Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Empati…

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 April 2014 08:13 8:13 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 April 2014 08:13
Bagikan
Karena kemampuan untuk ber-empati ini sangat diperlukan khususnya bagi yang ingin menjadi pemimpin
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

BELUM lama ini di telivisi disajikan  sebuah wawancara yang menarik tentang seorang walikota di negeri ini. Sepanjang wawancara berulang kali si walikota menangis ketika menceritakan penderitaan dan duka rakyatnya. Itulah empati, kemampuan untuk bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Empati adalah sesuatu yang barangkali kini langka di negeri ini, sesuatu yang sangat dibutuhkan kehadirannya oleh rakyat tetapi nyaris tidak ada lagi di negeri ini.

Seandainya empati masih ada di sini, tidak akan ada wanita-wanita negeri ini yang harus meninggalkan keluarganya demi sesuap nasi di negeri-negeri yang jauh yang sangat berbeda dalam segala hal, di negeri-negeri yang sampai mereka terancam hukuman mati.

Seandainya empati masih ada di sini, tidak diperlukan lagi hambur-hamburan uang untuk memperoleh sympathy sesaat dari rakyat yang sedang dibujuk untuk memilih, tetapi setelah itu mereka dilupakan kembali.

Seandainya empati ada di sini, tidak akan ada kebijakan yang mencekik rakyat dengan beban biaya hidup yang semakin berat, tidak akan ada kebijakan yang memojokkan rakyat untuk bertarung secara langsung  head to head dengan jaringan pasar global – pemilik 99 ekor kambing yang mengambil kambing satu-satunya milik rakyat.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Empati nyaris tidak ada lagi di negeri ini karena empati bukan something to get – bukan sesuatu yang ujug-ujug bisa dimiliki seseorang hanya dengan membagi-bagikan uang atau sembako di musim kampanye. Empati adalah something to earn, sesuatu yang diperoleh dengan susah payah – dibangun dengan langkah-langkah kongkrit yang lama sampai dia secara perlahan terinternalisasi dalam diri seseorang.

Contoh puncak Empati itu ada dalam diri uswatun hasanah kita seperti yang dikabarkan langsung olehNya :

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS at-Taubah [9]: 128)

Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam disebut uswatun hasanah – contoh terbaik, karena apa yang ada pada diri beliau memang bisa menjadi contoh bagi umatnya sepanjang jaman, termasuk dalam hal Empati ini. Bahkan empati ini juga menjadi salah satu prophetic values – nilai-nilai kenabian dari seluruh nabi.

Bagaimana seluruh nabi-nabi Allah membangun empati pada dirinya ini? Selain dengan wahyu yang diterimanya, ternyata mereka juga melakukan pelatihan empati yang sama, yaitu dengan menggembalakan kambing.

“Setiap Nabi yang diutus oleh Allah adalah menggembala kambing”. Sahabat-sahabat beliau bertanya : “Begitu juga engkau ?” ; Rasulullah bersabda : “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Makkah.” (HR:  Bukhari)

Apa hubungannya antara empati dengan menggembala kambing ini?

Seorang penggembala melatih ‘komunikasi’ dengan gembalaannya. Meskipun kambing-kambing atau domba-domba yang digembalakannya tidak bisa bicara ketika perutnya lapar, tidak bisa mengeluh ketika sakit – si penggembala tetap harus tahu dan dapat merasakan kapan gembalaannya lapar dan kapan gembalaannya sakit.

Bila dengan binatang saja sang gembala bisa ‘bicara’ dan merasakan apa yang dirasakan gembalaannya, apalagi dengan manusia yang bisa bicara, bisa protes, punya hak suara untuk memilih dlsb – sudah seharusnya para pemimpin harus mampu ber-empati terhadap mereka.

Karena kemampuan untuk ber-empati ini sangat diperlukan khususnya bagi yang ingin menjadi pemimpin, barangkali kini waktunya untuk memberikan pendidikan dan pelatihan menggembala kambing atau domba kepada anak-anak sejak dia di bangku sekolah dasar sampai kelak ketika  hendak menjadi pemimpin, bahkan juga ketika mereka menjabat. Karena para nabi-pun ada yang menggembala sewaktu kecil, ada yang menggembala sampai dia menjadi nabi.

Kelak bila kesadaran untuk membangun empati ini muncul, saya membayangkan lahan-lahan gembalaan akan dipenuhi para caleg, para (calon) pemimpin dari tingkat lurah sampai (calon) presiden yang sedang mempersiapkan diri untuk membangun empati-nya.

InsyaAllah ini akan lebih efektif dari pembekalan-pembekalan di hotel bintang lima, seminar-seminar, pelatihan pra jabatan dan sejenisnya. Murah, efektif dan mengikuti sunnah para nabi. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Siswi Hidayatullah Batam adakan Bazar
Tulisan selanjutnya Tuntut Makanan Halal, Gubernur Xinjiang sebut Muslim Larang Warga Tertawa dan Menangis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?