Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Betapa Cepat Usia Berpacu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Februari 2021 07:18 7:18 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Februari 2021 14:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com |”DEMI waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar merugi. Kecuali mereka yang beriman, beramal shalih dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat-manasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3).

Umur manusia tidaklah lama. Kadang memang tak terbayangkan, 50 tahun seberapa panjang. Tetapi setelah dijalani, tanpa terasa begitu cepat terlampaui. Orang sering mengeluhkan ketertinggalannya dibanding laju umurnya sendiri.

Memang waktu tak bisa dicegah. Ia terus berjalan, berputar menapaki pergantian siang dan malam. Berulang-ulang, tahu-tahu tahun telah berganti. Belum lama rasanya Idul Fitri, kini telah terulang kembali.

Nah, apakah yang kita rasakan dengan pergantian waktu itu? Umur bertambah itu jelas. Tetapi arti apakah yang kita dapatkan dari pertambahan umur itu? Kalau Menristek selalu berkata tentang pertambahan nilai, maka kali ini kita akan mencermati pertambahan umur, sesuatu yang tak mungkin bisa kita hindari.

Usia setiap makhluk ada batasnya. Batas itu telah ditetapkan oleh Allah, yang disebut ajal. Jatah itulah yang dibagi dalam tahun, bulan, hari, jam, menit dan detik yang ditapaki sejalan dengan denyutan jantung makhluk itu. Setiap pertambahan waktu satu detik berarti pengurangan jatah umur sedetik pula. Kalau kita tak pernah sempat mengingatnya, maka tahu-tahu umur kita telah berkurang sekian tahun. Ajal pun telah mendekat dalam panjang tahun yang sama pula.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Baca: Tiga Fase Usia dalam Hidup Kita

Toh akhirnya batas itu akan tercapai juga. Tak mungkin tidak. Persoalnnya, kita tak pernah tahu, sampai dimana batas direntangkan. Tak seorang pun tahu, kapan ia mesti kembali menghadap Tuhannya.

Tiga kali Allah dalam Al-Quran menegaskan, bahwa setiap yang berjiwa akan mati, dengan lafal yang sama.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya di Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalami…..” (QS: Al ‘Imran [3]:185.

Itu sebuah penegasan yang sangat perlu mendapatkan perhatian. Bahwa semuanya akan menjadi tiada pada saatnya. Ini masih ditambah dengan firman penegasan yang lain.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Bagi setiap ummat ada ketetapan ajal. Maka apabila telah datang waktunya (ajal) tak seorangpun mampu mengundurkan ataupun memajukannya.” (QS: Al-A’raf:34).

Baca: Memupuk Amal di Usia Senja

Sangat tegas Allah memberitahukan, tak ada yang mampu menundanya ataupun mempercepat kedatangan mati. Bagaimana dengan dokter?

Sekalipun dokter yang sangat ahli. Kalaulah ada orang yang bisa diselamatkan dengan upaya sedemikian rupa, padahal sebelum itu kondisinya sudah tak beda dengan orang mati, maka pasti memang belum datang saat kematian. Ketentuan Allah memang menyebutkan, orang itu belum meninggal pada saat itu.

Apakah dengan demikian berarti kita tak perlu mengupayakan ‘memperpanjang umur’ dengan keyakinan kita tidak akan meninggal sebelum ketentuan Allah datang? Tentu saja pendapat demikian salah besar. Sebab tak seorangpun tahu, bagaimana ketentuan Allah terhadap dirinya.

Bagaimana bisa yakin bahwa ketentuan kematian belum akan datang? Selama hayat masih di kandung badan, upaya harus tetap dilakukan. Yang perlu kita bayangkan bukanlah telah datangnya saat kematian, melainkan masih adanya denyut kehidupan.

Yang bisa diketahui manusia soal mati hanyalah fenomenanya saja. Sebatas pada gejala dan definisi. Kalau ‘hidup’ diartikan sebagai bekerjanya fungsi organ tubuh, maka ‘mati’ adalah saat di mana semua fungsi itu terhenti. Organ itu sendiri masih ada, dan mungkin juga masih utuh. Tetapi tidak bisa dipergunakan lagi. Dipukulpun, orang mati tidak akan bereaksi, karena memang sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Kondisi demikian itu akan segera kita rasakan. Menjadi orang mati. Tamat sudah riwayat hidup kita. Kemabli ke dunia sunyi, disertai catatan amal kita sendiri-sendiri. Di situlah kalau kita hendak meratapi, menyesali sejarah hidup selama di dunia.

Tetapi penyesalan sudah tiada arti. Sejak saat kematian itu, dalam waktu yang tak terhingga kita akan selalu berhadapan dengan berbagai konsekuensi atas apa yang kita lakukan semasa hidup.

Baca: Benarkan Imam Mahdi Diutus Umur 40 Tahun?

Mereka yang menyia-nyiakan umurnya, niscaya akan menyesal selama-lamanya. Sedang sesal dalam satu jam saja sudah sering membuat kita dongkol, bisa berakibat berhari-hari dirundung ketidakenakan; makan tak bernafsu, semua serba salah. Apalagi selama-lamanya!

Maka firman Allah dalam salah satu ayat-Nya;

وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan berinfaqlah dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum datang kematian atas salah seorang dari kamu lalu ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, mengapa tidak engkau beri kelonggaran waktu beberapa saat? (Kalau demikian) niscaya aku akan bersedekah dan menjadilah aku golongan yang shalih’. Tetapi tidaklah Allah akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang saatnya. Dan Allah Maha Melihat apa saja yang kamu lakukan.” (QS:. Al-Munafiqun: 10-11).

Nah, sebelum terlambat dan sebelum semuanya terjadi, marilah kita bertaubat dan memperbaiki diri. Hidup hanyalah sebuah ujian.

Dan betapapun singkatnya, hidup di dunia itulah yang akan menentukan nasib di alam kekal. Dan, karena hidup dibagi dalam batas hari, marilah kita bagi hari itu dengan sebaik-baiknya.

Jangan sampai terjadi, kita senantiasa tak kebagian waktu untuk memenuhi panggilan-Nya, hanya karena sibuk mengurus dunia. Betapa rugi, bersusah payah mengejar sukses di dunia, ternyata di akhirat itu semua tak ada artinya. Padahal, akhirat itulah masa depan kita yang sebenar-benarnya.*/ Al-Qalam,  edisi : 48/VII, 24 Ramadhan 1418

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amal shalihmatipahalatuausiawaktu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya MA Australia: Tersangka Teroris Bisa Dipenjara Lebih Lama dari Masa Hukuman
Tulisan selanjutnya Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1442H Jatuh pada 13 April 2021

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?