Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Tipu Daya Hawa Nafsu dan Kerusakan Ibadah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 April 2023 10:20 10:20 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 April 2023 10:10
Bagikan
Bagikan

Sifat ghurur bisa menipu iman dan keyakinan seseorang. secara lahiriyah seperti dalam ridha Allah, tetapi sejatinya dilaknat Allah karena tertipu hawa nafsu

Oleh: Kholili Hasib

Hidayatullah.com | SEJATINYA perkara yang menjadi sebab segala kerusakan manusia adalah hawa. Yaitu syahwat yang berlebihan, tidak terkontrol sehingga melanggar batasan-batasan syara’. Hawa merupakan sammun qatil (racun yang mematikan), yang membunuh jiwa berakal (natiqah) manusia.

Termasuk dalam ibadah, hawa selalu menjadi racun yang merusak ibadah hamba Allah Swt.  Hawa bekerja di bawah kendali dan kontrol setan.

Ia bertujuan agar manusia itu merugi (khasir) di akhirat. Baik dengan ibadahnya maupun dengan maksiatnya. Jadi, hawa bisa menyelinap ke dalam ibadah seseorang.

Baca Juga

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat
Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi

Justru hawa yang menyelinap ke dalam ibadah jauh lebih sulit dikenali dan disembuhkan. Sebab, hawa mengubah penampilannya seakan-akan mengajak kepada takwa, padahal hawa itu sedang mengajak kepada maksiat dan inkar kepada Allah Swt.

Pada suatu hari Nabi Muhammad ﷺ masuk masjid. Tiba-tiba beliau melihat setan sedang berdiri di pintu masjid menghadap arah kiblat. Nabi ﷺ  bertanya kepada setan: “Wahai setan, apa yang Anda lakukan di situ?”. Setan menjawab: “Aku akan merusak shalatnya orang-orang yang sedang shalat di sini. Hanya saja aku takut dengan satu lelaki yang sedang tertidur ini”.

Nabi ﷺ  bertanya: “Kenapa kamu tidak takut dengan orang yang sedang shalat itu. Justru kamu takut dengan lelaki yang sedang tertidur, padahal ia sedang tidak sadar dan tidak dalam beribadah kepada Allah Swt”. Setan menjawab: “Orang yang sedang shalat ini adalah orang bodah. Mudah sekali untuk mengganggunya. Tapi orang yang sedang tidur ini memiliki ilmu. Sulit ditaklukkan”.

Hadis tersebut menunjukkan bahwa betapa banyak orang jahil yang tidak mengerti ilmu mengabdi kepada Allah Swt seakan-akan dengan baik-baik saja. Padahalbibadahnya  menjadi sia-sia.

Gara-gara hawa yang membakar jiwanya, maka seseorang bisa bermaksiat kepada Allah Swt melalui bentuk ibadah. Imam al-Ghazali membahas persoalan ini dalam Kitabu Dzaam al-Ghurur di Ihya’ Ulumuddin.

Menurut Imam Al-Ghazali, orang seperti itu disebut tertipu. Hawa membawa sifat ghurur (tipu daya).

Ghurur bisa masuk melalui berbagai jalan dan pintu. Termasuk melalui pintu-pintu kebaikan, yaitu: ilmu, ibadah, dan taﷺ uf.

Sifat ghurur menipu manusia sehingga yang munkar terlihat ma’ruf. Karena secara lahiriyah merupakan perkara ma’ruf. Tetapi disebabkan oleh racun hawa, maka kebaikan itu berubah menjadi munkar.

Seperti dicontohkan oleh Imam al-Ghazali, seorang pendakwah (wa’idz) yang gila popularitas (syuhroh) dan kedudukan (jah). Kegiatan dakwah (menyampaikan mauidzah) kepada orang merupakan kebaikan.

Tetapi disebabkan hawa yang membakar jiwa sehingga kegiatannya bukan karena Allah Swt tetapi untuk mendapatkan popularitas dan kehormatan di hadapan manusia. Niat yang rusak menjadikan dia pendakwah yang rusak.

Maka, wa’idz yang demikian lebih mengikuti kehendak manusia dalam mauidzahnya. Bukan mengikuti kehendak dan keinginan Allah Swt.

Secara lahiriyah terlihat tidak ada yang masalah. Karena manusia melihatnya sebagai sesuatu yang tetap dan cocok bagi diri mereka. Akibatnya ia populer bagi penduduk bumi, tapi buruk bagi penduduk langit.

Ini karena sang wa’idz meremehkan dan bahkan melalaikan perkara penting. Ia sibuk dengan perkara lain yang tidak penting atau kurang penting.  

Misalnya meninggalkan fardhu (wajib), dan sibuk dengan perkara nafilah (sunnah). Sibuk dengan urusan kulit, tapi meninggalkan isi.

Agar kegiatan mauidzah itu menjadi pahala dan bermanfaat, maka sang wa’idz mesti mengenali terlebih dahulu mana perkara tidak penting dan sangat penting, perkara yang harus didahulukan dan mana perkara yang mesti ditunda.

Dalam bidang ilmu, penting untuk dikenali mana ilmu yang fardhu dan tidak fardhu. Mana pengetahuan yang penting dan tidak penting.

Sebab tidak semua ilmu itu penting. Ada kadar dan derajatnya.

Kegiatan dalam bidang ilmu adalah mulia. Akan tetapi bisa berubah menjadi kemungkaran apabila tidak memperhatikan hal demikian.

Dalam bidang ibadah, Imam al-Ghazali juga menyebut ada golongan yang tertipu dengan puasanya. Ada golongan yang berpuasa pada hari-hari yang dimulyakan dan dianjurkan.

Akan tetapi, mereka tetap tidak berpuasa lidahnya dari mengumpat, ghibah dan perkataan-perkataan kotor, matanya juga tidak berpuasa dari melihat sesuatu yang diharamkan Allah Swt.

Puasanya hanya puasa perut dan seks. Karena secara lahiriyah mereka berpuasa, maka mereka menyangka dirinya orang baik, padahal dirinya rusak.

Sifat ghurur ini bisa menipu iman dan keyakinannya. Secara lahiriyah seperti dalam ridha Allah, tetapi sejatinya sedang dilaknat oleh Allah.

Perkara yang terlihat mata adalah ibadah, namun sesungguhnya sedang bermaksiat. Menurut Imam al-Ghazali mereka merasa dirinya paling hebat dalam beribadah.

Tapi ia tidak mengerti bahwa ibadahnya sia-sia. Mereka biasanya lebih terpaku pada perkara dzahir dan meremehkan batin.

Penyakit batin bukan hanya membuat amalnya tidak bernilai, melainkan juga merusak dirinya. Padahal, Islam ingin mewujudkan keseimbangan antara amalan lahir dan batin, yaitu ibadah yang banyak dan berkualitas serta kesucian hati.*/Bangil, 11 Ramadhan 1444 H

Penulis adalah dosen di INI-DALWA, Bangil

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ghururhawa nafsuHeadlineibadahPilihan Redaksitipu daya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Peringati Mosi Integral M. Natsir, DPP Masyumi: 3 April Adalah Hari NKRI
Tulisan selanjutnya Perang Ain Jalut

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun

Berita
27 Agustus 2026 15:03
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza
Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Kajian

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

30 Juni 2026 22:36
Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

30 Juni 2026 10:26
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?