Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Muslimah Tidak Perlu jadi Feminis

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Juni 2020 14:42 2:42 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Juni 2020 14:42
Bagikan
Bagikan

Oleh: Septiana Mahmudah

 

Hidayatullah.com | “TIDAK perlu menjadi feminis demi meraih derajat kemuliaan tertinggi, karena Islam telah menempatkan perempuanpada singgasana kemuliaannya jauh sebelum feminisme lahir.”

Ketika mendengar kata feminisme, yang terlintas dalam benak penulis adalah sebuah ideologi atau gerakan menuntut hak dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan; yang dianggap sebagai sebuah solusi agar perempuanmendapatkan posisi yang “layak” di masyarakat. Namun, ketika kata feminisme disematkan pada diri seorang Muslimah sehingga muncul istilah Muslimah feminis, seperti ada yang mengganjal. Bagaimana mungkin ideologi feminisme dan Islam yang jelas-jelas bertolak belakang dipaksa untuk sejalan?

Belum lama ini isu tentang feminisme kembali digaungkan secara masif oleh para pengusungnya. Tagar #lawanbersama, #bebasbersuara, serta kampanye lainnya yang bertujuan menuntut hak dan persamaan perempuanaktif menghiasi laman instagram dan media sosial lainnya.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Sebelum ini, para pengusung feminis berupaya mendorong pemerintah untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) yang masih menuai pro-kontra, bahkan salah satu fraksi di DPR RI dengan tegas menolak Rancangan Undang-undang tersebut. Mau tidak mau, para feminis harus bekerja lebih keras untuk mencari dukungan sana-sini. Puncaknya adalah agenda tahunan para feminis (Women’s March) yang diselenggarakan secara serentak di beberapa daerah, dengan tema besar: Kekerasan Berbasis Seksualitas dan Gender.

Mirisnya, beberapa Muslimah yang melabeli diri mereka sebagai Muslimah feminis turut berpartisipasi dalam gerakan tersebut. Mereka ikut melebur dalam barisan, serta dengan bangganya mengkampanyekan berbagai tuntutan. Misalnya, “Bukan salah baju atau tubuhku, tapi kamu yang melanggar otoritas tubuhku”, “Menjadi perempuan tidak sama dengan tunduk terhadap patriarki”, dan tuntutan lain yang dinilai agak “menggelitik” jika ditinjau dari sudut pandang seorang Muslimah yang benar-benar mempelajari Islam secara kaffah.

Islam yang menganjurkan pemeluknya untuk saling menasihati dalam kebaikan–termasuk mengingatkan tentang kewajiban berhijab, dibantah para feminis dengan dalih melanggar otoritas tubuh. Islam yang mengharuskan seorang istri taat terhadap suaminya, juga dibantah dengan alasan sistem keluarga semacam itu merupakan budaya patriarki. Dari sini saja sudah terlihat perbedaannya, bukan?

Islam yang mengharuskan para pemeluknya tunduk dan patuh pada syariat, sangat bertolak belakang dengan pandangan feminisme yang tidak ingin serba diatur alias “terserah gue”.

Saat ini, berbagai akun media sosial yang membahas hubungan antara Islam dan feminisme kian bermunculan. Tidak jarang mereka menafsirkan dan memotong ayat alquran sesuai kehendak hawa nafsunya. Jika cocok dengan ideologi mereka maka diambil sebagai referensi, jika tidak cocok maka mereka tinggalkan.

Begitu pula dengan sejarah Islam–entah dari mana mereka belajar dan mengambil sumber; mereka memaparkan tentang jejak feminis Rasulullah ﷺ, juga mengklaim bahwa Ibunda Khadijah, Ibunda ‘Aisyah serta beberapa Shahabiyah lainnya sebagai tokoh feminisme. Tentu saja, ini merupakan sebuah pemikiran yang sangat menyesatkan sekaligus mencederai sejarah Islam. Sebab, Rasulullah ﷺ dan perempuan-perempuan mulia tersebut sama sekali tidak mengenal feminisme. Adapun kesuksesan mereka dalam berbagai bidang bukan karena mereka mengusung feminisme, melainkan karena mereka mendapatkan pendidikan yang luar biasa.

Jadi, Muslimah tidak perlu ikut-ikutan mengusung ide-ide feminisme hanya untuk mendapat tempat terhormat atau hanya kepinhin diakui toleran. Tidak perlu meneladani tokoh-tokoh feminisme hanya untuk mempelajari bagaimana caranya menjadi seorang perempuan hebat yang mampu bersaing dengan kaum laki-laki, karena Islam memiliki “segudang” teladan nyata.

Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, yang mampu membawa kita menuju tempat yang sangat layak di sisi Allah. Jika kita mau tunduk dan patuh pada setiap aturan yang telah ditetapkan. Islam sudah sangat memanjakan perempuandengan menjadikan kaum laki-laki sebagai qawwam (pemimpin, pelindung) bagi perempuan, memberikan beban dan tanggung jawab yang lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Lantas, mengapa masih menuntut untuk disetarakan justru ketika Allah telah meringankan beban di pundak kita, wahai Muslimah?

Penulis peminat masalah sosial

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Setelah Kritik Peran Turki di Libya, Presiden Prancis-Rusia Lakukan Pertemuan Virtual
Tulisan selanjutnya Din Syamsuddin: Kita Melawan Kemungkaran Terorganisir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

Lentera Hidup
30 Juni 2026 10:26
Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris
Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
‘Israel’ Gelontorkan Dana untuk Ubah Situs Arkeologi Palestina Jadi Situs Yahudi

Terbaru

  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
  • Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
  • Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
  • Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
  • Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
  • Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris
  • Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
  • MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
  • Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
  • MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?