Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Dinul Islam: Dari Tauhid Hingga Bernegara (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 September 2021 15:49 3:49 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 September 2021 14:00
Bagikan
Halaqah di Masjid Ar-Riyadh, Balikpapan. [Foto: Syakur]
Bagikan

oleh: Sholih Hasyim

Hidayatullah.com | ESENSI din adalah aslama (berserah diri). Dan di antara bentuk penyerahan itu adalah mengikuti millah (ajaran Ibrahim). Millah Ibrahim adalah berkurban, khitan, memakmurkan masjid, haji dan umrah.

Itulah sebabnya Ibrahim dikenal dengan Bapak Tauhid. Jadi, bentuk penyerahan diri itu adalah menomorsatukan Allah, tidak menduakan-Nya dengan sesuatu apa pun. Untuk mengikuti millah Ibrahim adalah dengan cara ittiba’ur Rasul (mengikuti Rasulullah ﷺ).

Dengan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ (Islam), maka secara otomatis disebut muslim. Islam adalah nama yang indah yang diberikan langsung oleh Allah.

Hanya agama Islam, yang diberi nama sesuai yang dikehendaki Allah sendiri, yang ini berbeda dengan agama lain. Memang ada yang berpendapat bahwa semua agama sama, karena memiliki bentuk aktifitas penyerahan yang sama.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Tetapi, justru bentuk penyerahan yang benar adalah Islam. Karena Islam bersumber langsung dari wahyu Allah SWT, yang kehadirannya,  untuk meluruskan agama-agama yang terdahulu.

Rasulullah ﷺ bersabda : Sekiranya Nabi Musa kembali hidup kembali di tengah-tengah kalian, maka tidak ada sikap yang lain kecuali mengikuti aku (Rasulullah SAW) (al Hadits).

Barangsiapa mencari agama (din) selain Islam maka tidaklah diterima daripadanya (QS. Ali Imran (3) : 85).

Sesungguhnya agama (din) di sisi Allah adalah Islam (QS. Ali Imran (3) : 19).

Ibrahimlah yang memberi nama muslimin kepada pengikutnya (QS. Al Hajj (22) : 78).

Dari Din Menuju Madinah

Din (agama) selain Islam, kentara sekali hanya dipandang sebagai suplemen kehidupan. Agama ditempatkan pada ruang yang sempit dan pengap. Agama diceraikan dari kehidupan sosial. Inilah paham sekuler.

Konsepsi dīn menurut  Prof Dr Syed Naquib al-Attas itu  dibangun di atas makna  dasar  dari  kata dīn itu  sendiri,  yaitu dayn (hutang), madīnah (kota), dayyān (penguasa,  hakim),  dan tamaddun(peradaban).

Selanjutnya  dari  kata dāna juga  memperoleh  kata madīnah (kota)  yaitu  suatu kehidupan  dalam  suatu  peradaban,  suatu  kehidupan  bermasyarakat  yang  diatur  oleh hukum,  peraturan,  keadilan,  dan  otoritas.  Suatu  kota  (madīnah)  memiliki  seorangpenguasa  atau  hakim  yaitu dayyān.

Hal  ini  berhubungan  erat  secara  konseptual dengan  kata  lain  yakni maddana yang  bermakna  membangun  kota  atau  membangun peradaban. Dari kata maddana inilah lahir istilah tamaddun yang bermakna peradaban.

Berbeda dengan agama lain, Islam harus dilibatkan dalam mengatur kehidupan. Islam yang dilaksanakan dalam sebuah tempat disebut madīnah. Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa Islam tidak memiliki rujukan ilmiah tentang pengelolahan negara. Justru, praktek Rasululullah ﷺ sebagai imamush shughro dan imamul kubra, lebih fasih dari teori bernegara dimanapun dan kapanpun.

Sejak umat Islam pertama, tidak ada dikotomi imam shalat dan imam negara. Beliau sebagai imamud dīn (imam shalat), sekaligus imamud daulah (pemimpin negara).

Madinah yang dibangun oleh Rasulullah tidak sekedar dimaknai perdaban kota atau kota yang berbudaya, tetapi sebuah wilayah kekuasaan yang menjangkau seluruh kawasan jazirah Arab. Rasulullah ﷺ secara fungsional membumikan fungsi kepemimpinan yang ideal.

Yaitu sebagai imam (dapat diteladani), amir (komandonya tajam), ra’in (penggembala), khadim (pelayan), khalifah (selalu memproses regenerasi), waliyyul amr (trampil dalam mengelola urusan yang dipimpin). Yang menjadi makmum tidak saja umat Islam, tetapi umat yang lain.

Madinah adalah pusat peradaban yang melahirkan aktor peradaban yang memiliki karakteristik salimul ‘aqidah (aqidahnya selamat dari kontaminasi kemusyrikan), shahihul ibadah (benar cara ibadahnya), karimul akhlak (mulia akhlaknya), mutsaqqaful fikr (cerdas berfikirnya), qadirun ‘alal kasb (mampu berusaha), shalih linafsihi dan shalih lighoirihi (shalih ritual dan shalih sosial).

Peradaban yang dibangun oleh Rasulullah ﷺ seimbang dan utuh. Memadukan antara akal dan iman, material dan immaterial, dunia dan akhirat. Menyatukan iman, ilmu dan amal dalam realitas kehidupan.

Peradaban yang dibangun Nabi mengoptimalkan potensi mujahadah, ijtihad dan jihad secara terpadu. Mereka bagaikan pendeta dan rahid di malam hari, siangnya  hari bagaikan kuda perang (rahibun fillail wa farisun finnahar).

Tahapan pembangunan peradaban yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ selama 23 tahun adalah :

  1. Islamiyyatun nafs menuju hayatan thayyibah.
  2. Islamiyyatul bait menuju keluarga sakinah, mawaddah, rahmah, amanah wa ulfah.
  3. Islamiyyatu ahlil qura, ummul qura, ummul qura wa man haulaha menuju qoryah mubarokah.
  4. Islamiyyatul hukumah (islam state) menuju darul khidmah wad dakwah, darul amni was salam, memerdekakan budak (fakku raqabah), muth’imul ji’an (fuqara, yatama dan masakin).
  5. Islamiyyatul buldan (global state) menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
  6. Islamiyyatul ‘alam menuju kaffatan linnas, rahmatan lil ‘alamin. Agar tidak terjadi fitnah (kemusyrikan) dan ketaatan seluruhnya dikembalikan kepada Allah SWT.

Seharusnya kampus-kampus Islam didekasikan sebagai miniatur Madinah. Keberadaannya tidak semata-mata sebagai kampus pendidikan yang bersifat pengajaran, tetapi sebagai transfer nilai-nilai keislaman.

Kampus Islam didirikan sebagai upaya untuk menyatukan iman, ilmu dan amal dalam realitas kehidupan individu, keluarga dan masyarakat. Kampus adalah sebagai embrio masyarakat yang islami (islamiyah), terdidik (ilmiah), dan cinta lingkungan (alami).

Dari Madinah menuju Tamaddun

Sepeninggal Rasulullah ﷺ hakikat dan sifat Islam telah merasuk dalam diri para sahabat. Dari masyarakat madani yang dibangun oleh Rasulullah ﷺ yang berjumlah 125.000 orang dikategorikan sebagai khoirul kurun (masa yang terbaik) dikembangkan dan memancar menjadi peradaban dunia. Islam kemudian memimpin dunia selama seribu tahun sejak zaman Khalifah Rasyidah, Umayah, Abasiyah, hingga Utsmaniyah, tamaddun Islam telah mencerahkan dunia Timur dan Barat dengan kehidupan yang utuh dan seimbang.

Ketika Islam menjadi tamaddun (peradaban). Segala yang muncul yang diserap dari peradaban Islam bisa disifati dengan Islam.

Ada ilmu Islam, pendidikan Islam, ekonomi Islam, politik Islam, etika Islam, kebudayaan Islam, dll. Istilah tersebut menjadi janggal jika diberi kata sifat dengan agama lain. Bahkan di zaman modern ini peradaban Islam semakin menunjukkan jati dirinya dengan kemunculan institusi-institusi Islam, misalnya : bank Islam, asuransi islam, pasar modal Islam, dll.

Islam adalah din, madinah dan tamaddun. Istilah tersebut menyiratkan sebuah peradaban yang utuh dan seimbang. Tidak ada ruang dikotomi ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, akal dan iman, jasad dan ruh, jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat, doa dan ikhtiar, ritual dan sosial.

Dalam sejarah, Islam tidak mengenal dikotomi. Islam adalah agama tauhid. Yang mengajarkan kesatuan ketuhanan, kesatuan dalam iman, kesatuan dalam ibadah, kesatuan dalam akhlak, kesatuan dalam kepemimpinan, kesatuaan dalam bahasa, kesatuan dalam rujukan, kesatuaan dalam berbagai aspek kehidupan yang lain.*

Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Dinul Islamkajian islamperadabansunnah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Uang Palsu Ribuan Dolar AS Disita Aparat Mozambique
Tulisan selanjutnya Eks Presiden Portugal Jorge Sampaio Wafat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama

Berita
28 Agustus 2026 09:20
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun
600 Aktivis Wahdah Islamiyah Ikuti Standardisasi Dai MUI

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?