Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Zaim Saidi Memang Bukan Permadi Arya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Februari 2021 17:24 5:24 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Februari 2021 16:52
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Generasi pertengahan 90-an awal pasti mengenal nama Zaim Saidi, bahkan akrab dengan namanya. Zaim memang penulis produktif. Hal-hal sederhana di tangannya menjadi sesuatu, saat itu diungkap dalam tulisan.

Zaim Saidi menulis kolom dan opini, setidaknya di MBM Tempo, Koran Tempo, dan HU Republika. Tulisannya selalu dinanti, tulisan ringan tapi tetap powerful.

Zaim penulis buku produktif. Tidak kurang 15 judul buku ditulisnya. Beberapa sempat kubaca, Secangkir Kopi Max Havelaar: LSM dan kebangkitan masyarakat, Balada Kodok Rebus: catatan kritis seorang aktivis tentang krisis.

Karya bukunya, Tidak Syar’inya Bank Syariah, termasuk yang best seller. Setelah itu karya-karyanya banyak berkenaan seputar riba, dinar dirham.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Zaim Saidi pribadi yang ingin menjalankan agama yang dipeluknya secara utuh (kaffah). Itu hal semestinya, jika itu menyangkut peribadatan (ubudiyah).

Tidak cuma masalah peribadatan yang ingin utuh ia lakukan. Tapi juga hal-hal menyangkut muamalah keseharian. Sehingga ia terjebak pada pilihan sulit.

Konsep syariah yang ingin ia jalankan bukanlah konsep salah. Justru itu konsep sebenarnya. Namun situasi bernegara menyebabkan adanya ketidaksesuaian konsep, bahkan muncul pertentangan.

Maka yang tampak Zaim menjadi pribadi “kaku”, saat ia paksakan konsep syariah itu pada masyarakat dan negara yang tidak berbasis pada syariah.

Apa yang dilakukan Zaim Saidi membuka Pasar Muamalah di Depok itu, dimana transaksi hanya menggunakan Dinar (emas) dan Dirham (perak), itu bagian dari upayanya menjalankan konsep syariah.

Berita ditangkapnya Zaim Saidi pagi ini, membuat hati memanas. Zaim bukanlah seseorang yang melakukan bisnis penipuan. Dia hanyalah anak manusia yang meyakini dan berkhidmat pada agamanya.

Soal ia salah menempatkan konsep muamalah syariah, karena negeri ini hanya mengenal transaksi berdasarkan Rupiah, itu bisa dipahami.

Tapi tidak harus ia ditangkap, seolah melakukan kejahatan penipuan luar biasa. Cukup diajak dialog dan “diluruskan”, itu manusiawi.

Jika Pak Polisi yang menangkap lalu menginterogasinya itu mengenal dengan baik intelektualitas seorang Zaim Saidi, maka sikap santun patutlah diberikan.

Kita tengah dipertontonkan ketidakadilan menyayat hati, jika melihat bagaimana transaksi mata uang dollar di Pulau Bali itu dilakukan dengan  bebas. Tapi tidak dengan Dinar dan Dirham.

Kenapa Zaim Mesti Ditangkap

Kenapa kepolisian tidak menggunakan pendekatan memanggil Zaim sebagai saksi, tidak harus menangkapnya layaknya penjahat.

Zaim Saidi punya catatan sumbangsih kebaikan teramat banyak di negeri ini. Tidak punya cacat sedikit pun apalagi jejak krimimal.

Zaim adalah aktivis kebaikan sejak muda. Itu bisa ditelusuri dalam jejak langkahnya. Pribadi yang memiliki prinsip hidup, tidak dikecoh oleh materi.

Zaim dalam hidup memadukan hablum minallah dan hablum minannas secara berimbang. Hidup dalam dua dimensi yang berimbang di alam materialistik, bukanlah perkara mudah.

Hati sedih melihat diperlakukannya seorang Zaim Saidi, meski tidak semua dari apa yang diikhtiarkannya itu muslim kebanyakan sepakat dengannya.

Ketidaksepakatan dari apa yang diyakini dan diikhtiarkan, itu bukanlah bentuk kejahatan. Itu bagian dari dialektika yang bisa diperdebatkan, meski berakhir dengan tidak sepakat.

Memahami apa yang diyakini Zaim Saidi, itu bagian dari memanusiakan diri sendiri, dan itu dengan melihatnya dengan tidak pakai kaca mata persepsi, tapi proyeksi.

Zaim Saidi memang bukan Permadi Arya, yang meski melecehkan agama dan berujar rasisme, tapi tetap mendapat perlakuan istimewa. Diperiksa hanya sebagai saksi, tentu tidak ditahan. Melenggang bebas.

Sabar ya Mas Zaim…! ()

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Dinardirhammata uangPermadi AryarupiahZaim Saidi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kolega Zaim Saidi: Dia Berani Melawan Arus
Tulisan selanjutnya Akses Masuk Saudi Ditutup karena Covid, KJRI: Kepulangan Jamaah Umrah Sesuai Jadwal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Berita
18 Juli 2026 11:26
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?