Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Hakekat Musibah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Januari 2021 08:10 8:10 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Januari 2021 08:30
Bagikan
Ilustrasi: Begini kondisi pasca tsunami di Anyer
Bagikan

Hidayatullah.com | AKHIR-AKHIR ini kita menghadapi berbagai musibah.  Mulai dari bencana alam, pandemi Covids 19 hingga yang terbaru, jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ 182.

Air mata seakan tiada kunjung mengering,  karena musibah datang silih berganti.   Sebagai hamba Tuhan YME, sudah sepatutnya kita menyerahkan segala hidup dan mati kita semata kepada-Nya.

Allah mensinyalir dalam Al Quran bahwa “pasti” setiap kaum akan diberikan berbagai musibah.  Musibah yang menimbulkan rasa takut akan  keterbatasan resource seperti kebutuhan pokok (sandang,  pangan dan papan), terputusnya akses seperti informasi  dan transportasi, hingga terancamnya keselamatan harta dan nyawa.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS: Al Baqarah: 155).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Kata “pasti” pada ayat tersebut,  berdasarkan petunjuk lam taukid yang bermakna “benar-benar akan diberikan”.  Isyaratnya bahwa hendaknya kita menyiapkan diri kita, bahwa hidup tidak selalu landai,  kadang menurun, kadang mendaki.  Seperti gelombang,  suka dan duka datang silih berganti.  Kita mesti menyiapkan jiwa dalam segala medan kehidupan.  Karena mustahil juga  kita menghindar darinya.

Musibah atau dalam bahasa Arnold van Gennep disebut krisis, sejatinya selalu membuat manusia getir.   Tidak ada manusia yang berkenan hidupnya dihantam  krisis.   Sebisa mungkin, naluri manusia menghindar dari resiko krisis.  Maka secara antropologis, manusia berupaya menciptakan berbagai ritus (atau ritual) sebagai media untuk berdamai dengan krisis.  Dari sini Arnold melahirkan teorinya tentang “rites the passage” (ritus siklus kehidupan).

Kiranya kita juga perlu berpandangan yang sama,  ketimbang menghindar,  lebih baik kita berdamai dengan krisis (musibah).  Dengan cara menimba hikmah dari segala musibah yang menimpa.  Jika perlu, musibah menjadi “madrasah” yang mengasuh jiwa dengan hikmah dan ibrah.  

Karena sesungguhnya, Allah SWT tidak menurunkan musibah kepada manusia,  kecuali Ia hendak mengisyaratkan sesuatu kepada manusia.   Bisa karena Ia hendak menunjukkan tentang kebijaksanaan (wisdom) yang tinggi,  bisa hendak menaikkan derajat ketaqwaan sang hamba, atau bisa pula Ia hendak mempertontonkan  kedigjayaan-Nya.

Apa sesungguhnya hakekat dari musibah?

Musibah secara bahasa, adalah serapan dari bahasa Arab mushibah.  Secara etimologi,  kata mushibah adalah masdar dari akar kata ashaba – yushibu – mushibah yang bermakna menimpa atau mengenai.  Secara terminologi bermakna ujian atau cobaan.

Dalam Al Quran kata mushibah diulang berkali-kali. Berdasarkan kitab al-Mu’jam al-Mufradat fi Alfadz al-Qur’an al-Karim, dikatakan paling tidak ada 77 kali kata musibah disebutkan dalam al Quran. Sementara dalam Indek Al Quran (Azharuddin Sahil, 2007) dikatakan terulang 13 kali.

Perbedaan ini terjadi berdasarkan pengkategorian kata, bisa dalam bentuk fi’il madhi, mudhari atau masdar. Sedangkan pada indeks Al Quran yang ditulis Azharuddin, 13 kali menggunakan kata musibah dan ada 2 ayat (Qs. Ar-Rum:36 dan Al Hujurat:6) tidak menggunakan term mushibah, tapi dalam bentuk mudhari “tushibhum saiat” dan “tushibu“.

Dari 13 ayat yang memuat term mushibah mengandung beberapa arti yaitu kesulitan atau bencana, kekalahan dalam perang, sesuatu yang buruk/bencana akibat ulah tangan diri sendiri, kematian, adzab karena dosa, mencelakakan/membahayakan. Semuanya menunjukkan pengertian yang negatif dan membuat manusia susah (atau tidak menyenangkan).

Pendapat ini sejalan dengan sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Ikrimah berikut:

“Pada suatu malam lentera nabi ﷺ mendadak padam. Lalu Nabi membaca: innalillahi wa inna ilaihi raji‟un (sesungguhnya kami adalah milik Allah swt dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali).  Para sahabat bertanya: “Apakah ini termasuk musibah wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ya, apa saja yang menyakiti orang mukmin disebut musibah.” (HR. Abu Daud).

Jadi,  dapat disimpulkan bahwa,  musibah adalah krisis yang dapat menghambat dan menghilangkan kesenangan dan kebahagiaan manusia (human’s pleasure and happiness).  Bencana alam,  wabah penyakit,  kecelakaan,  kematian dan termasuk mendapatkan amanah kedudukan adalah diantara contoh musibah.  Jabatan juga musibah,  karena menjadi pejabat pada hakekatnya tidak nyaman dan kadang menjadi  beban,  meskipun kesenangannya juga banyak.

Dari beragam bentuk musibah tersebut,  secara umum ada dua pola,  berdasarkan perspektif Al-Quran yaitu; musibah sebagai manifestasi dari hukum alam dan musibah sebagai akibat dari ulah tangan manusia.  Meskipun secara hakikat semua merupakan ketetapan Tuhan dan telah tertulis di lauhul mahfudz  (QS. 57:22 dan 64:11).

Adapun tujuan diberikan musibah beragam,  kadang sebagai batu ujian untuk melatih kesabaran manusia.  Untuk menguji proses kenaikan taraf ketaqwaan sang hamba.  Kemudian juga  sebagai bentuk “hukuman” dan “peringatan” atas kelalaian manusia maupun akibat kerusakan oleh  “tangan-tangan” (perbuatan) manusia itu sendiri. (Bersambung) >>> 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:bencanaKecelakaanmusibah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 81 Orang Meninggal Akibat Gempa Sulbar, 1.150 Unit Rumah Rusak, Relawan Terus Bergerak
Tulisan selanjutnya BNPB Minta Pencegahan Covid-19 di Pengungsian, Sebut Pengungsi Akan Dites Swab Antigen

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

30 Tahun Menyalahgunakan Kekuasaan Pejabat China Diganjar Hukuman Mati

Berita
7 Juli 2026 18:00
Pemerintah Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter dalam Perpres Pertahanan Negara
Pelatih Timnas Mesir Suarakan Solidaritas untuk Palestina di Piala Dunia 2026
Polemik Kajian BEM Psikologi UI Soal LGBT Berlanjut, Kampus Beri Klarifikasi
Amerika dan Perang Salib Baru?

Terbaru

  • Perwira Cadangan ‘Israel’: Pasukan Kami Sedang Mengalami Kemerosotan Moral
  • Amerika Serikat Kembali Serang Iran, Berdalih Bela Warga Sipil
  • ‘Israel’ Gunakan Kesepakatan Gas dan Air untuk Menekan Yordania
  • PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU
  • Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
  • Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus
  • Menko Yusril Sebut Penyebarluasan LGBT Perlu Diantisipasi demi Ketahanan Nasional
  • Serukan Balas Dendam untuk Ali Khamenei, Lautan Pelayan Serukan Kematian Trump
  • Pelatih Timnas Mesir Suarakan Solidaritas untuk Palestina di Piala Dunia 2026
  • Tak Ingin Disaingi, ‘Israel’ Minta AS Blokir Penjualan F-35 ke Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?