Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & PerjalananRamadhan di Mancanegara

Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 29 Maret 2024 14:23 2:23 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 29 Maret 2024 08:00
Bagikan
Masjid An-Nur Dili, Timor Leste, Ramadhan 1445 H.* [Foto: Istimewa/hidayatullah.com]
Bagikan

Hidayatullah.com– Pada Ramadhan 1445 H, kami diutus untuk berangkat ke Timor Leste pada Jumat (15/3/2024) dalam rangka berdakwah.

Ini bagian dari Program South East Asia (SEA) Loves al-Quran yang diinisiasi Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

Perjalanan yang cukup menyita waktu dan tidak sedikit dana. Terbang dari Kota Beriman, Balikpapan, Kalimantan Timur, menuju Surabaya (Jawa Timur), lanjut ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Saya tak sendirian. Ada Ustadz Fathun Qorib putra Allahyarham Pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said, Ustadz Willy, dan Ustadz Mir Fahry dari Solo.

Kami berempat mendarat di Kupang pukul 19.30 waktu setempat, lalu bermalam di salah satu sekolah Rumah Qur’an Hidayatullah Kupang sekaligus santap sahur. Kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju Dili, Timor Leste, kurang lebih 12 jam lamanya.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Gadis Timor Leste Masuk Islam, Direstui Kedua Orang Tuanya yang Katolik
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Tepat pukul 06.30 pagi kami meninggalkan Kupang, memulai perjalanan bersama para penumpang bus Bagong, demikian namanya.

Cuaca yang cukup panas menemani perjalanan keluar negeri yang dulunya masuk wilayah Republik Indonesia itu. Sang supir sempat memberhentikan kendaraannya untuk santap siang di salah satu warung makan masakan khas Padang.

Sementara kami pribadi turun untuk mandi dan bersih-bersih diri persiapan shalat zuhur jamak ashar. Karena saat itu belum waktu shalat, kami memilih untuk nantinya shalat sambil duduk di dalam bus saja.

Hamparan pohon jagung dan banyaknya hewan berkaki empat (sapi, kambing, anjing, dan sesekali babi) menjadi pemandangan di kanan kiri kami.

Seakan tak terasa, pada sore hari bus tiba di perbatasan RI – Timor Leste untuk cek berkas dan lain-lain.

Kami sempat tertahan karena alasan paspor baru, tapi hal itu tidak membuat kami patah semangat untuk memasuki Timor Leste, negeri yang dulunya Islam pernah tumbuh subur di sini.

Sekitar pukul 19 waktu setempat, kami sampai kota di Dili, tepatnya di sekitaran Plaza Timor sebagai tempat pemberhentian akhir bus. Alhamdulillah.

Perjalanan selanjutnya, kami meminta supir taksi untuk mengantarkan kami ke Masjid Agung An Nur. Upahnya USD 10.

“Muaach! Assalamualaikum, Ustadz!”

Butuh waktu dua hari bagi kami untuk persiapan, beristirahat sekaligus memulihkan kondisi fisik dan psikis usai perjalanan dari Kalimantan ke Timor Leste.

Kemudian kami membagi tugas dakwah ke titik-titik yang telah ditentukan. Tercatat ada 6 wilayah di Timor Leste yang menjadi basis Muslim (para muallaf), yaitu Dili, Baucau, Lospalos, Viqueque, Maliana, dan Same.

Saya dan Ustadz Mir Fahry ke Viqueque, Ustadz Fathun menuju Same, dan Ustadz Willy tetap di Dili untuk pembinaan muallaf di Masjid Agung Dili An Nur.

Dari Dili menuju Viqueque, saya menumpang bus umum milik pengusaha lokal. Di dalam bus, kami berbaur dengan penumpang lain. Bukan hanya manusia, tapi juga hewan ternak, kasur, lemari, bahkan kayu bakar dinaikkan ke mobil.

Perjalan Dili – Viqueque memakan waktu kurang lebih 11 jam lamanya. Tujuan kami Masjid Nurul Huda.

Berkat petolongan Allah, kami sampai di Viqueque dengan selamat dan aman. Perjalanan yang cukup melelahkan. Bus kami sempat menyeberangi sungai karena jalan yang biasa dilalui tertimbun longsor.

Lelah kami terobati setelah bertemu dengan kaum Muslim di Masjid Nurul Huda, Viqueque.

Masjid itu sekaligus tempat penampungan anak yatim piatu atau anak-anak yang dititip orang tuanya.

Para mualaf kecil ini ditampung pihak pengelola dalam bangunan sederhana dan sangat ala kadarnya. Tidak sedikit orang tua mereka masih beragama Katolik atau Protestan.

Anak-anak itu berlari menyapa dan menghampiri kami dengan salam. Seorang di antaranya mengecup punggung tangan kami sembari berkata, “Muaach! Assalamualaikum, Ustadz!”

Puluhan anak yang lain berdatangan dan melakukan hal yang sama.* (BERSAMBUNG/Imam Muhammad/Kadep Dakwah dan Pembinaan Anggota Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah)

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Dai HidayatullahdakwahHeadlineIslam di Timor LesteRamadhanRamadhan 1445 HTimor Leste
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rusia: ‘Sangat Sulit Mempercayai ISIS Dapat Lancarkan Serangan Moskow’
Tulisan selanjutnya Junta Burkina Faso Perpanjangan Operasi Pemberantasan Milisi Muslim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada

Berita
18 Juni 2026 18:56
Pentagon Perlu $80 Miliar untuk Tutup Biaya Perang Iran dll
Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
Pesepakbola Paraguay Jadi yang Pertama Diusir dari Lapangan Piala Dunia karena Menutup Mulut

Terbaru

  • Pentagon Perlu $80 Miliar untuk Tutup Biaya Perang Iran dll
  • Dua Ledakan di Jalan Raya Khyber Pakhtunkhwa Sedikitnya 7 Orang Tewas
  • Pesepakbola Paraguay Jadi yang Pertama Diusir dari Lapangan Piala Dunia karena Menutup Mulut
  • Pengadilan Penjarakan Orang Tua dari Bocah Pelaku Penembakan di Sekolah Beograd Serbia 2023
  • Label Teroris untuk Palestine Action Dibenarkan Pengadilan Banding Inggris
  • Amerika Serikat Hentikan Pendanaan Program HIV di Afrika Selatan
  • Hujan Hitam di Moskow Usai Ukraina Bombardir Pengilangan Minyak Rusia
  • Jangan Cuma di Stadion, Pria Jepang Diminta Ikut Bantu Bersihkan Rumah
  • Tiga Kapal Tanker Saudi Melewati Selat Hormuz Setelah Iran-AS Sepakat Mengakhiri Perang
  • Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?