Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Negara Eropa Manfaatkan Coronavirus Sebagai Alasan Menolak Kapal Penyelamat Migran Berlabuh

Ama Farah
Terakhir diupdate: 18 April 2020 11:46 11:46 am
Ama Farah
Dipublikasikan 18 April 2020 11:46
Bagikan
Kapal Aquarius milik SOS Mediterranee penyelamat migran di Laut Mediterania..
Bagikan

Hidayatullah.com—Operator kapal-kapal swasta yang dipergunakan untuk menyelamatkan migran dan pengungsi yang terombang-ambing di Laut Mediterania sudah biasa menemui kesulitan ketika akan melabuhkan armadanya. Namun, pandemi coronavirus sekarang ini semakin menyulitkan mereka sebab negara-negara di Eropa, seperti Italia dan Malta yang terletak di kawasan Mediterania, menutup rapat-rapat pelabuhannya dengan alasan sedang lockdown dan khawatir akan penyebaran Covid-19 dari para migran.

Pemerintah Malta, contohnya, mengatakan tidak memiliki pilihan lain kecuali menutup pelabuhannya dengan alasan kurang kapasitas untuk mengoperasikannya, sebab sebagian energi saat ini diarahkan untuk memerangi pandemi Covid-19.

Sekarang ini, kebanyakan negara anggota Uni Eropa menutup perbatasan-perbatasan mereka. Pakar keimigrasian Uni Eropa Raphael Bossong, dari German Institute for International and Security Affairs (SWP), mengatakan itu merupakan tindakan sah yang diambil pada masa krisis seperti yang diakibatkan coronavirus.

Akan tetapi, bukan berarti negara-negara itu lantas bisa begitu saja memalingkan wajah mereka dari orang-orang yang meminta pertolongan, kata Bossong. “Apabila ada sebuah armada mengangkut pencari suaka di laut, maka pengecualian harus diambil dan kapal tersebut diperbolehkan memasuki pelabuhan.”

Hukum maritim internasional menyebutkan bahwa orang yang diselamatkan dari laut harus dibawa ke pelabuhan aman terdekat. 

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Kapal-kapal penyelamat seperti Alan Kurdi, yang dioperasikan oleh organisasi Sea-Eye, sudah kesulitan untuk berlabuh jauh sebelum ada wabah coronavirus, dan sekarang hampir mustahil bagi mereka untuk merapatkan kapalnya di salah satu negara Eropa terdekat.

Sekarang ini, kapal Alan Kurdi sedang melemparkan jangkar di lepas pantai Sisilia, di mana sudah sepekan lebih kru kapal dan 149 migran yang diselamatkannya menunggu kabar peluang berlabuh.

Sementara itu tampak pemandangan mengerikan di lepas pantai Malta. Hari Rabu (15/4/2020) lima mayat diciduk dari laut. Kabarnya mereka merupakan sebagian dari penumpang sebuah perahu karet migran yang karam. Menurut International Organization for Migration (IOM), 51 orang dari mereka diangkat dari laut dalam keadaan hidup oleh sebuah kapal dagang yang melintas dan diserahkan ke penjaga pantai Libya. Pihak-pihak berwenang mengatakan mereka saat ini ditempatkan di sebuah kamp pengungsi di Tripoli, ibu kota negara yang sedang berkecamuk perang saudara.

Oliver Kulikowski dari organisasi Sea Watch mengatakan bahwa meskipun Italia saat ini sedang terdampak coronavirus sangat parah, hal ini bukan berarti bisa dijadikan alasan oleh para politisi untuk mengabaikan hak asasi manusia dan hukum maritim internasional.

“Tak peduli situasinya di Eropa, orang-orang saat ini masih berusaha menyelamatkan diri dari Libya –dimana penyiksaan dan pelanggaran hak asasi manusia merupakan kekerapan sehari-hari—dengan menggunakan armada yang sangat tidak layak,” kata Kulikowski seperti dikutip DW Jumat (17/4/2020).

Tom Garofalo dari International Rescue Committee (IRC) setuju dengan penilaian bahwa mengembalikan migran dan pengungsi ke Libya tidaklah aman. “Sudah pasti bahwa membawa orang-orang itu kembali ke pelabuhan Tripoli sangat berbahaya disebabkan pertempuran yang terus berlangsung, tetapi [saat ini tidak ada alternatif lain.” 

“Pelabuhan-pelabuhan Eropa tidak ada yang menerima mereka. Tidak ada tempat yang bisa mereka tuju. Dan karena itu mereka dibawa kembali ke Libya,” kata Garafalo.

Diperkirakan saat ini sekitar 600.000 orang migran dan pengungsi ada di Libya, meskipun tidak semuanya bermaksud melanjutkan perjalanan ke Eropa, kata Garafalo. Banyak dari mereka yang pergi ke Libya untuk mencari pekerjaan dan mendapatkan uang, dengan harapan dapat pulang kembali ke negeri asalnya secepat mungkin.

Akan tetapi, kondisi peperangan yang terus berlangsung dan munculnya pandemi coronavirus kemungkinan akan mendorong para migran dan pengungsi itu untuk meninggalkan Libya.

Dalam upaya mencegah mereka nekat berangkat ke Eropa, Malta mengusulkan Uni Eropa memberikan paket bantuan kepada Libya. Rencananya, UE akan memberikan bantuan sedikitnya bernilai €100 juta berupa pangan,obat-obatan dan perlengkapan medis.

Pada Oktober 2019, mayoritas anggota Parlemen Eropa menolak proposal yang akan memberikan hak lebih banyak bagi organisasi-organisasi penyelamat migran/pengungsi. Ini artinya, solidaritas internasional di kalangan negara Eropa sudah tidak tampak sebelum masa wabah coronavirus, terlebih lagi di masa penyakit Covid-19 merajalela.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya China Revisi Perhitungan, Korban Jiwa Covid-19 di Wuhan Melonjak
Tulisan selanjutnya Asa Muslimah Kembali ke Penjara Berdakwah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?