Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Karakteristik Setan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 November 2021 13:32 1:32 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 November 2021 12:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | KITA semua tahu bahwa kitab suci Al-Quran membagi watak dan karakteristik setan dalam kategori jin dan manusia. Jadi, ada setan jin dan setan manusia. Kalau setan jin tentu tak bisa disentuh dan diraba secara kasatmata.

Tapi kalau setan manusia, ya memang berwujud manusia, memiliki segala panca indera dan organ-organ tubuh layaknya manusia. Bisa disentuh dan diraba secara kasatmata, namun karakteristiknya tak beda jauh dengan setan dalam bentuk jin.

Karakteristik yang paling menonjol adalah sifat dusta pada dirinya. Bukan sekadar berbohong karena suatu keterpaksaan, tetapi kebohongan itu telah menjadi bagian dari kebutuhan hidupnya.

Orang yang sesekali berbohong tak bisa dikatakan pendusta, apalagi bohongnya itu adalah bohong putih demi kemaslahatan. Misalnya, mengatakan bahwa hasil masakan sang istri cukup nikmat dan lezat, padahal kurang manis atau terlalu asin dan seterusnya.

Tetapi, bohong yang sudah menjadi kebutuhan adalah pekerjaan orang lihai dan cerdik. Di mana-mana ia berdusta untuk memenuhi hasrat amarah maupun hawa nafsunya. Bohong ini bersifat politis untuk memenuhi nafsu-nafsu keduniaan yang dikejarnya, bisa dalam bentuk keserakahan pada harta, wanita, maupun pada kedudukan dan popularitas semata.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Tersebutlah dalam kitab Tanbihul Ghafilin, Abu Laits As-Samarkandi menceritakan kembali pengalaman Abu Hurairah, pernah mendapatkan seorang pencuri yang mengambil simpanan di Baitul Maal yang dikumpulkan dari zakat orang-orang mampu di bulan Ramadlan. Si pencuri terpergok oleh Abu Hurairah, lalu dinyatakan bahwa orang itu mau dilaporkan ke Rasulullahﷺ, tapi kemudian ia berkata:

“Hurairah, maafkan saya, baru kali ini saya mencuri karena saya sangat membutuhkan bahan pangan untuk kebutuhan anak-anak saya. Maafkan saya, dan jangan hadapkan saya ke Rasulullah.”

Abu Hurairah memaafkan lelaki itu. Namun, keesokan harinya ia ditanya oleh Rasul mengenai adanya lelaki yang masuk ke gudang Baitul Mal, “Siapakah orang itu, wahai Abu Hurairah?”

Karena Rasul sudah tahu perihal lelaki itu, maka Abu Hurairah pun akhirnya menjelaskan, “Saya kasihan melihat dia, ya Rasul. Katanya, dia mengambil gandum itu untuk kebutuhan anak-anaknya, karena itu saya biarkan saja dia.”

“Kemungkinan orang itu akan datang lagi nanti,” kata Rasulullah ﷺ.

Benar saja, lelaki itu datang lagi dan mengambil sekarung gandum lagi di gudang Baitul Maal. “Anak-anak saya banyak, Hurairah. Jadi saya mengambil ini untuk kebutuhan mereka. Tolonglah, jangan laporkan saya ke Rasulullah…”

Beberapa hari kemudian, Rasulullah bertanya pada Abu Hurairah, “Bagaimana? Apakah lelaki yang pernah mencuri itu datang lagi?”

Tak mungkin bagi Abu Hurairah untuk membohongi Rasul. Maka, ia pun mengatakan sejujurnya bahwa orang itu telah datang dan mengambil sekarung gandum lagi. Kemudian, Rasul pun menyatakan bahwa orang itu, boleh jadi akan datang dan mengambil lagi.

 

Tak berapa lama, Abu Hurairah pun mendapatkan lelaki itu masuk ke gudang Baitul Maal, dan mengambil sekarung lagi. Lalu, dengan tegas Abu Hurairah memegang tangannya, “Kali ini sudah tiga kali saya memergokimu mengambil barang milik para fakir miskin.  Saya sudah tak mungkin memaafkan lagi, dan Anda harus dibawa menghadap Rasulullah.”

“Hurairah, ini yang terakhir kalinya, sumpah saya tak akan mengambil lagi karena kebutuhan anak-anak kami sudah cukup. Tapi tolonglah jangan hadapkan saya ke hadapan Rasulullah… tolonglah, Abu Hurairah….”

Lelaki itu menjelaskan mengenai keahlian dirinya, bahwa ia punya kemampuan untuk menyembuhkan orang dari gangguan jin, dan ia punya rahasia agar membuat orang bisa tidur dengan nyaman dan tenteram.

“Rahasia apa itu?” tanya Abu Hurairah.

“Bacalah ini sebelum Anda tidur, maka Anda akan dapat tidur dengan tenang dan damai. Percayalah pada saya, wahai Abu Hurairah….”

Lelaki itu menyodorkan suatu tulisan yang berisi ayat Kursi secara lengkap, dan bunyinya sebagai berikut: “Allahu la ilaha illa hual hayyul qayyum, la ta’khudzuhu sinnatun wala naum, dan seterusnya….

Keesokan harinya ia pun berkata pada Rasulullah perihal amalan yang diberikan lelaki pencuri itu untuk ketenteraman dan kedamaian hidupnya.

“Lalu, dengan memberi amalan itu, lantas kamu bebaskan dia?”

“Benar ya Rasulullah,” jawab Abu Hurairah, “bukankah amalan itu sesuatu yang baik?”

“Iya benar, amalan itu baik adanya, dan kali ini apa yang dia nyatakan ada kebenarannya, tapi selama ini tak ada lain yang dia katakan hanyalah bohong dan dusta belaka.”

“Kok bisa begitu, ya Rasulullah?”

“Perlu saya beritahu kepadamu, Wahai Abu Hurairah, bahwa lelaki yang selama ini berjumpa denganmu itu adalah Syetan.”

***

Jadi, dusta dan tipudaya setan itu tidak bersifat hitam-putih. Ada abu-abunya juga rupanya. Sesekali dia bicara benar, walaupun dusta dan kebohongan adalah sifat aslinya.

Sedangkan, orang-orang baik dan jujur, kalaupun ia terpaksa berbohong, namun kebohongan itu demi kemaslahatan, bukan untuk kepentingan diri dan anak-istrinya semata. Di sini ada karakteristik Syetan yang memang lihai beradaptasi dengan manusia yang ditipu dan diperdaya olehnya.

Ketika dia menggoda orang sekelas Abu Hurairah, tentu ia berpenampilan cerdas, menarik dan meyakinkan, bukan setan sekelas ecek-ecek yang dungu dan bodoh belaka.

Kenapa orang itu tak mau dihadapkan kepada Rasulullah? Ia takut karakteristiknya terbuka dan terbongkar habis di hadapan Rasul. Ia paham Rasulullah itu seorang ahli jiwa yang pandai membaca watak dan karakteristik, bahkan melampaui kemampuan para psikolog manapun.

Padahal, kalau ia manusia normal, mestinya ia senang dihadapkan kepada Rasulullah yang merupakan sumber ilmu dan hikmah. Orang yang berbuat salah tetapi menyadari kesalahannya, dan ingin membenahi sifat buruknya, tentu dia akan senang hati dihadapkan kepada Rasulullah.

Adapun orang yang tak punya hati, dan tak punya itikad baik sama sekali, ia enggan untuk menyadari kekhilafannya. Dengan demikian, ia enggan pula untuk bertobat atas segala dosa dan kesalahan yang dilakukannya. Karena itu, para koruptor yang terbiasa mencuri dan merampok uang rakyat, tentu akan konek dengan orang pintar sekelas dukun atau kiai yang minim ilmu dan hikmahnya.

Tetapi, kiai yang berilmu, zuhud dan wara’, tentu figur-figur yang mendatangi dirinya adalah orang-orang yang butuh ilmu dan hikmah bagi perbaikan moral dan kemaslahatan dirinya dan orang banyak. Wassalam./ Enzen Okta Rifai

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abu Hurairahgodaan setansetan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya AR Baswedan: Sumpah Pemuda Arab dan Nasionalisme
Tulisan selanjutnya Jalan Syahadat Si Ratu Pesta Amerika

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mengenang Pembantaian Srebenica, Ribuan Peserta Susuri Rute Pelarian Korban Genosida

Berita
10 Juli 2026 05:00
Perwira Cadangan ‘Israel’: Pasukan Kami Sedang Mengalami Kemerosotan Moral
Dialog Manhaj Aqidah Muhammadiyah: Asy’ari Bagian dari Ahlus Sunnah
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Pejabat Libanon Konfirmasi Keikutsertaan Negaranya dalam Pembicaraan dengan Israel di Roma

Terbaru

  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?