Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Ketika Dua Panglima Cerdik Berlaga

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Januari 2023 10:16 10:16 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Januari 2023 09:55
Bagikan
Bagikan

Umar Bin Khattab memerintahkan panglima pasukan Muslimin –termasuk Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid– yang baru membebaskan wilayah Hims berkumpul di dekat Baitul Maqdis

Hidayatullah.com | SETELAH pasukan Muslim berhasil membebaskan Damaskus, Fihl (Pella), dan beberapa wilayah di Syam dari penguasaan tentara Romawi Timur (Byzantium), Khalifah Umar bin Khaththab segera memerintahkan ‘Amr ibn al-‘Ash untuk membawa pasukannya bergerak menuju Baitul Maqdis atau dikenal pula dengan sebutan Elia. Sementara pasukan Abu Ubaydah dan Khalid bin Walid bergerak menuju Hims.

Pasukan ‘Amr sebelumnya telah tiba di gerbang Palestina. Rupanya, sebelum tiba di Baitul Maqdis, mereka harus berhadapan dulu dengan pasukan Romawi Timur yang sedang berkumpul di suatu tempat di Palestina bernama Ajnadain.

Pasukan Romawi tersebut dipimpin langsung oleh Atrabun, panglima perang Byzantium paling cerdik yang posisinya berada setingkat di bawah Heraklius. Maka, berhadap-hadapanlah dua pasukan yang dipimpin oleh dua panglima cerdik:

“Amr melawan Atrabun. Khalifah Umar bin Khaththab, ketika mendengar hal ini, berkata kepada orang-orang di sekitarnya, sebagaimana dikutip dalam buku Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal, “Kita telah melempar Atrabun Rumawi dengan Atrabun Arab. Kita lihat, apa yang akan terlihat.” 

Baca Juga

Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

Atrabun sebenarnya sudah menunggu kedatangan pasukan Muslim di Ajnadain. Ia juga sudah menempatkan pasukan dalam jumlah besar di Ramlah, dan pasukan dalam jumlah serupa di Baitul Maqdis.

Garnisun-garnisunnya dibiarkan di Gaza, Sabastia (Samaria), Nablus, Lad, dan Jaffa. Dengan posisi seperti ini, pasukan Romawi Timur tinggal menunggu kedatangan pasukan Arab yang akan menyerbu mereka.

Begitu pula ‘Amr bin ‘Ash, sudah memperkirakan tak bakal mudah munundukkan pasukan Romawi di bawah Atrabun yang culas. Bila ia mengadu pasukannya saat itu dengan Romawi, besar kemungkinan pihaknya akan kalah.

Terlebih lagi jalur laut masih terbuka. Bala bantuan Romawi bisa saja datang dari jalur itu.

Karena itu, ‘Amr berkirim surat kepada Umar bin Khaththab, meminta agar khalifah segera mengirimkan pasukan Muslim guna menaklukkan wilayah Kaisariah (atau dikenal pula dengan nama Caesarea Palestinae), wilayah pelabuhan yang terletak di sebelah selatan Haifa dan dijaga ketat oleh pasukan Romawi.

Umar memenuhi keinginan itu. Ia mengirimkan pasukan dalam jumlah besar ke Kaisariah. Pasukan tersebut dipimpin oleh Mu’awiyah. Maka, terjadilah pertempuran hebat di Kaisariah.

Mulanya gempuran pasukan Muslim bisa dibendung oleh Romawi. Namun, dalam serangan kedua, mereka kalah. Beberapa sumber mencatat sejumlah 80 ribu tentara Romawi meninggal dalam pertempuran tersebut.

Setelah Kaisariah dikuasai, giliran Gaza yang dibebaskan oleh pasukan Muslim. Di Gaza juga ada pelabuhan yang berpotensi masuknya bantuan Romawi.  Tertutupnya kedua akses laut ini menyebabkan pusat kekuatan Romawi hanya berada di tiga wilayah saja: Ajnadain, Baitul Maqdis, dan Ramalah.

‘Amr mengutus Alqamah bin Hakim dan Masruq al-Akki beserta pasukannya bergerak ke Baitul Maqdis, sedang Abu Ayub al-Maliki ke Ramalah. ‘Amr sendiri bergerak ke Ajnadain untuk menghadapi Atrabun.

Benteng Romawi di Ajnadain rupanya sangat kuat. ‘Amr perlu menyusupkan sesorang yang bisa berpura-pura menjadi utusan pasukan Muslim guna membiacarakan kemungkinan berdamai dengan Atrabun sembari melihat di mana sisi lemah pertahanan Romawi. Namun, tak ada orang yang paling pas menjadi sang utusan tersebut kecuali ‘Amr sendiri.

Maka, bertemulah dua panglima cerdik ini dalam satu ruangan. ‘Amr berpura-pura menjadi utusan, sementara Atrabun sebetulnya sudah mulai mencurigai bahwa sang utusan tersebut adalah musuh yang paling ia cari. Namun, berkat kelicikan ‘Amr, ia berhasil membuat Atrabun ragu dan melepas “sang utusan” ini kembali kepada pasukan Muslim.

Setelah ‘Amr paham dengan situasi di dalam benteng, maka ia kembali menyusun strategi untuk menggempur sisi lemah musuhnya, lalu menyerbu Ajnadain habis-habisan sebagaimana dulu dilakukan oleh pasukan Muslim di Yarmuk.

Pertempuran sengit tak bisa dielakkan. Korban di kedua belah pihak banyak berjatuhan.

Belum ditemukan data berapa lama pertempuran ini berlangsung. Namun, pasukan Muslim jauh lebih tabah. Apalagi pada saat  bersamaan datang kabar kemenangan pasukan Abu Ubaydah dan Khalid bin Walid yang bertempur menghadapi pasukan Romawi di utara Syam. Kabar ini kian menambah semangat pasukan Muslim.

Pada suatu malam, Atrabun bersama pasukannya keluar dari Ajnadain, mundur ke arah Baitul Maqdis. Ia sengaja memilih Baitul Maqdis karena percaya bahwa benteng-benteng yang kokoh di sana akan mampu melindunginya dari serangan pasukan Muslim.

Setelah itu ‘Amr bin Ash mengerahkan pasukannya yang berada di Ajnadain untuk mengepung Baitul Maqdis. Tak ada sedikit pun celah dibiarkan terbuka. Baitul Maqdis, yang terletak di wilayah pegunungan di sebelah selatan Palestina, benar-benar diisolasi oleh pasukan Muslim. 

Arthabun, yang berada di dalam Baitul Maqdis, berkirim surat kepada ‘Amr yang isinya, sebagaimana dikutip dari Buku Pintar Sejarah Islam karya Qasim A Ibrahim dan Muhammad A Saleh, “Engkau tak akan pernah bisa lagi menaklukkan wilayah mana pun di Palestina setelah Ajnadin.”

‘Amr kemudian mengirimkan sepucuk surat kepada Umar ibn Khaththab agar datang ke Syam untuk melihat sendiri situasi yang terjadi. “Sungguh, aku sedang menghadapi perang sengit dan negeri (Baitul Maqdis)  yang memang telah dipersiapkan untuk engkau taklukkan sendiri. Bagaimana pendapatmu wahai Amirul Mukminin?”  

Umar lalu memerintahkan seluruh panglima perang pasukan Muslimin, termasuk Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid yang baru saja membebaskan wilayah Hims dari Romawi Timur, untuk berkumpul di suatu tempat di dekat Baitul Maqdis. Umar sendiri berencana datang ke tempat itu. Tempat tersebut bernama Jabiyah. Dari tempat inilah keputusan akan dibuat. Inilah babak terakhir dari tahapan pembebasan Baitul Maqdis oleh pasukan Islam dibawah pimpinan Khalifah Umar bin Khaththab. Bagaimana kisah pembebasan itu sendiri, akan kita lanjutkan kisah ini pada artikel berikutnya. */Mahladi Murni, pengurus MUI Pusat

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:abu ubaidahBaitul MaqdisHeadlineKhalid bin WalidPanglima MuslimPilihan RedaksiUmar Bin Khattab
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kerak Bumi Dapat Berotasi Berlawanan Arah dengan Bumi
Tulisan selanjutnya Hakim India: Kotoran Sapi Melindungi Rumah dari Radiasi Atom

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sepekan Tiga Kapal Tanker Uni Emirat Dihatam Misil dan Drone di Selat Hormuz

Berita
8 Agustus 2026 11:48
Untuk Kesekian Kalinya, Istri Netanyahu Dituduh Aniaya ART
Sita Kontainer Tujuan ‘Israel’, Malaysia Tegaskan Larangan Berhubungan dengan Zionis
Jutaan Senjata Api di Tangan Warga Sipil, Thailand akan Perketat Izin Kepemilikan Usai Penembakan di Sekolah
Dari Kaltim ke Maroko, Dua Hafidz Ini Wakili Indonesia di MTQ Internasional

Terbaru

  • ‘Israel’ Masih Tahan Ratusan Syuhada Palestina untuk Dijadikan “Alat Tawar”
  • Ratusan Warga Yunani Gelar Demo Dukung Palestina, ‘Israel’ Minta Warganya Sembunyi
  • Dukung Rakyat Gaza yang Bertahan di Utara, Bulan Sabit Merah Palestina Buka RS Lapangan
  • Lawan Polisi, Aktivis Akar Rumput Amerika Merusak Kamera Pengawas Flock Satu Per Satu
  • Kolombia Diguncang Gempa Magnitudo 7,4 di Hari Pemberian Pengakuan Klaim Israel atas Dataran Tinggi Golan
  • Pengadilan Suriah Jatuhkan Hukuman Mati Atas Bashar al-Assad
  • Bahtsul Masail Pra Muktamar NU, Pajak Harus Berpihak pada Keadilan Masyarakat
  • Ratusan Orang Kurdi Suriah Kembali ke Kampungnya Setelah Bertahun-tahun Mengungsi
  • Bertemu Medikdasmen, MUI Dorong Budaya Hidup Halal Masuk Lingkungan Sekolah
  • LPPOM Raih Indonesia Public Relations Awards 2026 Kategori Corporate Reputation

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Kajian

Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh

24 Juni 2026 14:35
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

13 Juni 2026 04:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?