Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Jejak Kisah Muhammadiyah Dituduh Berhaluan Wahabi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Agustus 2022 17:12 5:12 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Agustus 2022 17:10
Bagikan
Bagikan

Dalam Kongres Islam di Surabaya tahun 1924, meneguhkan ajaran Muhammadiyah bukan wahabi, meski demikian, selama perjalan sejarah, organisasi terus diserang dengan tuduhan serupa

Hidayatullah.com | PADA tanggal 13 dan 14 November 1923, Muhammadiyah menggelar pertemuan di Blitar. Di antara keputusan yang dicanangkan kala itu adalah mendirikan cabang Aisyiyah di Blitar.

Dalam momen itu dikisahkan tentang stigma negatif orang-orang terhadap Muhammadiyah. Sebagai contoh: Muhammadiyah dituduh menghalalkan percampuran antara laki-laki dan perempuan.

Padahal, yang dicampur itu adalah masih anak-anak yang belum usia baligh dan dalam lingkup sekolah. Rupanya, setelah berdirinya Aisyiyah, caciaan dan cercaan berganti pula.

Muhammadiyah pernah dituduh keluar dari mazhab empat. Maksudnya, mazhab yang dipakai Muhammadiyah adalah Wahabiyah dan lain sebagainya.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Dalam satu perkumpulan di Blitar itu, saat sesi tanya-jawab, ada seorang sayid dari Pekalongan (namanya tidak disebut) mengacungkan tangan dan minta kesempatan untuk berbicara.  Kisah ini, ditulis oleh Surat Kabar Sri Djojo Bojo, N0. 41: 15 Desember 1923.

“Saia soeda mengerti semoea ketrangan tadi. Ja betoel itoe tidak ada jang meleset dari wetnja igama islam. Tetapi saia anti bisa membikin salahja MD.”

H. A. Aziz –tokoh Muhammadiyah– mempersilakan sayid asal Pekalongan itu untuk menunjukkan kesalahan Muhammadiyah. Ia pun mulai berkata, “Kalau jang saia dapat itoe M.D. sebetoelnja perkoempoelan jang memakai mazhab lain mazhabnja ahloessoennat wal djamaah tetapi mazhabnja S. Abdulwahanen Nedjdij, jaitoe Wahabijah namanja, meskipoen saia beloem tahoe benar benar tentang Wahabi itoe, jang mengetahoei hanja bangsa oelama oelama sadja. Tetapi saja jakin jang MD. itu Wahabi. Dan dapat saudara saudara di Blitar sini tida perloe memakai agama Moehammadijah ini. Karena agama jang kita djalankan itoe soeda menoeroet nenek mojang kita jaitoe mazhab soennah wal djama ah; dan jang kita pakai ja kitab kitabnja oelama oelama ahloessoennah wal djama ah tetapi kalau MD tida jaitoe kitab karangannja S. Abdoelwahab; Ibnu Taimyah; Sajid Ali Rida dan ada lagi saja loepa. Alhasil, saudara saudara djangan memakai M.D.” pungkasnya. (Surat Kabar Sri Djojo Bojo, N0. 41: 15 Desember 1923).

Syubhat yang diketengahkan oleh sayid Pekalongan itu kemudian ditanggapi oleh Tuan H. A. Aziz. Katanya, ada inkonsistensi pernyataan dari sayid Pekalongan itu.

Awalnya ia sudah mengakui bahwa apa yang disampaikain oleh wakil Muhammadiyah sudah benar dan tidak melenceng dari agama Islam. Namun sesudahnya dia menyampaikan banyak tuduhan yang bertentangan.

Tuan H. Aziz juga menyayangkan kekacauan statemen sayid Pekalongan yang dalam pernyataannya sendiri mengaku tidak tahu banyak tentang Wahabi tapi menuduh Muhammadiyah sebagai Wahabi. Mengenai kitab yang dipakai Muhammadiyah berhaluan Wahabi, maka seketika itu juga H. Aziz menunjukkan kitab-kitab terbitan Taman Poestaka.

Tuan H. Aziz kemudian membaca di antara kitab-kitab fiqih bab wudu dan mandi. Kemudian ditanyakan kepada hadirin;

“Apakah ini keterangan woedoe, mandi dan soennah soennahnja itoe boekan mazhabnja Imam Safingi?” Ternyata sesuai. Sehingga, Muhammadiyah tidak boleh dikatakan keluar dari mazhab 4. (Surat Kabar Sri Djojo Bojo, N0. 41: 15 Desember 1923).

Hal lain yang ditanggapi dari pernyataan sayid Pekalongan adalah yang mengatakan bahwa Muhammadiyah sebagai agama. Padahalan, Muhammadiyah bukan agama tapi organisasi yang ingin membawa nilai-nilai Islam yang hampir dilupakan oleh kebanyakan orang.

Pertemuan ini kemudian ricuh. Seorang kiai asal Kediri, Jawa Timur meminta agar pertemuan ini dibubarkan saja. Ia bahkan menyebut orang-orang yang berbicara tidak punya akal dan bodoh.

Kongres Islam ketiga

Sebagai informasi tambahan yang meneguhkan bahwa Muhammadiyah berhaluan Wahabi atau tidak, Dr. Deliar Noer dalam buku Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942 (1982: 248). Di buku ini, Deliar menulis data menarik terkait hal ini.

Pada tanggal 24-26 tahun 1924, diadakan kongres Islam ketiga di Surabaya. Di antara tema yang dibahas adalah: ijtihad, kedudukan Tafsir Al-Manar dan ajaran Muhammadiyah serta Al-Irsyad.

Dalam kongres ini, diputuskan bahwa Muhammadiyah dan Al-Irsyad bukan Wahabi. Di samping itu, keduanya tidak dianggap menyimpang dari mazhab yang muktabar.

Tak hanya itu, diputuskan juga agar tidak mudah mencap golongan yang bertawasul dengan sematan kafir. Secara khusus, masalah tawasul ini akan dibicarakan pada kongres berikutnya.

Sebagai tambahan, pada momen itu, kedua organisasi (Muhammadiyah dan Al-Irsyad) tidak menolak kemungkinan adanya wali, dan yang tak kalah penting, tetap menghormati kitab yang ditulis oleh ulama yang otoritatif yang dibenarkan oleh ulama fuqaha dan muhadditsun.

Inilah sepenggal kisah tuduhan-tuduhan yang disematkan kepada organisasi Muhammadiyah. Sejak berdirinya, ormas Islam ini tidak sepi dari tuduhan.

Ormas yang kehadiranya lebih tua dari NU itu juga pernah dituduh kelur dari Sunnah, anti-mazhab, bahkan disebut sebagai “AGAMA MUHAMMADIYAH”. Namun, pari dai Muhammadiyah kala itu bisa menjawab dengan bukti literasi meyakinkan, dan menunjukkan dengan amal usaha yang didirikan misalnya dalam pendidikan, kepedulian sosial dan lain sebagainya.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:MuhammadiyahMuhammadiyah dan wahabiwahabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jumlah LGBT Lebih Satu Juta, Muhammadiyah Rumuskan Strategi Penanganan
Tulisan selanjutnya Arab Saudi Ingin Jadi Tuan Rumah 2029 Asian Winter Games

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Berita
4 Juni 2026 21:20
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?