Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KesehatanRamadhan

Penelitian: Ibadah Ramadhan Membantu Menenangkan Otak

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 4 April 2022 11:22 11:22 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 4 April 2022 12:00
Bagikan
ibadah ramadhan
Bagikan

Melalui teknologi scan, pakar neuroteologi AS menemukan shalat dan ibadah Ramadhan membantu menenangkan otak

Hidayatullah.com | RAMADHAN, bulan suci bagi para umat Islam, telah ditetapkan pada awal April 2022 ini. Selama bulan Ramadhan atau dikenal juga sebagai bulan untuk memperingati momen Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu pertama-Nya, Muslim akan banyak melakukan ibadah, membaca Al-Qur’an, menahan makan dan minum di siang hari.

Menurut para ilmuwan, bahkan sesuatu yang sederhana seperti ibadah harian dapat mengirim isyarat ke otak dan dan menciptakan perasaan transendensi dan kesatuan. Diawali dengan niat yang benar, ibadah keagamaan tersebut dapat menyatukan seluruh umat dengan sekitarnya dengan yang maha kuasa.

“Berpuasa, kurang tidur, kehilangan kesadaran, bermeditasi dalam ruangan yang sunyi—tidak satu pun dari praktik-praktik ini dan diri mereka sendiri adalah suatu pengalaman religius. Tetapi mereka mendapatkan pengalaman tersebut dalam diri seseorang yang menenangkan otak sehingga apa pun yang terjadi menjadi lebih bermakna,” jelas Dr. Andrew Newberg, direktur penelitian di Marcus Institute of Integrative Health dan pelopor dalam bidang neuroteologi—yaitu studi tentang ilmu saraf di balik suatu agama.

Andrew Newberg sebelumnya, telah meneliti seorang kegiatan seorang biarawati dan buddhis selama bertahun – tahun.

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Jubah 1.000 Dirham: Totalitas Tamim Ad-Dary Menjemput Lailatul Qadar
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman

Ilmu Puasa dan Praktek Ramadhan

Professor biologi di University of Hassan II di Casablanca, Maroko, Rachida Roky, menjelaskan bahkan tiga makanan yang normalnya dikonsumsi ketika pagi dan siang hari berubah menjadi malam hari saat Ramadhan dan berakibat pada kualitas tidur Muslim selama bulan tersebut.

Rachida Roky mengatakan bahwa saat seseorang makan, suhu tubuh akan meningkat dan suhu tubuh itu akan mempengaruhi kualitas tidur. Melalui EEG (elektroensefalografi), ia menunujukkan bahwa selama Ramadhan Muslim memiliki REM sleep yang kurang, yang berarti mereka lebih sedikit bermimpi dan waktu tidur yang lebih sedikit.

Menurut Dr. Ahmed BaHammam, seorang professor kedokteran di King Saud University di Arab Saudi dan direktur University’s Sleep Disorder Center, mengungkapkan bahwa di negara-negara Muslim banyak orang yang tidur lebih lambat selama Ramadhan. Hal ini mengabaikan jam biologis mereka yang tidak sinkron dengan siklus matahari.

Dengan semua faktor tersebut, para ilmuwan menjelaskan bahwa itulah yang membuat Ramadhan menjadi waktu yang tidak biasa dan membingungkan. Berpuasa sepanjang hari dan makan serta bersosialisasi di malam hari menurunkan kualitas indera otak untuk membedakan siang atau malam, waktu untuk bangun atau tidur.

Ilmu Ibadah ramadhan

Beberapa otak para Muslim mungkin juga terpengaruh dengan waktu yang mereka habiskan saat melakukan ibadah selama Ramadhan. Dengan menggunakan scan, Newberg menunjukkan bahwa lobus frontal manusia saat berkonsentrasi atau melakukan sesuatu dengan sengaja “cenderung tidak aktif” selama beribadah secara intensif.

Dari hasil scan menunjukkan bahwa Muslim yang beribadah “kehilangan tujuan dan menyerah pada pengalaman,” ujarnya.

Newberg menambahkan bahwa ia menemukan hasil yang sama ketika ia mempelajari otak orang-orang Kristen Pantekosta yang berbicara dengan bahasa roh. “Mereka menyerakan diri pada vokalisasi ini,” katanya.

Newberg menegaskan bahwa perubahan dalam otak ini tidak terjadi pada semua orang. Penelitiannya telah menunjukkan bahwa niat adalah yang terpenting.

Ia merujuk pada sebuah eksperimen yang ia lakukan pada dirinya sendiri dan Rabbi yang merupakan partner penulis buku terbaru Newberg berjudul “The Rabbi’s brain: Mystics, Moderns and the Science of Jewish Thinking,” sebagai contohnya. Mereka berdua menjalani pemindaian otak sambil mengucapkan shma, (sebuah doa pagi dan petang pemeluk Yahudi), untuk membandingkan bagaimana otak seorang Yahudi sekuler.

Newberg memiliki ketertarikan sentimental pada ibadah itu, tetapi sedikit lebih berbeda dengan otak seseorang yang percaya pada komitmen.  “Otak saya tidak banyak bekerja selama mengucapkan shma,” ujar Newbeerg.

“Namun otak dia melakukan sesuatu yang menarik. Sebagian dari lobus frontal-nya bergerak naik dan turun—sebagian yang naik dikarenakan ia sedang berkonsentrasi mengucapkan doa itu dan sebaliknya bergerak turun karena ia menyerah.”

Sehingga ketika tubuh kita menyatakan dapat memfasilitasi pengalamaan religius, niat yang diucapkan untuk beribadah adalah kuncinya.

Penelitian Shalat

Sebelum ini, tahun 2016, Newberg telah peneliti hubungan yang kuat antara aktivitas otak dan praktik keagamaan. Hasilnya ditemukan perbedaan aktivitas otak individu yang taat beragama sebelum beribadah, setelah beribadah dan individu ateis sebelum bermeditasi dan setelah bermeditasi.

Pemindaian otak para obyek penelitian menunjukkan penurunan aktivitas di lobus frontal dan parietal

“Studi kami menunjukkan bahwa praktik sholat Islam memiliki efek yang kuat pada otak,” kata Andrew Newberg. “Selanjutnya, penelitian kami sebelumnya dan literatur yang berkembang yang meneliti efek doa di otak memungkinkan kami membandingkan shalat dengan praktik keagamaan dan spiritual lainnya.”

Shalat menunjukkan beberapa kesamaan dengan praktek Kristen Pantekosta, di mana partisipan sering melaporkan perasaan menyerah kepada kekuatan yang lebih tinggi dan “kesatuan” dengan Tuhan atau alam semesta. Pemindaian otak para obyek penelitian menunjukkan penurunan aktivitas di lobus frontal dan parietal.

Lobus frontal bertanggung jawab untuk banyak fungsi tetapi terkait dengan perilaku dan gerakan tubuh yang disengaja atau disengaja, sedangkan lobus parietal mengambil informasi sensorik untuk membangun rasa diri dan bagaimana hal itu berkaitan dengan dunia.

Sebaliknya, penelitian Dr. Newberg sebelumnya menemukan kesamaan antara praktik yang berfokus pada perhatian seperti doa Pemusatan Biarawati Fransiskan dan meditasi Buddhis yang keduanya menunjukkan peningkatan aktivitas lobus frontal.

Ada juga beberapa karakteristik unik dari shalat, terutama peningkatan aktivitas di cingulate anterior yang sangat mengatur emosi, dan nukleus berekor yang merupakan bagian dari sistem penghargaan di otak.

“Studi kami memunculkan pertanyaan besar tentang persamaan dan perbedaan praktik keagamaan dan spiritual. Ketika mereka berbeda – apakah itu karena sistem kepercayaan atau cara praktiknya?,” ujar Newberg.*/Annisa Yapsa Azzahra

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Manfaat PuasaotakRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya negara seperti nabi Mahfud MD Sebut Haram Hukumnya Dirikan Negara Seperti Nabi
Tulisan selanjutnya Layanan Emirates Ramadhan Maskapai Emirates Sambut Ramadhan dengan Kembalinya Layanan Spesial

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Inspirasi RamadhanRamadhan

Bulan Puasa Melatih Pola Hidup Sederhana

16 Maret 2026 05:00
BeritaInspirasi Ramadhan

Dapur Ramadhan Hammad: 500 Ifthar Harian Plus 50.000 Dirham Lebaran

15 Maret 2026 17:00
Ramadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 8 : Saat Hitungan Sebulan Ramadhan Jadi 120 Hari

15 Maret 2026 11:30
KajianRamadhan

Selain yang Iktikaf, Siapa Saja yang Berpeluang Mendapat Lailatul Qadar?

15 Maret 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?