bukan personal, dalam koridor dharuriyyat (primer, termasuk jiwa), dan sebagainya.

Terinspirasi dari Ibnu Mubarak, Imam Ahmad, dan lainnya yang berkata, “Bila ada perbedaan pendapat, maka perhatikanlah apa yang dihadapi oleh ahli tsagri (pejuang lapangan) karena kebenaran bersama mereka. Sebab Allah Ta`ala memberi banyak subul (jalan) kepada pejuang.” (al-Ankabut [29]: 69). (Ibnu Taimiyah, Majmu` Fatawa, 2004).

Saya pernah bertanya tentang covid-19 kepada seorang dokter yang memiliki pengalaman lapangan. Katanya, “Covid memang berasal dari hewan. Dan karena suatu hal saat ini, covid bersifat zoonotic (dapat menular ke manusia) dengan efek yang lebih dahsyat inflamasinya.”

Fakta sekarang, penyakit ini sangat cepat penyebarannya. Fasilitas kesehatan belum memadai. Alat pelindung diri (APD) sekadarnya dan sangat minim. Obat yang mujarab belum ditemukan. Imunitas masyarakat terhadap masih diragukan. Penderita sakit yang rentan boleh jadi banyak.

Apakah covid-19 wabah kecil dan ringan?

Andai, bangsa ini memiliki rumah sakit dengan fasilitas lengkap untuk menangkalnya, obat mujarab berhasil ditemukan, masyarakat memiliki imunitas yang baik, penderita sakit yang rentan terdata dengan baik, mungkin tak akan ada physical distancing. Ini tak ubahnya seperti flu biasa.

Dengan menggunakan ukuran mashlahah -mafsadah, dengan membandingkan antara fakta covid-19 dan daya dukung untuk mengadapinya, dapat dikatakan bahwa masalah ini tidaklah sederhana. Walaupun mungkin di Wuhan saat ini sudah berubah situasinya, menuju “normal”.

Maka, yang terpenting saat ini adalah melakukan langkah-langkah konkret untuk “mengecilkan” wabah ini. Seperti ungkapan, “Bila kemiskinan itu seorang lelaki, maka aku bunuh ia.” (Najib al Mistakawi, Ibnu Batutah al-Riyadli, 1988. Ungkapan ini dinisbatkan kepada Ali Radliyallahu `anhu).

Untuk mengukur wabah menggunakan konsepsi mashlahah , maka untuk memeranginya juga dengan kaidah mashlahah . Yaitu jalbu al-mashlahah  dan daf`u al-mafsadah. Melakukan segala hal yang mendatangkan manfaat dan menolak (menghindari) hal-hal yang menyebabkan kerusakan. (al-Ghazali, al-Mustashfa, 1993).

Daf`u al-mafsadah dengan cara mengurangi dan memperlambat penyebaran covid-19 melalui physical distancing, menjaga kebersihan dan imunitas diri. Dan jalbu al-mashlahah  dengan kampanye positif (jangan panik dan jangan meremehkan), serta langkah-langkah konkret.

Semua patut ambil peran. Ungkapan seorang da`i, “Kullun minna yakhdumu al-ummah min khilaali takhasshushihi, masing-masing berkhidmah untuk bangsa dengan spesialisasinya. Bersinergi, bekerja sama, ta`awun dalam kebaikan himayat al-arwah (menjaga nyawa) menghadapi wabah besar agar menjadi kecil.

Para ilmuwan berjuang membuktikan hadits: “Ketika Allah Ta`ala menciptakan penyakit, Allah `Azza wa jalla juga menciptakan obatnya.” (Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi).

Negara-negara lain sudah berusaha menemukan vaksin atau obat untuk covid-19. Mungkin mereka ingin mengeruk keuntungan di balik wabah. Mereka mengikuti tren atau menciptakan tren. Mereka berikhtiar meskipun dengan cara agak nakal dengan menguasai dunia pervirusan.

Mengapa kita tak menggunakan logika yang sama: apa yang saat ini dibutuhkan masyarakat, di situlah kita mengambil peran. Tentunya, dengan motif dan semangat yang berbeda dengan para kapitalis. Agar umat Islam tak selamanya menjadi konsumen vaksin dan obat-abatan yang meragukan.

Para pengusaha patut turut andil menambah stok alat pelindung diri (APD), agar terjangkau oleh semua lapisan tenaga medis. Juga agar masyarakat tidak takut mengurusi jenazah penderita covid-19, karena fasilitas APD terpenuhi dengan murah. Ini semua adalah ikhtiar untuk mengecilkan wabah ini.

Aghniya` (orang-orang kaya) dimungkinkan mengalihkan zakatnya untuk bidang kesehatan. Saat ini bisa mempertimbangkan pendapat yang memperluas makna sabilillah sebagai mustahiq zakat.

Sabilillah tak hanya dimaknai perang fisik. Zakat untuk menunjang penelitian tentang virus, vaksin, dan obat-obatan halal. Zakat untuk menunjang sarana bagi tenaga medis yang berada di lapangan bertarung untuk himayat al-arwah, sebagaimana perang juga untuk menjaga nyawa.

Kita berpacu dengan waktu. Bila langkah aktif sudah dilakukan (jalbu al-mashlahah), tapi mencegah penyebaran tak diperhatikan (daf`u al-mafsadah), mungkin diperlukan waktu agak panjang bagi mengecilnya covid-19. Demikian juga sebaliknya. Mashlahah itu harus dua sisi, yaitu jalbu al-mashlahah  dan daf`u al-mafsadah.  Wallahu a`lam bisshawab.*

Penulis adalah dosen Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Covid19islampandemiPeranulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketum Muhammadiyah: Jangan Tolak Jenazah Korban Covid-19
Tulisan selanjutnya Dokter: Jenazah yang Sudah Dikubur Tidak Menularkan Virus

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?