Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

The Bomber of Masjumi, KH. Isa Anshary

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Januari 2023 16:37 4:37 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Januari 2023 16:45
Bagikan
KH Isa Anshari
Bagikan

Banyak julukan diberikan kepada pejuang dakwah KH Isa Anshary, dari “Singa Podium”, “The Bomber of Masjumi”, namun sedikit tahu kehidupan sehari-harinya penuh cobaan

Hidayatullah.com | BERBAGAI julukan diberikan pada figur ulama Persis ini, seperti: “Singa Podium” dan “Napoleon Masjumi”. Hanya saja, jarang disebut –sejauh ini bahkan amat sangat sedikit ditemukan sumber tertulis– terkait julukan lain yang disematkan pada beliau, yaitu: “THE BOMBER OF MASJUMI”.

Paling tidak ada 1 buku dan 1 majalah yang bisa dijadikan rujukan untuk sementara ini. Dari buku bisa dibaca dalam karangan Abbas Hassan berjudul “Sukses dalam Pergaulan” (1966: 27), di antara potongan kalimatnya demikian: “Pernahkah saudara djumpa dengan Isa Anshary ? Dia jang pernah diberi gelar: bomber Masjumi ? “

Sedangkan majalah, bisa dibaca dalam Majalah Kiblat (No. 7/XVI/1968: 26) rubrik Sepandjang Djalan dengan judul “LAKSANA SEBUAH LILIN”. Di antara ungkapan kalimatnya seperti ini: “K.H.M. ISA ANSHARY jang pernah mendapat djulukan: The Bombor of Masjumi,” (Selesai Nukilan)

Sayangnya, catatan dalam majalah ini tidak disebut siapa penulisnya. Apakah bisa jadi pencatatnya adalah Abbas Hassan? Perlu penelitian pustaka lebih lanjut.

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
KH. Isa Anshari saat menjadi Khatib Idul Adha 1372 H/ 1953 M

Setidaknya, fakta ini memberikan informasi menarik tentang julukan lain dari figur KH. Isa Anshary.

Secara makna memang, julukan ini masih terkait dengan karakter dak kiprah beliau selaku orator, agitator dan singa podium ulung. Orasinya selalu dinanti, lapangan-lapangan penuh ketika beliau memimpin kampanye Partai Masjumi, dan hadirin terpukau dengan gaya bicaranya.

Beliau juga vokal dalam lisan dan tulisan di berbagai media. Ada yang menyimpang dan tidak beres, misalkan masalah komunisme dan semacamnya, langsung beliau lawan, beliau hantam dan gempur laksana bom.

Tak peduli, risiko yang bakal dihadapinya. Dan itu memang dialami, saat meringkuk di penjara Madiun.

***

Itu adalah di antara satu sudut pandang melihat kehebatan KH. Isa Anshary. Akan tetapi, kalau kita melihat pintu lain yang sunyi dan jarang diperhatikan kebanyakan orang mengenai sosok besar ini adalah kondisi setahun sebelum akhir hayat beliau.

Beliau meninggal pada 11 Desember 1969. Setahun sebelumnya (pada bulan September 1968), KH. Isa Anshary berkirim surat kepada salah satu sahabatnya sebagaimana disebut tadi dalam Majalah Kiblat (No. 7/XVI/1968: 26).

Kondisinya –sebagaimana judul di dalamnya– laksana sebuah lilin. Menyinari yang lain, sementara dirinya terbakar. Orang tahunya beliau hebat, dengan segenap perjuangan dan orasinya.

Namun, adakah yang tahu seberapa sulit dan susahnya beliau terutama menjelang akhir hayatnya?

“…..hidup kami kini laksana bahtera ketjil dilanggar badai, ombak datang bergulung-gulung, sedangkan bahtera ketjil itu sudah lama dibanting-diempaskan ombak…..!” (petikan surat KH. Isa Anshary).

Dari sudut pandang ini, tergambar betapa berat ujian yang dihadapi beliau menjelang akhir hayatnya. Sejak di penjara Madiun beliau sudah mengalami sakit cukup parah.

Beliau sempat membaik ketika sudah keluar penjara. Tapi hal itu tak berlangsung lama, kemudian kambuh lagi dan tambah parah.

Harusnya kondisi demikian membuatnya mendapatkan perawatan secara teratur. Tapi, justru itu yang tak didapatkan.

Lalu kemana teman-teman beliau? Mereka ada. Kalau diminta, pasti membantu.

Namun jika tak diminta, bantuan pun berhenti. Akhirnya, tak sanggup juga KH. Isa meminta terus-menerus.

Pasca bebas dari penjara dan kembali ke Bandung, sebenarnya beliau sakit. Sedangkan tantangan dan masalah yang dihadapi –tentang masalah keumatan dan ujian yang menimpa dirinya– cukup berat.

Menariknya, beliau tidak mau kalah dengan rasa sakitnya. Bagaimana pun kondisinya beliau tetap terjun ke gelanggang perjuangan.

Sebuah gelanggang hidup untuk mempertahankan rumah tangga, dan gelanggang lain yaitu dakwah untuk membela agama. Tak ayal, hal ini menjadikan pertahanan fisiknya kalah.

Dalam petikan suratnya, ia mengatakan, “Aku kini dirawat, ongkos perawatan luar biasa tingginja, tetapi buat membajar ongkos2 itu aku djadikan ,persoalan nanti’…..!” demikian ceritanya.

Saat surat ini ditulis dalam Majalah Kiblat (No. 7/XVI/1968: 26), sahabat KH. Isa Anshary tidak tahu kondisi  beliau. Pada 11 Desember 1969, satu tahun lebih kemudian beliau wafat dengan sakitnya yang belum sembuh,  tepatnya, pada tanggal 2 Syawal 1389 H.

Uniknya, sehari sebelum meninggal, beliau menyanggupi untuk berkhutbah, menyampaikan dakwah kepada umat. Pikiran kepada umat tak pernah surut dari benak beliau hingga dalam kondisi menjelang ajal.

Materi khutbah hanya baru diketik dua halaman, beliau langsung jatuh sakit. Kemudian pada tanggal 3 Idul Fitri, ‘Sang Mujahid Dakwah’ ini pergi dari dunia menuju keabadian.

***

Demikian kondisi para pejuang Islam di Indonesia. Dengan segala perjuangan dan ketulusannya, mereka sering kali dielukan, di-hero-kan, dinantikan kehadirannya di tengah-tengah umat.

Walaupun sebenarnya, umat sering tidak tahu betapa berat kondisi yang dialami para pejuang itu, utamanya menyangkut diri dan urusan keluarga di rumah.

Kondisi ini persis yang digambarkan dalam majalah Aliran Baroe No. 34 (1941):

“Hampir tiap idealist jang mengoerbankan fikiran dan tenaganja oentoek keperloean rakjat, kebanjakan tidak pernah merasakan kenikmatan hidoep boeat diri sendiri. Dibibir publiek, ia disandjoeng dan dipoedji, sedang hakikatnja penghidoepannja koetjar katjir. Roemah tangganja tidak teratoer, anak isterinja hidoep terlantar.”

Gambaran serupa, juga disampaikan Buya Hamka dalam suratnya kepada AR. Baswedan (Kakek Anies R Baswedan);

“Kita lihat pengandjoer bangsa, pemimpin perkoempoelan agama, pergi ketengah-tengah masjarakat oemmat dan bangsa tampil kemoeka, padahal, badjoe isteri sendiri tak terganti, kadang-kadang penitinja tergadai; kain anak tertoekar, padahal lebaran soedah datang.”

Apakah dengan kondisi itu membuat mundur perjuangan. Kata Hamka, “Akan moendoer? Doeh, pantang laki-laki soeroet poelang! Tida akan mondoer? Dapoer ta berasap, anak ta berbadjoe! Isteri meminta dibelikan kain! Meskipoen ta’ dimintanja kita sendiripoen merasa poela.  Crisis…crisis ibarat orang sakit gigi, kita sadja jang menderita, orang lain ta’tahoe.”

Sesulit apapun kondisinya,  sama sekali tidak membuat mereka mundur dalam berjuang. Mereka tetap maju dengan muka berseri-seri penuh optimis.

Akhirnya, tiada lain, tempat pengaduan terbaik adalah Allah Sang Pencipta, sebagaimana di tulis Buya Hamka. “Mengadoe sadja kepada Allah; ‘ja Toehan, berilah hambamoe ini kelapangan dan ketegoehan!’ Kelapangan itoe poen datanglah!”.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:KH Isa AnshariKH Isa AnsharymasyumiPartai Masyumipejuang dakwahThe Bomber of Masjumi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Teladan Pimpinan Pondok di Tarogong, Mewakafkan Aset Infrastruktur kepada PP Persis
Tulisan selanjutnya Karim Younis, Orang Palestina yang Paling Lama Dipenjara Israel Akhirnya Bebas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Berita
28 Agustus 2026 09:48
Iran Desak Qatar Pindahkan Pilotnya ke Rumah Sakit di Darat
Serangan ‘Israel’ Hancurkan Gudang Bantuan, 7 Orang Syahid di Gaza
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Terbaru

  • Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
  • Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
  • Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
  • Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
  • Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun
  • Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
  • Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun
  • Sering Rugikan Pabrik Senjata ‘Israel’, Palestine Action Ditetapkan AS sebagai “Kelompok Teroris”
  • 600 Aktivis Wahdah Islamiyah Ikuti Standardisasi Dai MUI
  • Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?