Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Mengenang Sang Mayor: KH Fathul Mu’in Dg Maggading Pejuang Tanpa Pamrih

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Agustus 2020 13:35 1:35 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Agustus 2020 13:35
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | PERAYAAN kemerdekaan Indonesia yang ke-75 ini seharusnya menjadi salah satu moment mengenang kembali perjuangan para pahlawan dan masyarakat Indonesia masa lalu dalam upaya melepaskan negeri ini dari tangan para penjajah. Selanjutnya sebagai “model” bagi generasi muda hari ini yang identitasnya telah banyak digerus oleh zaman. Olehnya itu, pada kesempatan ini kita akan kembali mengenang salah satu pelopor gerakan pemuda untuk merebut kembali kemerdekaan khususnya di tanah Maros Sulawesi Selatan.

Literatur sejarah menyebutkan bahwa Belanda telah menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Bersamaan dengan itu generasi pejuang terus hadir seiring dengan silih bergantinya waktu. Walaupun angka ini masih diperselisihkan oleh para ahli sejarah, tapi minimal ini memberikan gambaran kepada kita betapa lama dan sulitnya masa-masa yang dilalui masyarakat bangsa ini di era penjajahan.

Perang merebut kemerdekaan dan melepaskan diri dari segala bentuk penjajahan tidak pernah berhenti. Sebagaimana semboyan para pejuang kemerdekaan “mati satu tumbuh seribu”.

Gugur sebagai seorang pejuang adalah salah satu makna kata “jihad” yang dipahami dalam Islam. Bagi seorang muslim, meninggal sebagai seorang yang bebas (baca: merdeka) jauh lebih berharga daripada hidup sebagai pecundang yang terjajah.

Perlawanan merebut kemerdekaan Indonesia terus berkecamuk., Tahun 1945 sampai dengan tahun 1949 merupakan puncak perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Bangsa Indonesia yang bertanah air berkeinginan kuat untuk hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Tekad mereka hanya satu, merebut kemerdekaan yang ditempuh dengan jalan menolak dan menentang penjajahan.

Rentetan peristiwa setelah Proklamasi Kemerdekaan memberikan warna tersendiri dalam sejarah panjang Sulawesi Selatan.

Pascaproklamasi, daerah ini masih terlibat dalam perang yang tidak berkesudahan karena upaya Belanda yang ingin kembali berkuasa dilawan secara terbuka oleh para pejuang yang ingin mempertahankan kemerdekaan.

Hampir di seluruh daerah terjadi pembentukan organisasi kelaskaran. Para bangsawan dan para pemuda pejuang saling bergandengan tangan menyusun kekuatan untuk membangun perlawanan meski memakan korban yang tidak sedikit jumlahnya.

Salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang melakukan perlawanan sengit terhadap penjajah Belanda adalah daerah Maros yang memang berbatasan langsung dengan kota Makassar.

Meskipun kemerdekaan telah dikumandangkan dengan resmi pada 17 Agustus 1945, namum tentara Belanda belum sepenuhnya meninggalkan wilayah Indonesia termasuk di Maros. Ketidakinginan penjajah meninggalkan Maros menyulut perlawanan dari pemuda dan masyarakat.

Kota Maros memiliki sederat nama pejuang yang tidak akan pernah dilupakan dalam sejarah merebut kemerdekaan. Salah satu di antara mereka adalah seorang pemuda pemberani yaitu Fathul Mu’in Dg. Maggading. Namanya tercatat indah dalam sejarah perjuangan Maros.

Di masa mudanya, selain sebagai aktivis Muhammadiyah mengikuti jejak ayahnya H. Ba Alwi, Fathul Mu’in muda adalah seorang yang sangat aktif sebagai pejuang kemerdekaan.

Sumbangsih besarnya adalah di bulan Januari 1946 ketika sebuah peristiwa heroik terjadi. Para pemuda yang dipimpin oleh Fathul Mu’in Dg. Maggading menurunkan bendera Belanda di depan rumah Controleur. Bendera Belanda yang berwarna merah, putih, dan biru itu dirobek bagian birunya oleh Dg. Maggading. Bendera yang menyisakan warna merah dan putih itu kemudian dipertontonkan kepada masyarakat di depan kantor Karaeng Turikale.

Peristiwa ini memiliki makna yang sangat dalam bahwa masyarakat Maros adalah masyarakat pejuang yang siap berkorban untuk melepaskan bangsa dan negara ini dari segala bentuk penjajahan. Karena peristiwa heroik inilah pemerintah Kota Maros mengabadikan bulan Januari sebagai salah satu momentum penting hari lahirnya Kabupaten Maros yaitu 4 Januari 1471.

Keterlibatannya dalam perjuangan merebut kemerdekan diapresiasi oleh pemerintah dengan penganugrahan pangkat militer Mayor kepada Fathul Mu’in Dg. Maggading. Bagi Fathul Mu’in, penyematan gelar dan pangkat ini bukanlah hal penting karena perjuangannya tidak didasari ambisi mengejar jabatan dan pangkat.

Semuanya didasari oleh motivasi iman dan Islam bahwa setiap muslim tidak boleh hidup sebagai seorang budak yang terjajah tapi ia harus bangkit merdeka (baca: bebas) melaksanakan perintah syariat.

Inilah semangat dari semboyan “Al-Islam A’la wa La Yu’la Alaihi“ (Islam itu tinggi dan tidak ada yang bisa mengalahkan ketinggiannya). Dengan adanya semangat seperti ini, maka tidak pantas seorang muslim hidup terhina dalam penjajahan.

Perjuangannya semata karena tuntunan agama Islam yang ia yakini sebagai bagian dari ibadah. Ibadah tidak membutuhkan pamrih dari manusia.

Ini terbukti karena dalam perjalan kehidupan K.H. Fathul Mu’in Dg. Maggading pascakemerdekan tidak pernah mengambil gaji veteran sepeserpun. Padahal sebagai veteran pejuang kemerdekaan bergelar mayor penghargaan pemerintah itu sangat layak diterimanya.

Terkait K.H. Fathul Mu’in yang menolak untuk menerima gaji veterannya, dibenarkan oleh Ayyadah, salah seorang anak perempuan K.H. Fathul Mu’in. Ia menceritakan bahwa ia pernah bertanya mengapa ayahnya tidak pernah mengambil gajinya sebagai seorang veteran kemerdekaan?

Ayahnya dengan penuh kesederhanaan menjawab, “Cukuplah Allah yang membalas semuanya.”

Persitiwa heroik inilah yang membuatnya begitu dihormati dan disegani masyarakat secara umum dan elit pemerintah kota Makassar secara khusus.

Terlebih ketika ia memimpin organisasi Muhammadiyah Makassar, baik sebagai ketua cabang maupun ketika menjadi pimpinan daerah Muhammadiyah.  Elit pemerintah kota Makassar mengenal baik sosok seorang K.H. Fathul Mu’in Dg. Maggading dan jasa-jasanya kepada negara ini. Sehingga dalam berinteraksi dengannya, elit pemerintah juga memiliki keseganan tersendiri.*/ Syandri Syaban, Lc. M.Ag. Alumni International Islamic University Islamabad Pakistan. Dosen STIBA Makassar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:KH Fathul Mu’in Dg MaggadingMarosmerdekaPejuanga Kemerdekaan Sulewesi Selatan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ‘Israel’ Telah Bombardir Gaza Selama Sepekan
Tulisan selanjutnya Coronavirus Telah Membunuh >50.000 Orang di India

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI Matangkan Persiapan Kongres Umat Islam Indonesia VIII, Bahas Isu Strategis Keumatan dan Kebangsaan

Berita
9 Juli 2026 18:30
Mengenang Pembantaian Srebenica, Ribuan Peserta Susuri Rute Pelarian Korban Genosida
Amerika Serikat Kembali Serang Iran, Berdalih Bela Warga Sipil
Dua Anggota Basij Tewas Dalam Serangan di Mashhad Iran
MUI Jabar Berencana Bentuk Satgas dan Posko Anti LGBT, Terima Dukungan Puluhan Ormas dalam Audiensi

Terbaru

  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?