Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Kisah Kedekatan Gus Hamid Fahmi Zarkasyi dengan Gurunya Prof Al Attas

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 September 2021 13:49 1:49 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 September 2021 09:20
Bagikan
menampilkan Prof. Dr Hamid Zarkasyi atau akrab dipanggil Gus Hamid
Bagikan

Hidayatullah.com | HARI Ahad (5/9/2021) kemarin berlangsung diskusi  bertajuk “Tasyakur 90 Tahun Prof. Dr. Syed Muhammad Al-Attas.” Acara yang diselenggarakan Bentala Tamaddun Nusantara ini menampilkan Prof. Dr Hamid Zarkasyi dan Prof. Dr Khalif Muammar sebagai pembicaranya.

Di acara ini, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yang juga Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Masa Bakti 2021-2025  menceritakan kisah kedekatannya dengan gurunya,  Prof Dr Syed Muhammad Naquib Al-Attas selama 5 tahun.  Gus Hamid, begitu kalangan aktivis memanggilnya, menceritakan awal pertemuannya dengan Prof Attas, cucu  Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas (Habib Kramat).

Menurutnya, pertemuan itu terjadi pada tahun 1989. Tepatnya setelah beberapa bulan pulang kuliah dari Pakistan.

Kala itu Gus Hamid sudah mendengar bahwa di Malaysia ada International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Kala itu ia sempat datang dengan Pimpinan Gontor (KH. Abdullah Syukri, KH. Hasan Abdullah Sahal, KH.Imam Badri) untuk sekadar melihat dan bertukar fikiran, kemudian selesai.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Beberapa bulan kemudian, pada tahun yang sama (1989), Gus Hamid ikut seminar yang diadakan Prof. Al-Attas di USM Pinang. Seminar itu berjudul “International Conference on Islamic Philosophy and Science”. Seminar yang sangat menarik ini dibuka oleh Datuk Seri Anwar Ibrahim Menteri Pendidikan Malaysia dan dibuka oleh Keynote Speech Prof al-Attas.  Di situ Al-Attas menyampaikan keynote speech nya yang bernas berujudul Islam and Philosophy of Sciences (Islam dan Filsafat Sains).

Pada waktu itu, hadir seorang profesor muda dari Turki yang bernama Alparslan Ackgence. Begitu mendengar keynote speech Al-Attas tersebut, ia langsung tertarik dan sengaja menemui untuk bertukar fikiran. Pada saat itulah Prof. Al-Attas mengundangnya untuk bergabung mengajar di ISTAC. Tanpa bertanya gaji dan lain sebagainya, tidak lama kemudian (1990) Alparslan gabung dengan ISTAC dan ditugasi menjadi dosen filsafat Islam.

Karena Gus Hamid tertarik dengan cerita-cerita terkait ISTAC maka datanglah beliau untuk kedua kalinya bersama dengan Kiai Subakir Ahmad (Wakil Rektor IPD, waktu itu). Karena tertarik dengan kurikulum ISTAC pada waktu itu, Gus Hamid meminta izin kepada Prof. Al-Attas bagaimana jika kurikulum ISTAC digunakan di Gontor.

Tapi “Apa jawab beliau?” Ini yang sudah saya duga sebelumnya. Beliau menjawab, “Mata kuliah tidak penting. Mata kuliah itu tidak penting, yang penting adalah siapa yang mengajar. Maka dari itu kalau ingin membawa silabus ISTAC ke Gontor kirim kader ke ISTAC,” bagitu lanjut Prof.al-Attas

Seketika itu, Gus Hamid teringat dengan ayahnya (KH. Imam Zarkasyi) yang menolak memberikan daftar pelajaran di Gontor kepada orang-orang yang sengaja meminta. Dalam kesempatan seperti itu beliau selalu mengatakan daftar pelajaran itu tidak penting, yang penting adalah siapa pengajarnya. Waktu itu Gus Hamid sudah mulai minat untuk masuk ISTAC.

Mendengar minatnya, Prof Wan dan Zaini Usman mendatangi Gus Hamid di hotel, menyatakan sangat senang kalau bisa bergabung ke ISTAC. Gus Hamid pun berrencana mau masuk tahun 1995, tapi dalam masa menunggu keberangkatan itu, ada tawaran menarik (beasiswa) untuk belajar di Brimingham, Inggris, maka Gus Hamid terpaksa harus ke Inggris terlebih dahulu, sekedar untuk memperluas wawasan metodologis.

Pada tahun 1996, saat ulang tahun Pondok Modern Gontor, diundanglah Prof. Wan. Moh. Nor Wan Daud ke Gontor. Maka pada saat itu Gus Hamid bilang kepada Prof. Wan, bahwa beliau belum bisa ke ISTAC karena ada beasiswa ke Inggris. Prof. Wan waktu itu menjawab “Tidak apa, durian semakin masak semakin enak,” kata beliau.

Akhirnya berangkatlah Gus Hamid ke Birmingham untuk mengambil Masternya yang kedua (M.Phil) setelah mendapat master dari Pakistan (MA.Ed) tahun 1988. Kuliah di Brimingham ditempuh dalam masa 1 tahun 8 bulan, dari tahun 1996-1998. Setelah dari Inggris, ia pulang sebentar, kemudian langsung bergabung dengan ISTAC.

Saat itu ia tidak membawa persiapan apa-apa. Ia datang hanya dengan keluarga. Bahkan tak tahu harus menginap di rumah siapa. Akhirnya ia mengontak alumni IKPM yang di Malaysia dan dapat tumpangan sementara.

Saat mendaftar ke ISTAC, Prof Hamid,  ditemui Prof. Wan Daud Wan dan langsung diminta langsung masuk Kelas. Karena Gus Hamid alumni PP Modern Darussalam Gontor, Bahasa Arabnya sudah standar bisa digunakan berdiskusi, membaca dan menulis, akhirnya mata kuliah Bahasa Arab dihapus alias tidak perlu.

“Waktu itu ada 15 mata kuliah wajib untuk doctor atau master. Saya didiskon 2 atau 3 mata kuliah. Karena ijazah dari Brimingham saya (meski tidak ada transkipnya), dan ijazah Pakistan, Master of Education yang sangat jauh standarnya dari  ISTAC,” katanya.

Akhirnya, Gus Hamid mengambil sekitar 13 mata kuliah, bersama mahasiswa yang sedang menempuh S2. Meskipun begitu beliau juga ikut kelas mata kuliah lain yang tidak wajib, karena memang materinya banyak yang menarik. Semua dijalaninya selama dua tahun (1998-2001).

Di ISTAC, Gus Hamid mulai kuliah dengan Prof. Al-Attas dengan mata kuliah The Religion of Islam. Namanya simpel tapi isinya luar biasa, katanya.

“Intinya mata kuliah ini ingin menjelaskan Konsep Worldview Islam seperti yang tertuang dalam bukunya Prologomena To The Metaphysic of Islam (An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam). Tapi keterbatasan waktu ternyata tidak bisa meng-cover seluruh isi buku itu, akhirnya mahasiswa disuruh membaca buku itu sendiri. Karena memang di bab-bab akhir buku itu semakin detail dan sulit seperti misalnya intuition of existence,  On Quddity and Essence dan The Degree of Existence,” lanjutnya

Menurutnya, mata kuliah Prof Al-Attas sangat mencerahkan, khususnya Ketika menyinggung masalah worldview. Karena Gus Hamid begitu sangat tertarik dengan yang disampaikan oleh Prof Attas, dan itu dianggap baru, sampai-sampai ia tidak sampai sempat bertanya.

Hal ini termasuk ketika Prof Attas berbicara di Sturday Night Lecture. Yaitu tradisi ISTAC dimana Prof. Attas menyampaikan kuliah pemikiran dan peradaban sembari menjawab isu-isu kontemporer. Hal itu juga banyak hal yang sangat penting yang tidak bisa dilewatkannya.

Dalam forum Saturday Night Lecture ini para professor biasa ikut serta,  bahkan tidak jarang ada duta besar yang ikut. Di situ tampak sekali otoritas beliau dalam bidang pemikiran Islam, kata Gus Hamid.

ISTAC, Surganya Ilmu

Selang setahun lebih, Gus Hamid diminta Prof. Wan untuk menulis di jurnal ISTAC tentang perbedaan antara kuliah di ISTAC dan di Brimingham. Di situlah ia menggambarkan bahwa ketika pertama kali memasuki kampus ISTAC, ia melihat bangunan yang klasik.

Bentuk jendela, lengkung-lengkung koredor, tiang-tiangnya  serta hiasan tamannya yang berupa pohon, rerumputan serta air mancur dan lain sebagainya menggambarkan bangunan Islam masa lalu di Cordova.

Dari gambaran fisik yang klasik itu Gus Hamid membayangkan bahwa yang menjadi kajian ISTAC adalah pemikiran-pemikiran klasik tapi dalam bangunan modern. Ternyata apa yang dibayangkan itu adalah sangat sesuai.

Kampus ISTAC | Perpustaan ISTAC (Foto: Cholis/hidayatullah.com)

Ia mengenal sosok Prof Al-Attas sebagai intelektual yang perfeksionis dan detail.  Ini terbukti dari buku yang beliau tulis dan bangunan kampus yang beliau desain sendiri.

Dari teralis jendela, bentuk keramik segi delapan sebagai simbol sains, pot air di dalam koredor, air mancur yang menggambarkan kehidupan, rumput yang khusus, dengan kursi taman yang enak untuk ngopi dan diskusi dengan para professor, semua itu di desain oleh Prof. Attas sendiri.

“Tidak ada di tempat lain. Suasanya tenang dan damai, seakan di sana sini orang hanya bicara ilmu. Seakan Prof Al-Attas menerapkan Islam dalam kampus dengan bentuk bangunan yang luar biasa.”

Memang, Prof Al-Attas diberi kebebasan seluas-luasnya oleh PM Datuk Anwar Ibrahim untuk membuat instititut terbaik. Diakui atau tidak, akhirnya ISTAC menjadi lembaga yang sangat berkualitas.

Dari sisi tenaga pengajar, di sini dosen-dosennya tidak memiliki perkerjaan lain atau “nyambi”. Semua fokus mengajar, melakukan penelitian atau menulis dan selalu berada di tempat untuk melayani mahasiswa.

Dosen-dosen yang di rekrut Prof.Attas berasal dari universitas-universitas yang terkenal di dunia. Dari Chicago, Frankfurt  Jerman, Turki, Sudan, Canada, Belanda dll. Bahasa pengantarnya adalah Inggris.  Para mahasiswanya pun juga berasal dari berbagai negara. Benar-benar Internasional, tukasnya.

Yang lebih menarik lagi adalah perpustakaan ISTAC. Perpustakaan ini memiliki koleksi khusus mengenai pemikiran dan peradaban.

Selain buku, perpustakaan ISTAC mampu mengkoleksi jurnal-jurnal yang terbit tahun 1800-an. Bahkan karena banyaknya koleksi jurnal itu kemudian diletakkan di ruangan tersendiri dan diberi katalog khsusus. “Yang saya dengar Prof. Attas mencari sendiri koleksi itu ke negara-negara Eropa.”

Konon ketika Prof. Azyumardi Azra datang ke perpustakaan ISTAC, ia berkata, “ISTAC ini Surganya ilmuwan. Jadi kalau orang ke sini, pasti akan menikmati semua buku-buku itu,” kata Gus Hamid.

ISTAC didesain oleh Prof. Attas agar bersuasana kondusif untuk pencari ilmu sejati. Situasi didesain agar mahasiswa dapat bebas terbuka berdiskusi dengan dosen kapan saja dan dimana saja.

“Suasana keakraban dan keilmuan tercermin di situ. Ini tidak saya temukan ketika saya di Birmingham,” kata Gus Hamid.

Dalam kegiatan perkuliahan sehari-hari, waktu istirahat atau waktu kosong tidak ada kuliah, semua tetap bernuansa ilmu. “Kami biasa duduk-duduk di bawah pohon untuk sharing ilmu dengan dosen atau mahasiswa lain. Seringkali setiap akhir semester beberapa dosen mata kuliah tertentu ada yang mengajak mahasiswa makan-makan di restoran, sekedar untuk menjalin keakraban. Suasana yang sungguh indah dan sangat merindukan.” (Bersambung)>>> Memantau Pemikiran Liberal di Indonesia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:Hamid Fahmi ZarkasyiINSISTSISTACPP Modern Darussalam GontorProf al-AttasSyed Muhammad Naquib al-Attas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya pelarian 6 Tahanan Palestina Permalukan Zionis, Lolos dari Penjara dengan Menggali Terowongan
Tulisan selanjutnya Muhammadiyah Akan Gelar Muktamar ke-48 Secara Blended

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?