Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Human Rights Watch: Muslim Rohingya Hidup di Bawah Rezim Apartheid di Myanmar

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 9 Oktober 2020 10:23 10:23 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 9 Oktober 2020 10:23
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Myanmar telah melaksanakan kebijakan apartheid terhadap sekitar 130.000 Muslim Rohingya. Etnis minoritas itu terperangkap di kamp-kamp pengungsian di negara bagian Rakhine yang dilanda konflik setidaknya selama delapan tahun, kata Human Rights Watch (HRW), Kamis (08/10/2020), Daily Sabah melaporkan.

HRW menuduh pemimpin sipil Aung San Suu Kyi terlibat dalam konflik dan penganiayaan Muslim Rohingya, beberapa minggu sebelum pemilihan nasional.

“Pemerintah Myanmar telah menahan 130.000 Rohingya dalam kondisi tidak manusiawi selama delapan tahun, terputus dari rumah, tanah dan mata pencaharian mereka, dengan sedikit harapan bahwa keadaan akan membaik,” kata laporan setebal 170 halaman itu.

Laporan tersebut menggambarkan 24 kamp interniran dan pemukiman seperti kamp yang sebagian besar di sekitar ibu kota negara bagian Rakhine, Sittwe, sebagai “di luar martabat setiap orang”. Muslim Rohingya dipisahkan dari masyarakat lainnya dan menghadapi masa depan yang tidak pasti sambil menderita pelanggaran hak asasi manusia yang berat.

Di antara pelanggaran hak yang tercatat adalah penolakan kebebasan bergerak seperti pendirian pos pemeriksaan dan pagar kawat berduri di sekitar kamp dan desa Rohingya, serta “pemerasan yang meluas”. Mereka yang ditemukan di luar kamp juga dilaporkan mengalami penyiksaan dan pelecehan lainnya oleh pasukan keamanan, kata laporan itu.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Ratusan ribu Muslim Rohingya membanjiri perbatasan Myanmar dengan Bangladesh setelah gelombang serangan anti-Rohingya pada musim panas 2017. Ribuan orang terbunuh dalam kekerasan itu, dan mereka yang terpaksa melarikan diri menghadapi kemiskinan yang parah dan ancaman penyakit di kamp-kamp yang dibangun secara kasar di Bangladesh.

Myanmar berulang kali membantah tuduhan genosida, dengan mengatakan operasi militernya pada 2017 menargetkan militan Rohingya yang menyerang pos perbatasan polisi. Setidaknya 9.000 Rohingya tewas di negara bagian Rakhine dari 25 Agustus hingga 24 September 2017, menurut Doctors without Borders (MSF).

Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) sedang menyelidiki kejahatan terhadap kemanusiaan berupa deportasi paksa Rohingya ke Bangladesh, serta penganiayaan dan tindakan tidak manusiawi lainnya.

Menurut angka PBB, anak-anak merupakan lebih dari setengah dari sekitar 700.000 orang Rohingya yang tiba di Bangladesh pada 2017 setelah eksodus massal dari Myanmar. Lebih dari 350 kasus perdagangan Rohingya teridentifikasi tahun lalu, sekitar 15% melibatkan anak-anak, menurut badan migrasi PBB.

Pada Mei, para pekerja bantuan khawatir pandemi virus korona dapat berdampak besar di kamp-kamp yang padat, karena wabah mematikan telah mendorong pemerintah untuk memberlakukan lebih banyak pembatasan pergerakan sebagai bagian dari upaya untuk menahan penyebaran penyakit. HRW meminta pemerintah Myanmar dan militer untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memberikan lebih banyak kebebasan kepada Rohingya yang tetap tinggal di negara tersebut.

PBB menggambarkan operasi pasukan keamanan Myanmar sebagai pembersihan etnis. Rohingya tanpa kewarganegaraan telah menjadi sasaran kekerasan komunal dan sentimen kejam anti-Muslim di Myanmar yang sebagian besar beragama Buddha selama bertahun-tahun.

Myanmar telah menolak kewarganegaraan Rohingya sejak 1982 dan mengecualikan mereka dari 135 kelompok etnis yang diakui secara resmi, yang secara efektif membuat mereka tanpa kewarganegaraan.*

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:apartheiddiskriminasiMuslimmyanmarrasismeRohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemerintah Sesalkan Demo Omnibus Law Ricuh, Tegaskan UU itu untuk Sejahterakan Rakyat
Tulisan selanjutnya KSPI: DPR Lakukan Penghianatan Atas Kesepakatan Bersama Buruh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?