Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KajianOase Iman

Memuliakan Ulama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 April 2022 11:49 11:49 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 April 2022 15:00
Bagikan
Bagikan

Ulama bukan sekedar embel-embel,  atau stempel tetapi orang berilmu yang mengamalkan agar orang semakin takut kepada Allah Swt, mari memuliakan ulama seperti ini

Hidayatullah.com | DALAM pandangan Islam, ilmu mendapatkan tempat yang tinggi. Maka, orang yang memiliki ilmu juga memperoleh maqam mulia. Allah Swt memberi beberapa “derajat”  kepada orang beriman dan yang berilmu (QS. Al-Mujadalah: 11). Jadi, segala hal yang bernisbah kepada ilmu akan menjadi mulia.

Khalifah Harun ar-Rasyid, merupakan salah satu khalifah yang cinta ilmu dan memuliakan para ulama. Ia memiliki dua putra yang mulazamah dengan seorang alim bernama Syeikh Ashma’i. Salah satu kehebatan dua putra kepala pemerintahan Islam ini adalah adab kepada gurunya.

Harun Ar-Rasyid memerintahkan kepada kedua putranya untuk khidmah kepada gurunya itu. Ia akan menghukum bila ketahuan anaknya teledor dalam melayani guru. Suatu hari, dua putra ini ribut.

Setelah didatangi, ternyata mereka berdua berebut menyiapkan sandal gurunya itu. Agar tidak bertengkar, maka Syaikh Ashma’i, sang guru, meminta kepada keduanya untuk membagi tugas menyiapkan sandalnya. Sandal kiri dan sandal kanan disiapkan oleh keduanya.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam

Kisah tersebut merupakan hanya sepenggal tradisi dari orang-orang terdahulu dalam menghormati ilmu dan ahli ilmu. Suatu masa dimana ilmu jauh lebih berharga daripada uang dan orang mendapatkan kehormatan karena ilmu, bukan harta.

Menurut beberapa cerita, di masa Kekhalifahan Abbasiyah, para pemuda berlomba-lomba untuk menjadi ahli ilmu. Pemudanya tidak tamak pada harta, tetapi tamak pada ilmu.

Cita-cita yang menjadi idaman adalah menjadi ahli ilmu. Cita-cita mereka bukan menjadi artis, penyanyi, dan lain-lain.

Era itu memang dunia ilmu pengetahuan berada dalam genggaman para ulama di Timur Tengah dan Andalusia. Konon, pemuda-pemuda Eropa merasa bangga jika bisa berbahasa Arab.

Karena itu, tidak ada orang yang bisa berhasa Arab kecuali mereka adalah orang terdidik. Bahkan, pakaian orang Arab pun dibanggakan. Di pusat-pusat kota Baghdad dan Cordoba ditemukan pemuda Jerman, Prancis, Inggris yang belajar di teras-teras masjid, mereka sedang kuliah.

Pemuda Eropa yang seperti inilah yang akan menjadi pelopor kebangkitan bangsa Barat. Menurut kepercayaan orang-orang di masa itu, hormat kepada ahli ilmu bisa mengundang keberkahan hidup.

Persis seperti pernah dikatakan oleh Imam Al-Haddad: “Minimnya faidah yang diperoleh orang sekarang karena kurangnya mereka ta’dzim kepada ulama. Akibatnya mereka terhalang mendapatkan kebaikan ilmu.”

Tetapi, sifat-sifat ahli ilmu atau ulama yang diposisikan agung dalam tradisi para ulama dahulu itu cukup ketat. Bukan sekedar luas pengetahuan, pintar berdalil, dan berceramah.

Ulama yang memiliki sifat sebagai “nuwwab” (pengganti) Nabi Muhammad ﷺ itu disebutkan kriterianya dalam al-Qur’an. Ahli ilmu pemegang pewaris Nabi ﷺ adalah; pertama, “alim-‘amil”. Memahami dan menguasai ilmu agama dari Allah melalui Rasul-Nya serta mengamalkan ilmunya. Kedua, “tafaqquh fid din”.

Allah Swt menjelaskan dalam al-Qur’an surat at-Taubah: 122, bahwa hendaknya tidak semua orang pergi berperang. Harus ada kelompok kecil (thaifah) yang mengkaji ilmu agama agar mereka bisa memberi peringatan kepada umat manusia. Ketiga, “rasikh” yaitu pengetahuannya mendalam.

Sebagaimana dijelaskan Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 7 bahwa orang berilmu yang “rasikh” itu memahami ayat-ayat Allah Swt secara mendalam. Para ulama ahli tafsir menjelaskan kriteria “rasikh” ini.

Yaitu mereka yang akar-akar ilmunya mendalam sehingga ilmu yang dimiliki tidak mudah jatuh. Mereka kelompok kecil yang kokoh ilmu dan imannya sehingga tidak gampang melenceng digoda oleh beragama fitnah-fitnah.

Sebagian ahli tafsir menjelaskan maksud “rasikh” yaitu mereka yang kuat ilmunya sehingga tidak menjual ilmu itu dengan harta yang murah.

Dengan sifat itu, ahli ilmu menjadi manusia yang paling takut kepada Allah Swt. Mereka tidak takut manusia, apalagi tidak takut dengan harta.

ؕ اِنَّمَا يَخۡشَى اللّٰهَ مِنۡ عِبَادِهِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ غَفُوۡرٌ

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.” (QS: Surat Fathir: 28).

Oleh sebab itu, banyak pengetahuan agama saja tidak cukup, tetapi mereka harus paling takut kepada Allah Swt. Sebagai “nuwwab” Nabi, maka tugas ulama tidak jauh beda dengan tugas Nabi.

Yakni menyampaikan kebenaran dari Allah kepada manusia, mengajak manusia menjadi baik. Tugas tersebut terangkum dalam konsep “amar ma’ruf nahi munkar”.

Setiap ulama pasti menjalankan tugas “amar ma’ruf nahi munkar”. Oleh sebab itu, cobaan para ulama itu cukup berat, sebagaimana cobaan para Nabi itu juga sangat berat.

Ada seorang ulama alim sedih ketika muridnya yang menjadi ulama itu jalan dakwahnya manis terus. Tidak ada rintangan dan yang menggodanya.

Ketika ada khabar si muridnya itu dijebloskan penjara karena difitnah orang yang hasud, sang Syaikh justru bahagia. “Alhamdulillah, kali ini aku yakin kamu sudah berada di jalan ulama salaf”, tutur sang Syaikh.

Ulama bukan sekedar embel-embel, bukan cap, stempel tetapi mereka adalah orang berilmu yang mengamalkan apa yang diketahuinya yang menjadikan semakin takut kepada Allah Swt. Mereka dimuliakan Allah, manusia wajib memuliakan apa saja yang dimuliakan-Nya. Tempatkan sesuatu sesuai pada maqamnya.*/Dr. Kholili Hasib, peneliti InPAS, dan dosen Pascasarjana IAI Dalwa

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:memuliakan ulamaulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya BMKG Umumkan Status Gunung Anak Krakatau Level 3, Minta Masyarakat Siaga
Tulisan selanjutnya vaksinasi 2021 jamaah haji BPKH Sebut Subsidi Biaya Ibadah Haji 2022 Rp 41 Juta per Orang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat

Berita
15 Oktober 2026 18:48
Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi

29 September 2026 08:30
Kajian

Al-‘Aqabah: Jalan Terjal Menuju Peradaban Fitrah

15 September 2026 13:13
Kajian

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat

22 Agustus 2026 11:43
Kajian

Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol

22 Agustus 2026 10:58
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?