Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Deislamisasi Identitas Wanita Muslimah Indonesia (2)

Ahmad
Terakhir diupdate: 21 Maret 2022 14:00 2:00 pm
Ahmad
Dipublikasikan 21 Maret 2022 14:30
Bagikan
muslimah indonesia
Bagikan

Sambungan dari artikel pertama, Deislamisasi Identitas Wanita Muslimah Indonesia

Muslimah berkontribusi besar dalam perjuangan Indonesia, sehingga kita perlu sedini mungkin untuk memulai membangun kesadaran kritis mengenai sejarah identitas

Daftar isi
  • Sambungan dari artikel pertama, Deislamisasi Identitas Wanita Muslimah Indonesia
        • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Oleh: Krisna Wijaya

 

Hidayatullah.com | KEMBALI mengingat bahwa salah satu langkah terpenting dalam memperbaiki peradaban adalah dengan dengan memperbaiki sejarahnya. Sejarah ini menjadi suatu bagian yang sangat penting untuk diperhatikan oleh stakeholder dunia pendidikan.

 

Baca Juga

Patriotik, Gigih, Berempati: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pemuda?
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Muhammad Asad dalam bukunya Islam at the Crossroads, menulis, “No civilization can prosper – or even exist, after having lost pride and the connection with its own past…”

 

Membaca Sejarah

Ketika berbicara mengenai Islam dan sejarah, Dr. Adian Husaini juga menegaskan bahwa, “Seperti menyadari benar potensi Islam untuk kebangkitan sebuah peradaban, maka selama ratusan tahun telah dilakukan berbagai usaha untuk memperkecil peran Islam, tak terkecuali di Nusantarta.”

 

Lebih spesifiknya lagi, Dr. Muhammad Isa Anshory menerangkan bahwa, “Di Masa penjajahan, Belanda datang ke Indonesia bukan hanya sebatas mengeksploitasi kekayaan alam saja, namun mereka juga berupaya untuk menghilangkan pengaruh Islam terhadap bangsa Indonesia. Bersama para orientalisnya, kaum kolonial Belanda berusaha memperkecil arti dan peran Islam dalam sejarah Melayu-Indonesia.”

 

Berkaitan mengenai masalah ini, pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas dalam karyannya Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu juga menuliskan bahwa, “Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekirannya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini. Namun begitu, baik dalam tulisan Hurgronje maupun dalam tulisan Van Leur, tidak terdapat hujjah-hujjah ilmiah yang mempertahankan pandangan demikian mengenai Islam dan peranan sejarahnya.”

 

Mengapa Harus Kartini?

Apabila masalah ini dikaitkan mengenai sejarah wanita, Dr. Tiar Anwar Bachtiar juga pernah menuliskan kritiknya mengenai penulisan sejarah wanita di Indonesia. Beliau mengajak kepada kita semua untuk mulai mempertanyakan sejarah tentang mengapa harus Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilik Kartini? Dan mengapa bangsa Indonesia mengikuti pemilihan tokoh itu?

 

Padahal ada banyak wanita yang hidup sezamannya lebih berpikiran sangat maju. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon dengan menerbitkan surat-suatnya, maka Rohana telah berperan lebih besar dengan menyebarkan ide-idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang), Wanita Bergerak (Padang), Radio (Padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).’

 

Ketika berbicara mengenai pendidikan, Dewi Sartika ataupun Rohana Kudus bukan lagi hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Di masa mereka hidup pun telah berhasil mendirikan sekolah yang bernama Sakola Kautamaan Istri (1910) yang ada di Bandung dan Luar Bandung.

 

Begitu juga dengan Rohana Kudus, beliau semasa hidupnya juga berhasil mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), bahkan Rohana juga menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis muslimah pertama di negeri ini.

 

Kalaulah ada yang sempat menerbitkan pikiran-pikiran Rohana dalam berbagai surat kabar sebagaimana yangt terjadi pada Kartini, tentu apa yang dipikirkan oleh Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini.

 

Bahkan tidak hanya Rohana dan Dewi Sartika saja, tokoh-tokoh lain seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Siti Walidah (Nyai Dahlan), Rahmah El Yunusiyyah, Rasuna Said, atau bahkan Laksanama Muslimah Malahayati yang tercatat sebagai laksamanan muslimah angkatan laut pertama di Indonesia pun memberikan kontribusi yang lebih besar dalam jihad memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

 

Mereka semua adalah sedikit di antara contoh-contoh tokoh pejuang muslimah yang turut berjihad menyumbahngkan perjuangannya untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tetap mempertahankan identitas kemuslimahannya.

 

Bahkan Rohana Kudus, Rahmah El Yunusiyyah, Nyai Dahlan, dll., juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai kedudukan laki-laki (sebagaimana paham yang diangat oleh kaum feminisme yang meyakini bahwa laki-laki dan perempuan harus mendapat hak sama yaitu 50:50).

 

Kita rindu akan sosok seorang mujahidah yang di satu sisi berjiwa patriot dan siap berjuang pada bangsa dan agamannya dan di sisi lain tetap mempertahankan visi keislamannya sebagai seorang muslimah yang bernafaskan identitas Islam dalam sanubarinya.

 

Bayangkan, jika lagu nasional ‘Ibu Kita Kartini’ mengadopsi akan sejarah mujahidah muslimah selain tokoh Kartini. Barangkali anak-anak kita akan diajari bernyanyi dengan lirik: Ibu kita Cut Nyak Dien, Putri Sejati. Putri Indonesia…, mungkin kita tidak perlu risau akan gerakan paham kesetaraan gender yang saat ini begitu menancap dalam sanubari muslimah Indonesia.

 

Oleh  karena itu, kita perlu sedini mungkin untuk memulai membangun kesadaran kritis mengenai sejarah identitas wanita muslimah Indonesia. Hal ini bisa di mulai dengan mempertanyakan secara serius: Mengapa harus Kartini?*

Junior Researcher at Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS) University of Darussalam Gontor

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:deislamisasimuslimah IndonesiaRA Kartini
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya pawang hujan mandalika Profil Dukun Rara, ‘Pawang Hujan’ Mandalika yang Dibayar BUMN Hingga Ratusan Juta
Tulisan selanjutnya haris azhar Hadiri Pemeriksaan di Polda Metro atas Laporan Luhut, Haris Azhar: Ini Politis dan Upaya Pembungkaman!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Prioritaskan Warganya Malaysia akan Kurangi Pekerja Asing

Berita
28 Oktober 2026 19:13
LPH Hidayatullah Sambangi BPJPH, Bahas Penguatan Regulasi, Kompetensi dan Integritas Auditor
Pejabat Pertahanan Aliansi Mekkah Dikabarkan Bakal Kunjungi Iran, Bahas Keamanan Regional
Madinah dan Istana Kepresidenan Yaman Jadi Target Serangan Houthi
Kelompok Hacker Handala Bobol Sistem ‘Israel’, Curi 150 GB Dokumen Sensitif

Terbaru

  • Akademisi Swedia Dilarang Masuk Inggris Jelang Penampilan Bersama Pendiri Palestine Action
  • LPH Hidayatullah Sambangi BPJPH, Bahas Penguatan Regulasi, Kompetensi dan Integritas Auditor
  • Madinah dan Istana Kepresidenan Yaman Jadi Target Serangan Houthi
  • Tolak Konser Andrea Bocelli di Indonesia, UBN: Jangan Beri Panggung Pendukung Genosida
  • Meretas untuk Kepentingan Rezim Assad Pria Suriah Divonis 42 Bulan Penjara
  • Pengembangan AI Membuat Investor Alphabet, Amazon, dan Microsoft Khawatir
  • Koalisi Pimpinan Arab Saudi Umumkan Tembak Jatuh Drone Houthi di Mekkah
  • Pekerja Pelabuhan di 20 Negara akan Gelar Mogok Kerja Serentak untuk Palestina
  • Tak Sekedar Tontonan, Film Buya Hamka Vol 3 Jadi Tuntunan Antar Generasi
  • Memahami Wahyu dan Kenabian: Fondasi Keyakinan Islam di Tengah Tantangan Pemikiran Barat

Mungkin Anda Juga Suka

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?