Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Menata Hati Menghadapi Bencana

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 September 2021 10:46 10:46 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 September 2021 10:46
Bagikan
Dalam ajaran Islam, bahagia adalah kondisi hati
Bagikan

Hidayatullah.com | Belakangan ini masyarakat Indonesia, secara khusus, sedang akrab dilanda dengan musibah dan bencana. Selain bencana alam,  kita juga dihadapkan dengan bencana akidah.

Bencana moral berupa degradasi adab sudah menimpa anak-anak dan para pelajar. Dari berbagai media, dikabarkan tak sedikit di antara murid-murid usia Sekolah Dasar (SD) yang sudah terjebak dalam pergaulan layaknya kelakuan orang dewasa. Hal itu terjadi di komunitas  keluarga, sekolah, hingga lingkungan tempat mereka sehari-hari bermain. Belum lagi pengaruh media sosial dan tayangan televisi  yang kian memperburuk keadaan.

Perkara yang sama juga terjadi pada musibah kerusakan alam. Ragam bencana terus mengusik sebagian wilayah di Indonesia. Paparan asap, tanah yang kerontang, hingga keterpurukan ekonomi bangsa, adalah deretan bencana yang tak henti terus mendera. Di sana, terselip sejumput asa kiranya kondisi demikian di atas ditanggapi segera oleh pemerintah Indonesia sebagai bencana atau darurat nasional.

Allah berfirman dalam Al-Quran:

 

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Surah ar-Rum [30]: 41)

 

Makna Ayat

Dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Ibn Katsir mengungkap, berbagai bencana bukan semata sebagai kejadian alam yang terjadi begitu saja.  Ia bukan pula sebuah peristiwa kebetulan yang dinamai fenomena alam biasa. Sebab semua itu memiliki kaitan yang saling mengikat.

Kebaikan dan ketaatan mendatangkan ketenangan serta keberkahan. Sedang keburukan dan kemaksiatan hanya berujung kepada kegelisahan dan kesengsaraan semata. Sesungguhnya kekurangan tanaman pangan dan buah-buahan itu disebabkan oleh aneka kemaksiatan. Demikian tegas Ibn Katsir.

Lebih jauh Ibn Katsir mengutip Abu al-‘Aliyah yang berkata, “Barangsiapa yang durhaka kepada Allah di muka bumi, berarti dia berbuat kerusakan di bumi. Hal itu karena kedamaian di bumi dan di langit adalah dengan ketaatan.” Dari Ibn Abbas, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لحد يقام في الأرض أحب إلى أهلها من أن يمطروا أربعين يوما

“Suatu hukuman yang ditegakkan di muka bumi adalah lebih disukai oleh penghuninya daripada diturunkan hujan selama empat puluh pagi.” (Riwayat Abu Daud, hadits marfu’ ini disahihkan oleh al-Albani).

Menurut Ibn Katsir, jika agama bisa ditegakkan di tengah masyarakat, niscaya kemaksiatan akan berkurang dengan sendirinya. Sebab manusia akan mendapat pencerahan tidak hanya dengan dakwah yang disampaikan secara kultural. Tapi juga dengan simbol dakwah secara struktural, yaitu penegakan hukum oleh pihak yang diberi amanah untuk melakukan hal tersebut. Sekiranya ajaran dan hukum agama terus dijalankan dengan baik, tentunya Allah SWT tak segan mengeluarkan  berkah -sebagaimana janji-Nya-  dari langit dan bumi sekaligus.

Abu Qatadah ibn Rib’i al-Anshari menceritakan, suatu ketika ada jenazah lewat di hadapan Rasulullah SAW. Nabi lalu bersabda, “Ada orang yang beristirahat dan ada yang orang lain beristirahat darinya.” Para Sahabat bertanya, “Wahai Nabi, siapakah orang yang beristirahat dan siapa orang lain yang beristirahat darinya.” Nabi menjawab, “Orang Mukmin, ketika meninggal, ia akan istirahat dari penatnya kesengsaraan dunia. Jika orang jahat mati, membuat manusia, segenap penjuru negeri, pohon-pohon, dan seluruh binatang akan terbebas (beristirahat) dari kejahatannya.” (Riwayat Muslim).

 

Ketika Ilmu Tak Sejalan Perbuatan

Sebagai ajaran yang mengusung peradaban yang bersifat konstruktif (membangun), Islam senantiasa membekali ilmu yang mesti dipelajari dengan adab sebagai pengawal dari capaian ilmu pengetahuan tersebut. Semakin tinggi ilmu dan teknologi manusia seharusnya mengantar hamba tersebut kian menyungkur sujud mengakui kekuasaan Allah SWT. Ini berbeda dengan peradaban yang dibangun oleh Barat yang berpaham materialisme sekularistik.  Keberuntungan hidup mereka hanya diukur dengan materi dan kebendaan semata. Tak peduli dengan adab dan akhlak terhadap manusia dan alam lingkungan, apalagi dengan urusan ibadah kepada Allah Sang Pencipta.

Buya Hamka mengingatkan, hendaknya manusia tidak terpesona dengan  adanya bangunan-bangunan raksasa, jembatan-jembatan panjang, hingga gedung-gedung pencakar langit yang menjulang ke angkasa. Sebab hal tersebut bukanlah ukuran pembangunan atau kemajuan peradaban manusia.

Menurut Hamka, ukuran kemajuan masyarakat tetap diukur dengan kondisi jiwa manusia serta hubungannya dengan Allah SWT dan lingkungan sekitarnya. Sebab jiwa yang jauh dari Allah SWT hanya menyisakan kesengsaraan dan kegelisahan bagi diri dan orang lain. Perang selalu mengancam. Perikemanusiaan tinggal dalam sebutan lidah, namun niat jahat bertambah subur hendak menghancurkan orang lain. Demikian papar Hamka dalam karya monumentalnya, Tafsir al-Azhar.

Hal itu terjadi, masih menurut Hamka, karena hati manusia yang kadung rusak dan niat yang telanjur jahat. Akibatnya, kerusakan terjadi di mana-mana. Sebab hati adalah cermin atas akhlak dan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Ilmu yang mereka punya hanya sebatas pengetahuan yang dibanggakan di hadapan manusia. Mereka seolah lupa terhadap agama dan orang lain, hanya dipakai untuk mengeruk keuntungan pribadi saja.

Ahli Tafsir Musthafa al-Maraghi menguatkan, sebab-sebab kerusakan itu bermula dari rusaknya hati yang berbuah kepada keserakahan manusia. Akibatnya adalah kezaliman yang merajalela. Manusia tak lagi peduli dengan kehormatan agama, akal seolah tak berfungsi akibat dominasi nafsu yang menguasai. Hal itu diperparah dengan pudarnya cahaya adab dan akhlak. Ajakan kepada kebaikan hanya jadi mainan. Ia bahkan bisa ditawar sesuai dengan harga yang diinginkan.

 

Penutup

Dalam kamus orang beriman, pantang baginya berputus asa dan kehilangan semangat menjalani kehidupan. Kehidupan adalah rangkaian ujian yang harus dijalani dengan sepasang kepak sekaligus. Ia disabari dan juga disyukuri selalu. Satu kepak bernama sayap sabar dan satu lagi disebut kepak syukur.

Mufassir Abdurrahman Nashir as-Sa’di mengajak segenap kaum muslimin untuk bertahmid sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT yang telah memberi nikmat dengan cobaanNya dan memberi karunia dengan hukumanNya. Sebab sekiranya Allah SWT berkenan, tentunya Dia tidak menyisakan satu binatang melata pun (manusia) di muka bumi. Satu persatu manusia akan punah akibat balasan perbuatan yang mereka lakukan selama ini.

Sebagai penutup, as-Sa’di menjelaskan, semua yang terjadi adalah ketetapan Allah SWT terhadap makhlukNya. Dengannya manusia mengetahui bahwa Allah SWT memberikan balasan atas setiap amal yang dikerjakan. Setidaknya manusia menyadari, ada balasan nyata yang disegerakan atas perbuatan mereka di dunia. Pun demikian berikutnya, ada ganjaran yang lebih dahsyat di hari Pembalasan kelak. Semoga setiap Muslim yang berakal segera menyadari kesalahannya dan bertaubat kepada Allah dari perbuatan maksiat.  “… Dan Kami menguji mereka dengan aneka kebaikan dan keburukan agar mereka kembali.” (Surah al-A’raf [7]: 168).*/Masykur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bencanaBuya Hamkatasawuf
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya sikh afghanistan Komunitas Sikh dan Hindu akan Tetap Tinggal di Afghanistan yang Dipimpin Taliban
Tulisan selanjutnya pelarian Penjaga Penjara ‘Israel’ Dilaporkan ‘Tertidur’ Saat Pelarian Warga Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Berita
18 Juli 2026 10:26
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?