Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kesehatan

5 Langkah untuk Hindari Terkena Alzheimer

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 16 Juni 2014 20:52 8:52 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 16 Juni 2014 17:12
Bagikan
Bagikan

SUNGGUH sulit mengidap penyakit yang membatasi kemampuan kita berinteraksi dengan keluarga dan teman-teman. Itulah yang membuat Alzheimer disebut sebagai penyakit yang mengganggu.

Alzheimer merupakan penyebab paling umum dari demensia, suatu istilah yang menggambarkan serangkaian gejala yang mencakup kehilangan memori, perubahan suasana hati, serta masalah komunikasi dan penalaran.

Khusus di Amerika diperkirakan terdapat lebih dari 5 juta orang mengidap penyakit Alzheimer. Jumlah ini bisa mencapai tiga kali lipat pada tahun 2050 jika tidak ada terobosan medis yang signifikan, kata Asosiasi Alzheimer.

Para ilmuwan belum sepenuhnya memahami penyebab penyakit Alzheimer. Gen memainkan peran penting dalam kemunculannya. Tapi ada penelitian baru yang menyebutkan lemak perut pada orang-orang setengah baya menjadi salah satu pemicunya.

Menurut para peneliti di Rush University Medical Center, protein yang bertugas melakukan metabolisme lemak dalam hati adalah protein yang sama ditemukan di bagian otak yang mengontrol memori dan belajar. Orang dengan lemak perut lebih tinggi akan menguras protein yang melakukan metabolisme, membuat mereka 3,6 kali lebih mungkin menderita kehilangan memori dan demensia di kemudian hari.

Baca Juga

Jangan Anggap Sepele Hernia
Riset: Remaja Pengguna Vape Lebih Berisiko Jadi Perokok
Vape Ancaman Baru Remaja, Perlu Ada UU yang Tegas
Makanan Cepat Saji Tingkatkan Risiko Kanker Paru-Paru
Tekanan Akademis dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Apakah Anda bisa mengatasi semua itu? Anda mesti membantu mengurangi lemak perut berbahaya guna mengurangi risiko terkena Alzheimer dengan melakukan diet sehat dan olahraga teratur. Tetapi Anda juga dapat mempertimbangkan tips berikut yang merupakan hasil penelitian, sebagaimana dilansir ABC News belum lama ini:

Hindari Makanan Terpapar Pestisida

Peneliti mengatakan, paparan DDT –toksin yang dilarang di Amerika Serikat sejak 1972, tetapi masih digunakan sebagai pestisida di negara-negara lain– dapat meningkatkan risiko dan tingkat keparahan penyakit Alzheimer, terutama pada mereka yang berusia di atas 60.

Dalam penelitian yang diterbitkan JAMA Neurology, ilmuwan Rutgers menemukan bahwa tingkat DDE, senyawa kimia yang tersisa ketika DDT terurai, empat kali lebih tinggi dalam darah pasien penyakit Alzheimer dibandingkan dengan mereka yang tanpa penyakit. Orang mungkin terkena pestisida beracun ketika mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, yang terkena DDT. Atau makan ikan dari perairan yang terkontaminasi. Carilah makanan organik yang bebas pestisida!

Lakukan Diet Makanan

Jika ada saat yang paling penting untuk melakukan diet guna mencegah risiko Alzheimer, di usia setengah bayalah saatnya.

Dalam penemuan untuk disertasi doktor –yang menyelidiki hubungan antara diet sehat di usia baya dan risiko munculnya demensia di kemudian hari— disarankan menjalankan konsumsi makanan sehat di usia 50-an. Diet ini dapat mengurangi risiko demensia hampir 90 persen di kemudian hari. Salah satu adalah Diet Mediterania, yang kaya dengan sayuran, buah-buahan, ikan dan lemak tak jenuh dari kacang-kacangan, terbukti sangat bermanfaat. Menurut peneliti, mereka yang secara genetik rentan terhadap Alzheimer, setidaknya dapat menunda timbulnya penyakit dengan mengurangi asupan lemak jenuh yang ada pada daging dan susu.

Belajar Bahasa Lain

Satu penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology menunjukkan, berbicara bahasa kedua dapat menunda timbulnya tiga jenis demensia. Studi ini menemukan, orang yang berbicara dua bahasa dapat menunda terkena demensia empat setengah tahun kemudian dibandingkan orang yang hanya berbicara satu bahasa.

Berbicara lebih dari satu bahasa diduga dapat mengembangkan yang lebih baik area otak yang menangani fungsi eksekusi dan pelaksanaan tugas, yang dapat membantu melindungi dari timbulnya demensia.

Membaca dan Beristirahat (tetapi jangan terlalu banyak)

Ini tampaknya bisa benar-benar secara tepat menjaga fungsi kognitif, menurut studi terbaru yang dilakukan tim peneliti di Spanyol. Temuan mereka menunjukkan, melakukan rangsangan terhadap otak dan tidur cukup untuk mengistirahatkan pikiran dan tubuh, adalah penting untuk menjaga perkembangan kognitif.

Tidur lebih dari 8 jam dan kurang dari 6, dan kurangnya stimulasi kognitif seperti membaca, dapat menyebabkan peningkatan risiko penurunan kognitif sebesar 2,6 kali pada orang di atas 65, menurut penelitian di jurnal Revista de Investigación Clínica. Jadi saat ini aturlah alarm jam Anda, dan kunjungi perpustakaan untuk membaca buku yang diminati guna menghindari penurunan kognitif.

Beri ‘Makan’ Hippocampus

Perlu diketahui otak bisa menyusut bersamaan dengan bertambahnya usia. Paling rentan terhadap terhentinya pertumbuhan adalah hippocampus, bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk memori dan penalaran spasial. Itu merupakan wilayah pertama yang diserang penyakit Alzheimer.

Tapi studi terbaru menunjukkan, Anda dapat mencegah atrofi (berhentinya pertumbuhan) dan menunda timbulnya penurunan kognitif dengan memberi ‘makan’ hippocampus Anda melalui olahraga.

Para peneliti di University of Maryland School of Public Health melacak empat kelompok orang sehat berusia 65-89, yang memiliki kemampuan kognitif yang normal, selama periode 18 bulan. Kelompok-kelompok diklasifikasikan antara risiko rendah dan tinggi terkena Alzheimer (berdasarkan ekspresi gen) dan tingkat aktivitas fisik yang rendah atau tinggi.

Dari empat kelompok yang diteliti, hanya mereka yang berisiko genetik tinggi terkena Alzheimer sekaligus tidak berolahraga mengalami penurunan volume hippocampus (3 persen). Mereka yang selalu aktif bergerak, bahkan walaupun tergolong berisiko tinggi terkena Alzheimer, diketahui dapat menjaga volume otaknya.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Alzheimer
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dua Toko Ritel Milik Pemimpin Al-Ikhwan Disita
Tulisan selanjutnya Saksi: Senkom Mitra Polri Rutin Rapat dengan LDII

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Kesehatan

Studi: Manfaat Utama Kopi Bagi Kesehatan Tergantung Waktu Meminumnya

15 Januari 2025 07:30
Kesehatan

Hindari Tertular HMPV, Pakar UGM Anjurkan Masyarakat Ikuti Pola Hidup Sehat

10 Januari 2025 13:20
Kesehatan

Terbukti, Konsumsi Alkohol Penyebab hampir 1 Juta Kasus Kanker di Amerika Serikat

7 Januari 2025 11:10
Kesehatan

Studi: Setiap Batang Rokok Merampas 20 Menit Kehidupan Perokok

5 Januari 2025 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?