Hidayatullah.com—Presiden Prancis Emmanuel Macron akan melakukan pertemuan virtual dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan ini akan membahas masalah krisis Libya.
Juru bicara Istana Kremlin Dmitriy Peskov mengatakan kepada para wartawan di ibu kota Moskow bahwa Putin akan melakukan pertemuan dengan Macron pada Jumat ini via konferensi video.
“Ini adalah peluang besar untuk membahas situasi terkini krisis,” kata Peskov dikutip dari laman Anadolu Agency, Jum’at, (26/6/2020).
Peskov menambahkan bahwa kedua pemimpin itu akan membahas masalah Libya, Suriah dan Ukraina selama pertemuan.
“Masalah-masalah lain yang dianggap tepat oleh para pemimpin juga dapat didiskusikan,” kata dia.
Sebelumnya Menteri Luar Negeri Turki pada Rabu mengkritik komentar Presiden Prancis tentang dukungan Turki kepada pemerintah Libya yang diakui secara internasional.
Emmanuel Macron menuding dukungan Turki terhadap pemerintah Libya sebagai “permainan berbahaya.”
Turki menanggapi bahwa Prancis lah yang memainkan permainan berbahaya yang melampui batas. Mevlut Cavusoglu, Menteri Luar Negeri Turki menyoroti Prancis yang terlibat dalam kekacauan di Libya serta menekankan keberadaan dan kegiatan Prancis di Libya mengkhawatirkan.
“Keseimbangan di Libya telah tercapai berkat upaya kami. Ketika pemerintah yang sah mulai mendominasi, bahkan negara-negara yang sebelumnya berdiri di tengah, secara bertahap mereka mulai memihak kepada pemerintah yang sah,” ungkap dia.
Libya dihancurkan oleh perang saudara sejak penggulingan mendiang penguasa Muammar Gaddafi pada 2011.
Pemerintah baru negara itu didirikan pada 2015 di bawah perjanjian yang dipimpin PBB, tetapi upaya penyelesaian politik jangka panjang gagal karena serangan militer oleh pasukan Khalifa Haftar.
PBB mengakui pemerintah Libya yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj sebagai otoritas yang sah negara itu ketika Tripoli memerangi milisi Haftar.
Pemerintah meluncurkan Operasi Badai Perdamaian terhadap Haftar pada Maret untuk melawan serangan Haftar di ibu kota Tripoli, dan baru-baru ini membebaskan lokasi-lokasi strategis, termasuk Tarhuna, benteng terakhir Haftar di Libya barat.*