Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Turki Akan Terus Mendukung Pemerintah Libya Meski Al-Sarraj Mundur

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 22 September 2020 09:35 9:35 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 22 September 2020 09:35
Bagikan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan) dan Perdana Menteri Libya Fayez al-Sarraj (kiri) mengadakan konferensi pers bersama di Kompleks Presiden di Ankara, Turki pada 4 Juni 2020 [Metin Aktaş / Anadolu Agency]
Bagikan

Hidayatullah.com—Turki akan terus mendukung pemerintah Libya yang diakui secara internasional meskipun Perdana Menteri Fayez Al-Sarraj mengumumkan akan mundur, Ibrahim Kalin juru bicara Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan.

Al-Saraj mengatakan pekan lalu bahwa ia berencana untuk mundur pada akhir bulan depan.

Ibrahim Kalin mengatakan pada hari Senin (21/9/2020) bahwa dukungan Turki untuk Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang berbasis di Tripoli dan perjanjian bilateral mereka akan terus berlanjut. Perjanjian tersebut mencakup pakta keamanan dan kesepakatan demarkasi maritim yang ditandatangani tahun lalu.

“Kesepakatan ini tidak akan terpengaruh oleh periode politik ini karena ini adalah keputusan yang dibuat oleh pemerintah, bukan oleh individu mana pun,” kata Kalin kepada Kantor Berita Demiroren.

Akhir tahun lalu, Ankara mencapai kesepakatan dengan GNA yang dikatakan memberi Turki hak pengeboran di koridor Mediterania Timur – sebagian besar di dalam yurisdiksi maritim juga diklaim Yunani. Yunani, Siprus dan aktor regional lainnya mengecam perjanjian Turki-Libya sebagai “ilegal”, yang dibantah oleh Turki.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Kalin mengatakan para pejabat Turki akan melakukan perjalanan ke Tripoli “dalam beberapa hari mendatang” untuk membahas perkembangan setelah pengumuman al-Sarraj.

Erdogan juga mengisyaratkan pembicaraan yang akan datang ketika dia menyatakan penyesalan atas niat sekutu dekatnya untuk menyerahkan kekuasaan pada akhir Oktober.

“Perkembangan seperti itu, menerima berita semacam ini setelahnya, tentu saja menyedihkan bagi kami,” kata Erdogan, Jumat.

“Kami juga sampaikan beberapa kabar ke dia,” imbuhnya. “Dengan pertemuan-pertemuan ini, Insya Allah kami dapat mengarahkan masalah ini ke arah yang seharusnya,” lanjut Erdogan, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Sejak 2014, Libya yang kaya minyak telah terpecah antara kekuatan saingan yang berbasis di barat dan di timur, dalam perang yang terkadang kacau yang telah menarik kekuatan luar dan banjir senjata dan tentara bayaran asing.

Al-Sarraj telah memimpin GNA sejak pembentukannya pada akhir 2015 sebagai hasil dari perjanjian politik yang ditengahi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perjanjian tersebut bertujuan untuk menyatukan dan menstabilkan Libya setelah kekacauan yang terjadi setelah penggulingan pemimpin lama Muammar Gaddafi pada tahun 2011.

Dukungan militer Turki untuk GNA pada bulan Juni memungkinkannya untuk mengusir serangan selama 14 bulan oleh pasukan yang setia kepada komandan pemberontak yang berbasis di timur Khalifa Haftar, yang didukung oleh Uni Emirat Arab, Mesir dan Rusia.

GNA mengumumkan gencatan senjata bulan lalu dan menyerukan pencabutan blokade selama berbulan-bulan pada produksi minyak. Pemimpin parlemen saingan di Libya timur juga meminta penghentian permusuhan, menawarkan harapan untuk meredakan konflik di Libya sejak pemberontakan tahun 2011.

Haftar menolak seruan itu, tetapi mengatakan pada hari Jumat bahwa dia akan mencabut selama satu bulan blokade pada produksi minyak dan bahwa dia telah setuju dengan GNA tentang “distribusi yang adil” dari pendapatan energi.*

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ErdoganIbrahim KalinLibyaSarrajTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PD Salimah Denpasar Adakan PKPS Menuju “Ormas Perempuan Pelopor”
Tulisan selanjutnya Anggota Baleg: RUU Ketahanan Keluarga Perlu Perhatikan Aspek Sosiologis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?