Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Rancangan Undang-undang Baru Mesir Menarget Otonomi Al-Azhar

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 5 Agustus 2020 09:40 9:40 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 5 Agustus 2020 09:25
Bagikan
Bagikan

Oleh: Sam Hamad

 

Hidayatullah.com | SALAH satu perbedaan paling mencolok antara rezim otoriter dan totaliter adalah yang pertama berusaha untuk melenyapkan musuh-musuhnya, yang kedua berusaha meniadakan segala sesuatu yang berfungsi sebagai otonomi darinya – bahkan jika hal tersebut menimbulkan risiko langsung yang sangat kecil terhadap keseimbangan rezim.

Tepat seperti itulah bagaimana kita harus melihat langkah yang diambil oleh tiran Mesir Abdel Fattah al-Sisi, yang untuk pertama kalinya dalam 1.000 tahun, membawa salah satu lembaga Al-Azhar ke bawah kendali rezim.

Seperti modus operandi kontra-revolusioner totaliter Mesir, parlemen-pseudo yang dipenuhi loyalis Sisi telah mensahkan sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang akan memisahkan Darul Ifta, sebuah badan yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan fatwa dan memberi masukan untuk pengadilan terkait masalah-masalah Islam, dari Al-Azhar, yang telah menjadi pengawasnya sejak pertama kali dibentuk pada abad ke 19.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Al-Azhar dianggap sebagai pusat pendidikan, pengetahuan dan yurispundensi paling penting dalam dunia Islam Sunni. Universitas dan masjidnya didirikan oleh Syiah Ismailiyah dinasti Fatimiyah pada abad ke 10, dengan tujuan mendidik orang-orang di bidang, tidak hanya hukum Islam dan teologi, namun juga astronomi, filosofi, sains, ilmu kedokteran dan logika.

Darul Ifta yang pada awalnya menjadi lembaga yang mempertahankan hubungan yang seimbang Al-Azhar dengan Muslim Mesir dan sarana melalui sistem ulamanya dapat mempengaruhi negara sekuler. Dalam semangat otonomi dari otoritas inilah Al-Azhar sering bertindak sebagai pusat perbedaan pendapat yang progresif. Dari Al-Azhar lah tokoh-tokoh besar perlawanan terhadap tirani imperialis dan domestik, seperti Ahmed Orabi, Saad Zaghloul dan Mohamed Abduh, muncul.

Poinnya tentu saja Sisi ingin memastikan bahwa tidak akan pernah akan ada lagi tokoh seperti Orabi atau Abduh modern.

Tidak mengherankan bagi siapa pun yang memahami bahwa keinginan Sisi adalah untuk mengendalikan setiap aspek kehidupan Mesir, baik spiritual maupun material, bahwa ia ingin membatalkan otonomi Al-Azhar.

Tetapi apa yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya adalah bahwa dia mengambil tindakan ini dengan sangat terang-terangan.

Perlindungan Darul Ifta akan direbut dari Al-Azhar dan ditempatkan di bawah kendali rezim. Dengan kata lain, mekanisme konkrit yang pengaruh Al-Azhar masuki ke kehidupan dan hukum Islam di Mesir tidak akan ada lagi; sebagai gantinya, rezim Sisi akan dapat mengukir untuk dirinya sendiri sebuah visi Islam yang sejalan dengannya.

Al-Azhar akan diharuskan membentuk keputusan keagamaannya berdasarkan kebijakan rezim Sisi. Ironisnya, mengingat ketakutan akan “Islamisme”, ini secara efektif mengubah Sisi menjadi otoritas agama tertinggi di negara ini. Itu mungkin ditafsirkan sebagai hiperbola, tetapi jika Sisi mengontrol Dar al-Ifta dan dapat menolak dan menunjuk Mufti Besar berdasarkan pada kesetiaan, kesimpulan apa lagi yang bisa dicapai?

Kekuatan yang dilucuti dari Al-Azhar, terlepas dari apa yang anda pikirkan tentang kekuatan semacam itu, telah diserap oleh Sisi, dan merupakan kendali lain atas rakyat Mesir.

Sisi telah secara efektif dan belum pernah terjadi sebelumnya merebut setiap lembaga negara. Rezimnya, seperti yang telah kita lihat secara brutal, memiliki kekuasaan atas tubuh dan pikiran orang Mesir. Masuk akal – jika Anda menganggap pemerintahannya sebagai proses transisi totaliter – baginya untuk mencoba memonopoli jiwa orang-orang yang dikuasainya.

Sisi tidak akan ke mana-mana dalam waktu dekat, tetapi masanya akan tiba, baik melalui usia tua atau sakit, ketika Sisi tidak lagi menjadi presiden Mesir.*

 

Sam Hamad adalah aktivis dan penulis independen Skotlandia-Mesir. Artikel pertama kali dimuat di The New Arab.

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al Azharal SisiDarul Ifta’MesirRezim MesirSisi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Inilah Suara Muslim India Jelang Peresmian Kuil Dewa Rama di Reruntuhan Masjid Babri
Tulisan selanjutnya Sebelum Kuliah, Beradablah dan Pahami Islami Worldview

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?