Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Masjid Hagia Sophia: Dari Muhammad al Fatih hingga Erdogan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Juli 2020 21:11 9:11 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Juli 2020 17:40
Bagikan
Bagikan

Oleh: Rachmad Abdullah

 

Hidayatullah.com | PEMERINTAH Sultan Muhammad Al-Fatih yang berjalan sekitar 30 tahun, merupakan sejarah hubungan kekuasaan dan peperangan antara Islam dengan Nashara, antara Timur (Asia) dan Barat (Eropa). Tidak ada sesuatu yang lebih penting dalam perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih, selain pembebasan Konstantinopel, Ibu Kota imperium Byzantium Romawi Timur.

Telah berlalu lebih dari 10 abad berbagai upaya di timur dan barat untuk mengepung dan membuka tembok besar Konstantinopel ini, namun tidak pernah berhasil. Oleh karenanya, pembebasan Konstantinopel ini adalah suatu peristiwa yang sangat besar dengan segala pengaruhnya yang begitu luas di seluruh penjuru dunia dan paling lama mempengaruhi peradaban manusia di muka bumi hingga kini.

Sultan Muhammad Al-Fatih telah mengubah gereja Hagia Sophia menjad Masjid Hagia Sophia atau dikenal Ayasofya. Masjid Ayasofya bukan hanya sekedar simbol tempat ibadah bagi umat Islam berupa masjid. Namun, pengubahan gereja menjadi masjid pun merupakan simbol dominasi Islam Atas Dunia. Sultan Muhammad Al-Fatih telah merealisasikan hadits nabawi sehingga meraih kemenangan besar dalam membuka Konstantinopel (857 H/1453 M).

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Jika ada ungkapan,”Seandainya bumi ini dijadikan satu Kerajaan, maka Konstantinopel adalah Ibu Kota yang paling tepat untuknya.”

Juga cita-cita Jengiz Khan Mongol,”Hanya ada satu Tuhan di langit, hanya ada satu Raja di bumi”, maka Sultan Muhammad Al-Fatih yang hendak mewujudkannya.

Sultan Muhammad Al-Fatih mengganti namanya dengan Islambul (Ibu Kota Islam) dan bertekad menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Islam seluruh dunia. Sedangkan Masjid adalah simbol teragung di pusat Ibu Kota Islam, Islambul, ”Hanya boleh ada satu Kerajaan di bumi, hanya ada satu Islam dan satu kedaulatan di dunia.”

Seakan mengisyaratkan: Satu ilah (Allah), satu Rasul terakhir (Muhammad ﷺ), satu kitab suci terakhir (Al-Qur’an), satu umat (muslim) dan satu wilayah Kerajaan Islam seluruh bumi, daratan dan lautan.

Erdogan mengubah Hagia Sophia menjadi masjid, telah mengikuti jejak Sultan Muhammad Al-Fatih. Selanjutnya, apakah perlu mengubah nama Istanbul menjadi Islambul lagi?

Sedangkan cita-cita Erdogan yang sebelumnya telah disampaikan akan membebaskan Masjid al-Aqsha, seakan hendak meniti langkah Yavuz Salim yang meraih kemenangan dalam Perang Marj Dabiq (1516).

Akankah Erdogan berhasil? Mungkinkah ia akan bertekad mengembalikan kekhalifahan Utsmani seperti masa Yavuz Salim (1517), seperti yang ia janjikan? Atau hendak menguasai kembali Afrika, Asia dan Eropa serta menyatukan umat Islam dunia?, bahkan hendak membebaskan Roma di Italia?

Siapapun pemimpinnya, cita-cita membebaskan Roma adalah cita-cita umat Islam di akhir zaman.Wallahu a’lam.

Dari Abu Qubail,”Kami berada di sisi Abdullah bin Amr bin Ash dan beliau ditanya tentang kota mana yang dibuka terlebih dahulu, apakah Konstantinopel ataukah Romawi? Maka beliau meminta untuk diambilkan sebuah kotak, lalu beliau mengeluarkan sebuah kitab lalu berkata: “Abdullah bin Mas’ud Berkata: Tatkala kami bersama Rasulullah ﷺ untuk menulis, tiba-tiba beliau ditanya: Manakah kota yang telebih dahulu dibuka, apakah Konstantinopel ataukah Romawi?. Maka beliau menjawab,”(Kota) yang terlebih dahulu dibuka adalah kota Heraklius”, yaitu Konstantinopel.”*

Penulis Sulaiman Al-Qanuni & Yavuz Salim

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al AqshaErdoganHagia SophiaislamMasjid Al AqshaMasjid Hagia SophiaMasjidl AqshapalestinaTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jarak 1,6 KM dari Masjid Hagia Sophia Sesak Dipenuhi Jama’ah Shalat Jum’at Perdana
Tulisan selanjutnya Adzan Pertama Sejak 86 Tahun Berkumandang dari 4 Menara Masjid Hagia Sophia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?