Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Kecerdasan Artifisial

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Februari 2023 10:42 10:42 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Februari 2023 10:25
Bagikan
Bagikan

Kecerdasan artifisial atau kecerdasan buatan pandai karena algoritma dan data,  tapi satu hal yang tak dimiliki robot; berpikir kritis dan kreativitas, jadi manusia tidak perlu khawatir

Oleh: Dr.Ing. Fahmi Amhar

Hidayatullah.com | ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) atau kecerdasan artifisial (kecerdasan buatan) adalah cabang ilmu yang berusaha membuat sistem yang dapat melakukan tugas yang biasanya dilakukan manusia, seperti pemecahan masalah, pembuatan keputusan, dan pembelajaran. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan algoritma, statistik, dan teknologi komputasi yang canggih.

AI adalah salah satu pilar penting dalam revolusi industri 4.0, selain bigdata dan internet-of-thing (IoT).  AI hanya dapat bekerja bila sistem telah dilatih dengan data yang cukup besar. 

Maka keberadaan bigdata menjadi penting.  Sementara itu bigdata paling praktis didapatkan dengan memasang sensor di aneka benda dan terhubung ke internet. 

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Seperti ketika kita menyalakan lokasi pada ponsel pintar kita, maka kita menjadi bagian dari IoT yang tanpa sadar mensupply data ke Google, dan berarti ke semua pengguna Google lainnya.

Pada masa lalu, ketika AI masih mahal, AI hanya digunakan oleh organisasi besar, semisal BUMN yang mengelola energi, yang digunakan untuk mengoptimalkan konsumsi energi di industri dan fasilitas publik.

Namun kini cukup banyak aplikasi AI yang sudah dapat digunakan di kehidupan sehari-hari.  Di antaranya sistem pengenalan wajah dan suara untuk mengunci smartphone. 

Sistem rekomendasi, seperti yang digunakan Youtube, Facebook, dan Shopee untuk menyarankan konten.  Sistem navigasi dalam peta dan juga untuk kendaraan otomatis. 

Mesin penerjemah dan pembelajaran dalam aplikasi pendidikan.  Sedang chatbot adalah aplikasi AI yang sudah banyak digunakan melayani pelanggan dalam perbankan dan e-commerce.

ChatGPT adalah salah satu model bahasa yang dikembangkan OpenAI (chat.openai.com) yang menarik perhatian karena kemampuannya memproses teks dan menghasilkan respons yang sangat baik. ChatGPT dapat menangkap konteks dari pertanyaan dan menghasilkan jawaban yang relevan.

Hal ini didukung oleh jumlah data besar yang digunakan untuk melatih dalam pembuatannya, yang membuat model ini luar biasa dalam menangani bahasa alami.

Selain itu, teks hasil ChatGPT sangat mirip dengan yang ditulis manusia, yang membuat model ini cocok untuk aplikasi seperti asisten virtual dan sistem generasi teks.  Bila digabungkan dengan aplikasi AI lain seperti Quillbot (untuk parafrase tulisan), dan Synthesia (untuk menghasilkan video dari teks) maka kita sudah dapat memiliki tiga staf yang handal untuk suatu kantor.  Gaji ketiga staf ini total kurang dari Rp. 500.000 / bulan.

Kehadiran mesin AI ini tentu saja merisaukan banyak orang.  Mirip seperti saat Google Translate sudah semakin baik, cepat dan gratis dalam menerjemahkan naskah, banyak tenaga penerjemah yang khawatir kehilangan pekerjaannya.  ChatGPT lebih jauh lagi.  Kini bahkan seniman dan ilmuwan ikutan menjadi gamang.

Namun sebenarnya bila kita memiliki kemampuan 4C (Critical thinking, Creativity, Communication, Collaboration), kita tidak perlu khawatir.  Seluruh mesin AI tidak ada yang bisa diajari 4C ini.  Mereka bekerja berdasarkan algoritma dan data.  Mereka mengasumsikan data itu benar ketika orang tidak memberikan downvote (dislike).  Mereka tidak kritis.

Meski ChatGPT seperti kreatif karena mampu membuat dongeng atau puisi, namun karyanya itu belum tentu memiliki makna, rasa, atau memberikan solusi pada persoalan baru.

Mereka memang komunikatif, sehingga bisa menjadi mesin terapi pada penderita gangguan jiwa.  Namun untuk benar-benar bisa menyampaikan pesan yang sesuai dengan setiap audience, masih jauh.

Tentu saja mereka hanya terbatas berkolaborasi, baik dengan manusia maupun mesin lainnya.  Ada banyak pekerjaan manusia yang tak dapat diwakilkan ke mesin, terutama yang memerlukan kemampuan menata emosi, mempererat jalinan sosial, dan meneguk energi spiritual. 

Nah, maukah kita menggantikan pasangan kita, orang tua kita atau imam shalat kita dengan robot AI?.*

Anggota Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) dan Peneliti Utama Bidang Informasi Spasial, Alumnus Vienna University of Technology

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:algoritma artificial intelligenceHeadlinekecerdasan artifisialkecerdasan buatanPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Finlandia: Kami Tidak Akan Biarkan Pembakaran Al-Quran Terjadi di Sini
Tulisan selanjutnya Berjoget di Jalanan Sepasang Kekasih Iran Dibui 10 Tahun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Berita
18 Juli 2026 11:26
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?