Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Rekayasa Masa Depan Umat dengan Berjamaah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Juli 2011 09:02 9:02 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Juli 2011 09:02
Bagikan
Bagikan

oleh: Dr. Abas Mansur Tamam

ADA fenomena aneh di beberapa mesjid tua di Mesir, seperti Masjid Amru bin Ash (dibangun tahun 21 H) dan Masjid Al-Azhar (dibangun masa Dinasti Fathimiah), yaitu mihrabnya empat. Konon, setiap madzhab fikih memiliki mihrabnya masing-masing dan sholat berjamaah intern komunitas semadzhab saja. Kondisi semacam ini berlangsung cukup lama, sampai Sholahuddin Al-Ayubi menyatukan jamaah umat Islam.

Satu lagi adalah fenomena yang khas masjid-masjid yang dibangun pada masa Mamalik, pasca Dinasti Ayubiyyah. Masjid-masjid ini umumnya memiliki pelataran besar dengan satu mihrab, tempat dimana seluruh umat, dengan perbedaan madzhabnya, bersatu dalam sholat berjamaah. Tetapi di empat sisi masjid-masjid itu terdapat ruangan atau balkon, tempat dimana setiap madzhab membuat halakoh mengajarkan fikihnya.

Apa perbandingan antara kedua fenomena itu? Hemat saya adalah perbandingan antara perpecahan dan persatuan, fanatisme dan toleransi, keterbelakangan dan kemajuan.

Bayangkan bagaimana nasib ukhuwwah jika di waktu dan tempat yang sama berdiri empat sholat berjamaah? Bukankah Rasulullah Saw. ketika mengawali sholat memberikan instruksi agar jamaah meluruskan shaf, karena barisan yang bengkok akan membuat hati berselisih? Itulah yang membuat Abu Mas’ud Al-Anshori ketika meriwayatkan hadits ini memberikan komentar: “Wa antum alyauma asyu ikhtilafan” (kalian sekarang lebih banyak berselisih) (HR. Muslim). Jika shaf yang bengkok saja akan mengakibatkan perselisihan umat, bagaimana dengan jamaah-jamaah yang terpisah di satu tempat?

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan

Perbedaan furu’

Jika berjamaah itu dianalogikan ke dalam konteks dakwah, maka setiap komunitas yang bergerak memperjuangkan proyek-proyek umat, tidak selayaknya bergerak sendiri-sendiri alias mufaroqoh. Diperlukan kesatuan wijhah, agar proyek apapun yang digarapnya tidak menjadi kontra-produktif dengan proyek saudara-saudaranya yang lain.

Dengan kata lain, dakwah juga perlu berjamaah. Tidak hanya dalam konteks masing-masing komunitas, tetapi seluruhnya bershaf dan mengikuti pola harakah yang dikoordinasikan bersama.

Teorinya, persatuan umat tidak mengharuskan semuanya memiliki pendapat yang sama dan menjadi bagian dari komunitas yang sama.

Umat memang harus memiliki kesamaan keyakinan dan pandangan menyangkut berbagai hal fundamental, alias al-maklum minad dini bid dorurah. Tetapi persoalan-persoalan ijtihadi (furu’iyyah), meskipun semangatnya harus mencari yang kuat (rajih) dan meninggalkan yang lemah (marjuh), sampai hari kiamat khilafiyat tidak akan selesai.

Karena itu menuntut semua orang sama di bidang ini, hanya akan menambah perbedaan itu sendiri.

Rasulullah Saw. sendiri telah mengajarkan toleransi, agar umatnya menghargai perbedaan pendapat, selama dibangun di atas hujjah. Karenanya fenomena yang khas masjid-masjid Dinasti Mamalik di atas, menjadi simbol toleransi atas perbedaan-perbedaan pendapat di bidang furu’ sekaligus simbol persatuan umat.

Sekat-sekat Psikologis

Keragaman komunitas dakwah sesungguhnya wajar dan positif. Di zaman ini umat Islam menghadapi tantangan, baik internal maupun eksternal, yang tidak kurang dahsyat dibanding dengan tantangan yang pernah dihadapi dalam sejarahnya: pendidikan, pemikiran, politik, sosial, ekonomi dan seterusnya.

Di bidang pendidikan, negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia ini masih saja berada di pinggiran bangsa-bangsa lain dari sisi pengetahuan keislaman. Cirinya, kelompok-kelompok yang keluar dari mainstream keislaman tumbuh subur. Memiliki pengikut yang signifikan. Mendapatkan pembenaran dan pembelaan justru dari umat Islam sendiri.

Di bidang pemikiran, sekulerisasi dan liberalisasi yang menjadi tantangan terbesar dalam sejarah umat, justru berada dan berasal dari jantung lembaga-lembaga pendidikan Islam sendiri.

Di bidang politik, carut-marutnya pengelolaan kehidupan bernegara tetap saja menjadi fenomena di negeri ini. Meskipun reformasi telah berlalu lebih dari satu dekade. Belum lagi dalam kehidupan internasional. Negeri-negeri yang masih terjajah secara fisik di zaman ini adalah saudara-saudara kita seiman.

Tantangan besar ini tidak mungkin bisa diselesaikan hanya oleh satu komunitas. Alhmamdulillah, Allah Swt. lewat Rasul-Nya telah menjamin: “tidak akan pernah absen di tengah umat ini, kelompok yang memperjuangkan kebenaran, tidak lekang karena ada yang menghinakannya, sampai datang keputusan Allah sementara mereka tetap konsisten.” (HR. Muslim).

Buktinya, hampir setiap lini kehidupan umat ada yang menggarap. Ada yang konsern pada pemikiran keislaman, pendidikan, politik, ekonomi dan seterusnya. Masing-masing konsentrasi itu seharusnya tidak dianggap keseluruhan proyek Islam, tetapi merupakan bagian yang integral dari proyek umat.

Misalnya, ketika tantangan eksternal demikian hebat, dan kinerja umat tersedot untuk berjihad di zaman Rasulullah Saw.

Al-Quran mengarahkan agar ada komunitas khusus yang fokus pada persoalan pendidikan (tafaquh) dan dakwah (At-Taubah: 122). Itu artinya harus terjadi pembagian tugas, dan masing-masing menjadi satu dari keseluruhan.

Sebaliknya, jika masing-masing menganggap kelompok lain sebagai lawan, yang akan terjadi adalah kontra-produksi. Dan meskipun seluruh komponen sibuk bekerja, umat tetap saja akan mengalami kemandekan.

Analoginya, jika ada dua kendaraan memiliki kekuatan yang sama diarahkan dengan perlahan ke arah yang berlawanan, pasti tidak akan melahirkan gerak. Tetapi jika seluruh komponen umat dengan energi yang dimilikinya masing-masing meluncur dengan grand design yang terarah, peradaban umat tentu akan mengalami akselarasi.

Masalahnya, bagaimana grand design itu bisa diformulasi dan dalam kerangka itu setiap segmen umat bergerak? Inilah tantangan sesungguhnya.

Dibutuhkan energi besar, agar sekat-sekat psikologis umat mencair. Mau menyapa dan berdialog dengan yang lain. Mereduksi ego-sentris dengan membuang pertanyaan: dari mana Anda? Dan menggantinya dengan pertanyaan: akan kemana kita? Untuk kemudian bersama-sama merekayasa masa depan umat.

Hemat saya, harapan besar ini akan bisa segera terwujud, jika komponen-komponen umat memulai saling bersilaturahmi agar ada kesatuan hati. Wallahul muwaffiq.

Penulis adalah dosen Pusat Studi Kajian Timur Tengah dan Islam (PSKTTI) Universitas Indonesia, Jakarta dan General Manager Madani Sharia Consulting (MSC)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Suriah Akui Negara Palestina
Tulisan selanjutnya An Nahda Ajak Tunisia Rekonsiliasi Nasional

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Audiensi antara Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI dalam membahas potensi dan tata kelola pelaksanaan dam Haji di Indonesia, termasuk peluang pemanfaatan daging dam bagi masyarakat yang membutuhkan di Jakarta, Rabu (292026). ANTARAHO-Baznas RI
Berita

Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Berita
3 September 2026 15:08
Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
Tidak Bermanfaat Bagi Negara, Kenya Depak Raksasa Kimia India Tata Chemicals
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa

Terbaru

  • Tidak Bermanfaat Bagi Negara, Kenya Depak Raksasa Kimia India Tata Chemicals
  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

5 Januari 2023 14:30
ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?