Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 Januari 2023 13:23 1:23 pm
Ahmad
Dipublikasikan 9 Januari 2023 11:00
Bagikan
Bagikan

Berpolitik secara cerdas adalah berpolitik berdasarkan agama, bukan menjual agama, tapi untuk meraih keridhaan Allah, dengan cara yang baik

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | KATAKANLAH (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki.” (QS Ali Imran:26).

Menjelang tahun 2024, suhu politik terasa semakin memanas di negeri kita. Berbagai pihak mulai melangkah untuk menyukseskan calon presiden pilihannya.

Begitu juga persiapan untuk merebut jabatan-jabatan di pemerintahan lainnya. Di berbagai group WhatsApp, perbincangan tentang pemilihan presiden dan sebagainya, telah mendominasi.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Peringatan Penting Ulama India

”Ngompol” (ngomong politik) memang mengasyikkan. Kadangkala, ngompol memakan waktu berjam-jam, mulai malam hari sampai dini hari.

Rasa kantuk dilawan dengan kopi, demi berbincang strategi memenangkan kontestasi politik. Apa yang mau diraih dari perjuangan di bidang politik adalah ”kekuasaan”.

Dengan kekuasaan seorang berpotensi besar melakukan kebaikan untuk masyarakat luas. Sebaliknya, dengan kekuasaan juga seorang dapat merusak masyarakat dan menumpuk-numpuk dosa.

Dalam pandangan alam (worldview) Islam, kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Kekuasaan itu bersumber dari Allah.

Artinya, Allah adalah pemberi dan pencabut kekuasaan. Jika Allah berkehendak, maka seorang bisa menjadi presiden, menteri, atau gubernur.

Jika Allah belum menghendaki, seorang bisa gagal menjadi cawapres, meskipun sudah sempat diukur baju seragam khususnya.

Karena itu, seorang penguasa wajib memahami, bahwa kekuasaan yang dimilikinya adalah pemberian Allah; bukan sebab-akibat dari hasil kampanye yang dia lakukan. Inilah akidah ahlus-sunnah wal-jamaah.

Semua hasil usaha yang kita raih adalah pemberian dan amanah dari Allah. Kita wajib berusaha, tetapi hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT.

Bahkan, ketika dokter mengobati pasiennya, lalu si pasien sembuh, maka pasien itu pun memuji Allah: ”Alhamdulillah!” Segala puji bagi Allah. Bukan pasien itu mengatakan, segala puji untuk dokter.            

Berpolitik secara cerdas adalah berpolitik berdasarkan agama. Bukan menjual agama untuk tujuan politik. Itu namanya politisisasi agama.

Berpolitik berdasarkan agama adalah berpolitik untuk meraih keridhaan Allah, dengan cara yang baik untuk mencapai tujuan yang baik pula. Berjuang untuk meraih kekuasaan adalah baik. Maka itu harus dibarengi dengan niat dan cara yang baik.

Dalam Gurindam 12, Raja Ali Haji menulis: ”Di antara tanda orang berakal, di dalam dunia ia mengambil bekal!”  Rasulullah ﷺ juga mengingatkan, bahwa orang yang paling cerdas adalah

Dengan kekuasaan di tangannya, seorang gubernur bisa mengeluarkan Pergub yang mewajibkan anak-anak muslim bisa shalat dan mengaji yang benar ketika mau lulus Sekolah Dasar.

Dengan kekuasaannya, seorang Presiden bisa mengeluarkan Perpres yang memberdayakan para petani dan nelayan untuk mengelola aset-aset kekayaan negara secara adil. Bisa juga Presiden mengeluarkan ”Perpres Iman-taqwa” yang mewajibkan seluruh mahasiswa muslim wajib bisa shalat dan mengaji, sebelum ujian skripsi.

Itu semua adalah contoh bentuk amal-amal shaleh yang bisa dilakukan oleh penguasa. Penguasa yang cerdas adalah yang menghimpun bekal di dunia untuk akhiratnya.

Sebaliknya, penguasa bodoh adalah yang melakukan kezaliman atau tidak mengoptimalkan kekuasaannya untuk membuat kebijakan yang baik.

Tugas penguasa yang utama adalah membuat kebijakan yang baik dan menerapkannya secara optimal. Tugas utama penguasa bukan mengisi ceramah subuh, sebab itu tugas utama para ulama. Tetapi, sangat bagus jika penguasa juga pandai menyampaikan taushiyah.

Rasulullah ﷺ bersabda: ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR Muslim).

Perkataan yang baik bagi seorang penguasa adalah dengan mengeluarkan kebijakan yang baik. Sayang sekali jika seorang penguasa tidak menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk membuat kebijakan yang baik dalam berbagai bidang kehidupan.

Misalnya, sang penguasa itu tidak korupsi, rajin baca al-Quran, rajin puasa sunnah, tetapi ia tidak membuat kebijakan yang meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak rakyatnya, secara optimal. 

Maka, sejatinya ia telah melewatkan peluang besar untuk melakukan amal kebaikan yang abadi, berupa amal jariyah.

Kita maklum, bahwa saat ini umat Islam – sebagaimana umat manusia lainnya di seluruh dunia – hidup dalam satu dunia yang dihegemoni oleh peradaban Barat yang mengusung nilai-nilai liberal sekular. 

Peradaban Barat adalah peradaban materialisme yang mengagungkan empat hal, yaitu: kekayaan (wealth), kekuasaan (power), kecantikan (beauty) dan popularitas (popularity).  Empat hal itulah yang dipuja-puji secara berlebihan.

Betapa rugi dan betapa tidak cerdasnya jika politisi bekerja mati-matian untuk meraih kekuasaan, tetapi tujuannya bukan untuk beribadah kepada Allah SWT. Rugi sekali politisi yang berpolitik hanya untuk meraih kekuasaan dan kebanggaan di dunia.

Politisi semacam ini tidak akan berbahagia dunia akhirat. Sebab, hidupnya hanya akan mengikuti berbagai aneka syahwat dan hidupnya akan bergantung kepada pujian manusia.

Karena itu, kita perlu mengajak para politisi kita untuk meluruskan niat dalam berpolitik dan juga memahami cara berpolitik yang benar dan cerdas, agar tercapai tujuannya. Yakni, meraih kekuasaan untuk memperbaiki kondisi masyarakat; agar dirinya menjadi orang yang bermanfaat.

Jadi, politik memang tidak kotor. Tapi, niat, tujuan, dan cara yang salah itulah yang sejatinya mengotori dunia politik kita. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 8 November 2022).*

Penulis Ketua Umum Dewan Da’wah Islam Indonesia

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:politik berdasarkan agamapolitik islampolitik yang diridhoi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menteri Keamanan Nasional ‘Israel’ Perintahkan Penurunan Bendera Palestina di Tempat Umum
Tulisan selanjutnya Minta Bertobat, MUI Panggil Penganut Aliran Hakikinya Hakiki

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Catatan Akhir Pekan

110 Tahun Muhammadiyah

20 November 2022 15:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?