Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Pasukan Khusus Australia Lakukan Kejahatan Perang di Afghanistan

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 20 November 2020 13:22 1:22 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 20 November 2020 13:22
Bagikan
Pasukan khusus Australia (EPA)
Bagikan

Hidayatullah.com–Australia merilis laporan yang mengatakan bahwa pasukan khusus yang dikirimnya ke Afghanistan dicurigai bertanggung jawab atas 39 pembunuhan di luar hukum, lansir Al Jazeera hari Kamis (20/11/2020). Australia membuka penyelidikan pada tahun 2016, di tengah laporan dari para pelapor dan media lokal tentang dugaan pembunuhan pria dan anak-anak tidak bersenjata.

Merinci temuan tersebut, Jenderal Angus Campbell, kepala Pasukan Pertahanan, mengatakan penyelidikan telah menemukan banyak bukti. Diantaranya anggota pasukan khusus Australia telah membunuh tahanan, petani atau warga sipil lainnya, dan menawarkan permintaan maaf tanpa pamrih kepada rakyat Afghanistan atas kesalahan apa pun.

Laporan tersebut “menemukan informasi yang dapat dipercaya untuk mendukung 23 insiden dugaan pembunuhan di luar hukum terhadap 39 orang oleh 25 personel pasukan khusus Australia. Sebagaian besar berasal dari Resimen Layanan Udara Khusus,” kata Campbell kepada wartawan.

“Penemuan ini menuduh pelanggaran paling serius atas perilaku militer dan nilai-nilai profesional,” katanya, menambahkan: “Pembunuhan di luar hukum, terhadap warga sipil dan tahanan tidak pernah dapat diterima.”

Beberapa dari mereka yang diduga bertanggung jawab masih bertugas di militer sementara yang lain telah meninggalkan angkatan bersenjata. Penyelidikan merekomendasikan 23 insiden, yang melibatkan 19 orang, agar dirujuk ke polisi untuk penyelidikan kriminal.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Dalam sepucuk surat yang menyertai laporan penyelidikan, James Gaynor, inspektur jenderal Angkatan Pertahanan Australia, menggambarkan sifat dan tingkat pelanggaran yang dituduhkan sebagai “sangat konfrontasi”.  James mencatat ada tuduhan tambahan bahwa anggota militer Australia telah memperlakukan orang di bawah kontrol mereka dengan kejam.

“Tak satu pun dari dugaan kejahatan ini dilakukan selama pertempuran,” tulisnya. “Korban yang diduga adalah non-kombatan atau bukan lagi kombatan.”

Selama proses penyelidikan, Hakim Mahkamah Agung New South Wales Paul Brereton dan timnya mewawancarai 423 saksi. Paul juga  meninjau lebih dari 20.000 dokumen dan 25.000 gambar.

Tim tersebut “menghadapi tantangan yang sangat besar dalam memperoleh pengungkapan yang jujur dalam komunitas Pasukan Khusus yang tertutup, berhubungan erat, dan sangat terkotak-kotak,” kata laporan itu dalam menjelaskan mengapa penyelidikan memakan waktu yang lama.

‘Blooding’

Laporan yang awalnya berjumlah 531 halaman telah disunting karena informasi keamanan rahasia atau karena mengandung materi yang dapat membahayakan proses pidana di masa depan.  Penyelidikan menemukan 23 insiden pembunuhan di luar hukum akan menjadi “kejahatan perang pembunuhan” jika diterima oleh juri, dan dua insiden lebih lanjut “kejahatan perang perlakuan kejam”.

Beberapa insiden melibatkan satu korban, dan lainnya, banyak orang, dan terjadi antara tahun 2009 dan 2013.  Laporan juga menemukan bahwa senjata telah diletakkan pada beberapa korban, sementara tentara junior kadang-kadang dipaksa untuk menembak tahanan untuk “pembunuhan pertama” sebagai bagian dari sebuah inisiasi yang dikenal sebagai “blooding”.

Militer Australia dikerahkan bersama pasukan dari Amerika Serikat dan sekutu lainnya di Afghanistan pasca serangan 11 September 2001. Pada tahun-tahun berikutnya, serangkaian laporan yang mengerikan muncul tentang perilaku unit pasukan khusus elitnya – mulai dari seorang tahanan yang ditembak mati untuk menghemat ruang di helikopter hingga pembunuhan seorang anak berusia enam tahun dalam sebuah penggerebekan rumah.

Australia memiliki sekitar 1.500 tentara yang tersisa di Afghanistan. Amerika Serikat juga sedang diselidiki atas kemungkinan kejahatan perang di Afghanistan setelah Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) mengizinkan penyelidikan awal tahun ini. Pengadilan juga akan menyelidiki tuduhan terhadap tentara Afghanistan dan pejuang bersenjata Taliban.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AfghanistanAustraliakejahatan perangpasukan khusus Australia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ustadz Diserang, CAIR Desak Polisi Selidiki Motif Kejahatan Rasial
Tulisan selanjutnya Tekanan Global Meningkat terhadap Myanmar Mengenai Pemulangan Pengungsi Rohingya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?