Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Boikot Produk AS dan Israel, Sebuah Kemustahilan?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Oktober 2002 09:40 9:40 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Oktober 2002 09:40
Bagikan
Bagikan

oleh Faris Khoirul Anam

Pada liburan musim panas lalu, saya berkesempatan mengunjungi Rubath Ba’asyin, sebuah desa kecil di lembah (wady) Dou’an, Provinsi Hadramaut. Kebetulan saya sedang menempuh studi di sebuah universitas di provinsi yang sama.

Tidak ada yang lebih menarik dari perjalanan yang melelahkan dan sedikit “membuat putus asa” ini (karena tidak ada transportasi umum, ditambah kondisi jalan yang tak beraspal), kecuali profil desa Rubath yang begitu menarik. Dari desa inilah asal Muhammad Awadl, ayah kandung Osama bin Laden, sebelum hijrah dan menjadi milyuner Arab Saudi.

Selain beberapa buah pipa sumbangan Muhammad Awadl yang mengalirkan air dari bendungan di Wady Dzahab ke rumah-rumah penduduk, “peninggalan” Muhammad di desa yang menempel di bukit itu adalah bekas rumahnya yang terbuat dari tanah (seperti rumah-rumah di Hadramaut pada umumnya), dilapisi semen putih dan berukuran cukup besar. Rumah tersebut, sebagian kini dijadikan madrasah/sekolah, dan sebagian lagi ditempati keluarga yang saya tidak tahu pasti hubungan mereka dengan keluarga bin Laden.

Menurut informasi teman yang mengantar saya, yang kebetulan penduduk asli desa tersebut, istri pemilik toko tepat di samping rumah yang mirip benteng itu, masih mempunyai ‘nama belakang’ bin Laden. Jika benar demikian, berarti hubungan kekeluargaannya dengan pemimpin Al Qaedah yang menjadi musuh besar AS masih tergolong dekat, mengingat qabilah / marga bin Laden tidak begitu besar bila dibandingkan qabilah-qabilah lain yang ada di Arab.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Lalu, apa hubungan “cerita perjalanan” ini dengan usaha pemboikotan terhadap segala produk AS dan Yahudi ?

Yang saya alami ini mungkin sekedar contoh dominasi produk AS dan konsekuensi kita sebagai muslim yang telah lama mendengar pemboikotan produk AS dan Yahudi. Bukan hanya sejak isu serangan AS ke Irak saat ini, atau saat serangan ke Afghanistan beberapa bulan lalu. “Ancaman” pemboikotan sebenarnya sudah lama kita dengar.

Di toko kecil di samping rumah tua keluarga bin Laden itu, yang juga milik suami salah satu keluarga bin Laden yang tidak ikut berimigrasi ke Saudi Arabia, produk-produk kecil AS (sabun, minuman, dsb) masih bisa kita lihat, bahkan mendominasi! Ini bisa dikatakan hanya sekedar ungkapan bahwa, bagaimanapun juga, produk AS dan Yahudi telah menjadi bagian hidup kaum muslimin, apapun “background” keluarga mereka atau dari lapisan masyarakat mana mereka berasal. Seakan perlu perjuangan berat dan panjang dalam usaha pemboikotan secara total dan maksimal.

Sepanjang yang disaksikan zaman, kaum muslimin tidak pernah bersatu dalam memegang konsekuensi, dan tidak pernah sehati dalam mencapai tujuan dan target yang sama.

Kita semua tahu bagaimana AS mempecundangi negara-negara Islam, menyudutkan, menekan, bahkan menyerang. Kita juga tahu, Israel terus membunuhi saudara-saudara kita di Bumi Palestina dengan senjata-senjata Amerika. Israel berada “di atas angin” dalam melancarkan agresi militernya di Palestina dengan senjata yang amat canggih karena sokongan dana Amerika yang tak pernah berhenti. Dan ironisnya, dana yang besar ini terkumpul karena “peran” kita sendiri. Kita sendiri yang menjadikan negeri kita dibanjiri produk AS dan Yahudi, kemudian mengirim hasil penjualannya ke negeri mereka untuk selanjutnya dijadikan senjata pembunuh saudara-saudara kita.

Melihat pembantaian kaum muslimin di beberapa negara, banyak pihak berharap bisa terjun berjihad, namun menjadi “putus asa” karena tak ada jalan ke arah sana. Padahal, pintu jihad sangatlah banyak dan terbuka di depan mata kita. Di antaranya adalah pemboikotan produk-produk tersebut, yang telah begitu lama digembar-gemborkan di negara-negara muslim. Bagi mereka yang banyak mendendangkan kata jihad dan mengeluh karena tak menemukan jalan, silakan mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki untuk merealisasikan “perang” baru ini secara total dan menyeluruh.

Benar, masih kita dapati pemerintah negara-negara Arab dan Islam yang terus menggantungkan diri pada Amerika, atau pengusaha-pengusaha muslim yang lebih senang menjadikan perusahaan Amerika sebagai partner bisnis, hingga negaranya dipenuhi produk-produk musuh Islam dan menjadi pasar besar produksinya. Ini terjadi, namun “kekuasaan” ada di tangan ummat. Kita bisa memboikot, bahkan mengikis habis komoditi tersebut lalu memaksa mereka membuangnya ke tong sampah karena tak lagi laku di pasaran… Kenapa kita tidak melakukannya?

Ini akan menjadi pekerjaan mudah –dengan pertolongan Allah SWT– karena dalam realisasi kita tak melewati rumitnya birokrasi, juga tak membutuhkan peraturan resmi pemerintah. Biarkan pemerintah berasyik masyuk dengan Amerika dan Zionis, sebagai muslim mari kita tanamkan dalam hati totalitas keikhlasan dan keimanan untuk menempuh salah satu cara jihad ini. “Ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu” (Al Anfal : 9). Mari kita perbarui bai’at (perjanjian) kita di hadapan Allah SWT. “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (Ar Ruum : 47).

Kita merasa senang dan mendapat angin segar dengan fenomena “Perang Cola” yang sudah mencapai tingkat “menyaingi produk AS”, (Hidayatullah.com, 12/10/02). Semoga ini bisa diikuti perusahaan dan negara lain. Untuk mengembalikan dan menampakkan citra kejayaan Islam di hadapan musuh-musuh Allah. ”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran : 139).

Banyak kalangan optimis, program boikot terhadap segala produk AS adalah salah satu langkah tepat untuk meruntuhkan ke-adikuasa-an Amerika yang dzalim. Sebagaimana juga dilaporkan, perusahaan AS semisal McDonald’s, Starbucks, Nike, dan Coca-cola mengaku telah mengalami penurunan akibat kampanye boikot yang dilakukan sebagian muslim di seluruh dunia beberapa waktu lalu.

Semoga segera terwujud janji Allah SWT dalam firman-Nya: ”Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang dzalim.” (Ali Imran : 140). (sma)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Seluruh Staf Konjen AS Diminta Pulang
Tulisan selanjutnya Lebih Seribu Orang Kecam Serangan ke Iraq

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko

Berita
5 September 2026 17:08
Trump Diam soal Sanksi Inggris terhadap Permukiman Ilegal ‘Israel’
Dua Nelayan Palestina Alami Luka-Luka usai Perahu Mereka Ditembaki Pasukan ‘Israel’
11 Negara Eropa dan Kanada Sepakati Larangan Dagang dengan Permukiman Ilegal ‘Israel’
Hari Pertama Sekolah yang Tak Kunjung Usai, Bocah Palestina Syahid Dibom ‘Israel’

Terbaru

  • Trump Diam soal Sanksi Inggris terhadap Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Serangan Iran ke Pangkalan Yordania Dilaporkan Rusak Sejumlah Jet Tempur AS
  • Silver Economy, Cara Turki Hadapi Naiknya Populasi Lansia
  • Negara-Negara Muslim Sambut Keputusan 12 Negara Barat Mensanksi ‘Israel’
  • Balas Sanksi terhadap Permukiman Ilegalnya, ‘Israel’ Ancam Tutup Konsulat Inggris
  • ‘Israel’ Percepat Pembangunan 1000 Rumah untuk Pemukim Ilegal di Tepi Barat
  • Sanksi Inggris Hanya Menarget Pemukiman Ilegal ‘Israel’, Bukan Zionis
  • Al-Azhar Kecam Aksi Penistaan Al-Quran di Gereja New York
  • 11 Negara Eropa dan Kanada Sepakati Larangan Dagang dengan Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Media ‘Israel’: UEA Pernah Peringatkan Zionis Soal Operasi Thufan Al-Aqsha

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?