Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Museum di India Berencana Pamerkan Sejarah Penguasa Mughal, akan Diubah Demi Menghapus Sejarah Muslim

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 19 September 2020 16:50 4:50 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 19 September 2020 16:50
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Sebuah museum di Agra yang direncanakan menampilkan sejarah para penguasa Mughal yang Muslim dan budaya mereka. Sayangnya mereka akan mengubah menjadi nama raja Hindu dan menampilkan sejarah Hindu.

Museum ini dimaksudkan untuk memamerkan senjata, seni dan kebiasaan Mughal, penguasa Muslim yang memerintah di anak benua India dari abad ke-16 hingga ke-18. Perubahan ini menunjukkan kebangkitan kembali nasionalis ekstrim Hindu di India.

Tetapi para pejabat pada pekan ini di Agra, tempat Taj Mahal berada – contoh arsitektur era Mughal yang paling terkenal di dunia dan bangunan paling terkenal di India – memiliki gagasan lain: perombakan total dengan menjadikannya museum yang memamerkan para pemimpin dan sejarah mayoritas Hindu India.

Perombakan pada bangunan yang direncanakan berfungsi sebagai museum adalah contoh terbaru dari kebangkitan nasionalis ekstrim Hindu yang melanda negeri itu. Kebangkitan sentiman anti-Islam didorong oleh perdana menteri panutan para nasionalis, Narendra Modi.

Kritik terhadap pemerintah mengatakan bahwa Modi dan pendukungnya mengipasi api perpecahan agama, merusak pondasi sekuler India dan menulis ulang sejarah negara itu demi menghapus pencapaian Muslim dari sejarah.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Tanah untuk museum telah dibebaskan pada tahun 2016 setelah pembiayaan disetujui oleh pemerintahan sebelumnya, tetapi hanya sedikit kemajuan yang dicapai dalam pembangunannya.

Yogi Adityanath, kepala menteri Uttar Pradesh, negara bagian di mana Agra berada, mengatakan pada Senin bahwa dia tidak akan mengizinkan para penguasa Muslim India diagungkan dengan museum semacam itu dan museum tetap akan dibangun dengan nama Chhatrapati Shivaji Maharaj, seorang raja Hindu abad ke-17.

“Bagaimana Mughal bisa menjadi pahlawan kita?” Adityanath bertanya, menurut transkrip pemerintah dari pernyataannya. Seolah-olah kembali pulang dari India saat ini, Hinduisme dan patriotisme semakin terjalin, dia menambahkan, “nama Shivaji sendiri akan membangkitkan perasaan nasionalisme dan harga diri,” kutip laman NYTimes.

Adityanath, anggota Partai Bharatiya Janata (BPJ) pimpinan Modi, sangat memusuhi pengakuan sejarah Muslim negara tersebut sehingga ketika ia menjabat pada tahun 2017 ia mempertimbangkan untuk menghilangkan gambar Taj Mahal dari brosur pariwisata negara bagian.

Upaya-upaya anti-Muslim semacam itu di Uttar Pradesh, termasuk inisiatif untuk mengubah nama kota dan tempat bersejarah Muslim dengan nama lain, mencerminkan tren nasional yang lebih besar.Mahkamah Agung India tahun lalu memutuskan mendukung mayoritas Hindu, secara efektif memberi lampu hijau pada pembangunan kuil Hindu di situs tempat sebuah masjid berdiri sebelum ekstremis Hindu menghancurkannya pada tahun 1992.

Tak lama kemudian, Parlemen India mengesahkan undang-undang yang merupakan diskriminasi terhadap imigran Muslim yang mencari kewarganegaraan. Undang-undang tersebut memicu protes jalanan besar-besaran di seluruh negeri, tetapi sebelum demonstrasi dapat mengganggu agenda Modi, virus corona menyerang dan perdana menteri itu memberlakukan penguncian nasional yang ketat.

Muslim membentuk 14 persen dari populasi India, tetapi mereka semakin diserang, baik secara fisik – telah terjadi peningkatan tajam dalam kekerasan terhadap Muslim – dan secara politik. Saat India terus berjuang dengan puluhan ribu kasus virus corona baru, umat Islam dituduh sebagai penyebar super penyakit tersebut.

Shahid Siddique, seorang Muslim dan mantan anggota Parlemen, mengatakan kontroversi museum adalah contoh terbaru dari nasionalis Hindu yang berusaha untuk menghapus sejarah Muslim.  “Agra bukanlah kota Shivaji,” katanya tentang raja India yang namanya akan disandang museum itu. “Tapi di kota Taj, kota Mughal, Anda tidak bisa memiliki Museum Mughal,” katanya dengan nada tidak percaya.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HinduIndiamuseumMuslimNarendra ModiPenguasa Mughal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 1 dari 1.500 Orang di Jepang Berusia 100 Tahun, Kemungkinan Perempuan
Tulisan selanjutnya pemberontak libya Jenderal Haftar Siap Cabut Sementara Blokade Minyak Libya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?