Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

[Video] Banjir Parah Warga Australia Marah

Ama Farah
Terakhir diupdate: 13 Maret 2022 19:57 7:57 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 13 Maret 2022 19:57
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Dalam dua minggu terakhir, banjir di Australia bagian timur telah menewaskan sedikitnya 21 orang. Ribuan rumah tidak dapat dihuni akibat salah satu bencana alam terburuk di Australia itu.

Mengarungi air banjir berlumpur setinggi pinggang untuk menyelamatkan diri dari apartemennya, Sophia Walter mengatakan bahwa emosi pertamanya bukanlah rasa takut, melainkan kemarahan.

“Yang saya rasakan adalah kemarahan yang nyata. Marah karena hal ini terjadi lagi,” ujarnya seperti dilansir BBC Sabtu (12/3/2022).

Pada January 2011, Walter menyaksikan bukit tempatnya tinggal “berubah menjadi sebuah pulau” ketika Brisbane mengalami banjir yang digambarkan sebagai kejadian sekali dalam seabad.

“Saya ingat ketika itu saya merenung, setidaknya saya sudah melewatinya.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Namun, kurang dari sepuluh tahun kemudian, dia sekarang berdiri di antara tumpukan furnitur, peralatan elektronik rusak, dan mainan basah kuyup, yang semuanya teronggok di jalan setapak.

“Bom hujan” membuat sungai dan anak sungai di kota itu meluap dan menyebabkan kerusakan bernilai miliaran dolar. Sedikitnya lima orang di Brisbane tewas.

Banyak ilmuwan sepakat dalam pandangan mereka bahwa pemanasan global membuat banjir parah lebih mungkin terjadi di Australia utara.

Air laut yang semakin menghangat membuat uap air yang naik ke atmosfer semakin banyak, kata lembaga ilmu pengetahuan milik pemerintah Australia CSIRO. Hal itu “kemungkinan besar meningkatkan intensitas kejadian curah hujan ekstrem”.

Brisbane mendapatkan 80% curah hujan tahunan rata-rata hanya dalam tiga hari, dengan lebih banyak air jatuh di kota itu daripada air hujan yang biasanya jatuh di London selama setahun. 

Sydney mencatat awal tahun yang paling basah.

Di Queensland dan New South Wales (NSW), banjir bahkan lebih parah lagi. Di sebelah utara Brisbane, sungai-sungai yang meluap merendam daerah sekitar Gympie.

Di Lismore bagian utara New South Wales  – di mana sebagian warga bergegas ke atap rumah dan menunggu selama 24 jam atau lebih untuk diselamatkan – pembangunan kembali bangunan dan fasilitas yang rusak akan memakan waktu bertahun-tahun.

“Australia semakin sulit untuk ditempati untuk hidup karena bencana-bencana alam ini,” kata Perdana Menteri Scott Morrison dalam kunjungan ke kota pada hari Rabu.

“Tidak mungkin orang bisa mengabaikannya lagi,” kata Guy Mansfield, seorang videografer yang bergegas pada tengah malam menyelamatkan peralatan dan hard drive sebelum banjir melanda kantor bawah tanahnya.

Foto-foto berharga dan memorabilia musik lenyap. Setumpuk furnitur dan buku yang hancur menumpuk di bagian luar rumahnya di Brisbane yang baru dia beli lima tahun lalu.

“Tampaknya cerdik pindah ke daerah banjir setelah sebelumnya terjadi banjir, karena harganya sedikit lebih murah dan kami hanya mampu membeli rumah di sini,” katanya.

“Kami berpikir mungkin banjir baru akan terjadi lagi dalam 30 tahun atau sekitar itu, dan kami benar-benar akan terhindar dari banjir. Tapi ya, ini dia. Kami tidak bisa mempercayainya.”

Walter – aktivis peduli iklim – mengarahkan kegeramannya kepada pemerintah Australia yang dianggapnya terlalu lamban dalam memangkas emisi karbon dan investasi dalam energi terbarukan.

“Saya ingin melihat kebijakan yang lebih ambisius, saya ingin kita berhenti memberikan subsidi terhadap bahan bakar fosil..,” ujarnya.

Laporan yang dipublikasikan pada pertemuan tingkat tinggi COP26 tahun lalu menunjukkan Australia berada di peringkat terakhir dari 60 negara untuk kebijakan penanggulangan krisis iklim, terutama karena negara itu masih sangat bergantung ada energi batubara dan ekspor batubara.

“Kami semua frustrasi dan kami hanya perlu menyampaikan pesan bahwa kita tidak bisa menunda lagi,” kata Prof Lesley Hughes, seorang ilmuwan iklim dan wakil rektor di Macquarie University.

“Ini adalah ancaman eksistensial paling penting bagi umat manusia yang pernah ada. Memang ada banyak hal yang menyedot perhatian kita, seperti krisis di Ukraina, dan tragedi-tragedi lain yang mengejutkan. Namun, dalam jangka panjang, [masalah yang perlu mendapatkan perhatian] adalah perubahan iklim,” kata Prof Hughes.

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Australiabanjirpemanasan globalperubahan iklim
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rupiah Banda Wafat, Meninggalkan Bercak Kasus Korupsi
Tulisan selanjutnya masjid ukraina Rusia Dilaporkan Bombardir Masjid yang Tampung 80 Orang di Mariupol, Ukraina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?