Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Belgia Digugat Melakukan Kejahatan Kemanusiaan pada Era kolonial di Kongo

Ama Farah
Terakhir diupdate: 11 September 2024 01:19 1:19 am
Ama Farah
Dipublikasikan 11 September 2024 01:19
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Lima wanita ras campuran, hari Senin (9/9/2024) di pengadilan banding Brussels menuntut ganti rugi dari pemerintah Belgia karena telah diambil paksa dari ibu mereka di Kongo 70 tahun lalu. Kelima wanita tersebut menuduh Belgia melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan pada era kolonial di Kongo, di mana banyak anak diambil paksa dari orangtua dan keluarganya untuk kemudian ditempatkan di institusi.

Penggugat mempermasalahkan tindak kejahatan yang dilakukan Belgia pada tahun 1948-1961 dan menyangkut seluruh kebijakan menempatkan anak-anak ras campuran di lembaga-lembaga keagamaan yang dikelola oleh gereja, yang sebenarnya merupakan bagian dari kebijakan rasial yang diterapkan pemerintah kolonial Belgia di Kongo.

Kelima wanita tersebut – yang sekarang berusia 70-an – menuduh Belgia melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di negara asal mereka, Republik Demokratik Kongo (DRC).

Mereka menuntut keadilan, kompensasi, dan pengakuan dari pemerintah Belgia atas kejahatan-kejahatan tersebut, lansir RFI.

Pihak berwenang Belgia mengakui bahwa sekitar 14.000 sampai 20.000 anak terlibat dalam kasus ini, tetapi, meskipun jumlah mereka cukup besar, nasib mereka sejak lama diabaikan, menurut laporan koresponden RFI di Brussels.

Baca Juga

Turki dan Saudi Perkuat Kerjasama Energi, Usai Sepakati Pakta Pertahanan Makkah
22 Persen Yahudi ‘Israel’ Dukung Usir Warga Palestina ke Luar Negeri
Iran Hadiahi Rp480 Juta Warganya yang Berhasil Tangkap atau Bunuh Tentara AS
Perang Iran Dongkrak Penjualan Truk Listrik China
Qatar Bantah Menahan Pilot Iran

Pada tahun 2021, majelis hakim menolak motivasi yang diajukan oleh kelima penggugat, dengan mengatakan, “Tidak seorang pun dapat dihukum karena kejahatan yang tidak ada pada saat terjadinya fakta yang dituduhkan”.

Kelima wanita tersebut kemudian mengajukan banding atas keputusan itu dan persidangannya dimulai pada hari Senin 9 September.

Pada masa penjajahan kala itu, Belgia berdalih bahwa penempatan anak-anak ras campuran di institusi yang dikelola oleh gereja dimaksudkan untuk memberikan mereka “pendidikan Eropa”, untuk menciptakan kasta orang Kongo yang disukai oleh pemerintah kolonial.

Namun pada kenyataannya, itu merupakan kebijakan terpadu guna memisahkan anak-anak ini – yang disebut “mulatto” – dari ibu mereka sehingga mereka menjadi “tidak terlihat” keberadaannya. Anak-anak ras campuran tersebut, meskipun ayah mereka sudah tidak mengakuinya, dianggap menyaingi supremasi rasial kaum penjajah.

Anak-anak tersebut diasingkan baik dari komunitas kulit hitam Afrika maupun dari komunitas kulit putih kaum penjajah.

“Mereka diculik, dianiaya, ditelantarkan, dan diusir dari dunia. Mereka adalah bukti nyata kejahatan negara yang tidak diakui,” kata tim pengacara para penggugat pada tahun 2021.

Pada tahun 2019 di hadapan parlemen Belgia, Perdana Menteri Charles Michel atas nama pemerintah meminta maaf atas penculikan ribuan anak ras campuran di DRC antara tahun 1959 dan 1962.

Permintaan maaf itu merupakan pengakuan resmi pertama oleh pemerintah Belgia terkait penculikan dan pemisahan paksa anak-anak dari Kongo untuk ditempatkan di sekolah-sekolah dan panti asuhan di Belgia yang dikelola oleh Gereja Katolik pada masa kolonial.

Pada tahun 2022, Raja Belgia Philippe juga menyampaikan “penyesalan terdalamnya” atas penderitaan yang ditimbulkan oleh negaranya selama penjajahan di Republik Demokratik Kongo, tetapi dia tidak meminta maaf secara resmi atas eksploitasi, rasisme dan tindak kekerasan yang dilakukan Belgia terhadap rakyat Kongo.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BelgiakolonialKongo
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Banjir Melanda Sejumlah Negara di Sahel Minta Bantuan Internasional
Tulisan selanjutnya Pengadilan Banding Swiss Vonis Bersalah Tariq Ramadan dalam Dakwaan Pemerkosaan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Banyak Negara Sambut Pakta Pertahanan Mekkah, UEA Malah Mengkritik

Berita
13 Agustus 2026 11:37
Dukung Rakyat Gaza yang Bertahan di Utara, Bulan Sabit Merah Palestina Buka RS Lapangan
Kibarkan Bendera Palestina, Ratusan Warga Yunani Hadang Kapal Pesiar Wisatawan ‘Israel’
Eks Menag Yaqut Didakwa Rugikan Negara Rp622 Miliar dalam Kasus Kuota Haji
Kecam Pengakuan Kolombia atas Kedaulatan ‘Israel’ di Golan, Oman: Melanggar Hukum Internasional

Terbaru

  • Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
  • Turki dan Saudi Perkuat Kerjasama Energi, Usai Sepakati Pakta Pertahanan Makkah
  • 22 Persen Yahudi ‘Israel’ Dukung Usir Warga Palestina ke Luar Negeri
  • Iran Hadiahi Rp480 Juta Warganya yang Berhasil Tangkap atau Bunuh Tentara AS
  • Perang Iran Dongkrak Penjualan Truk Listrik China
  • Qatar Bantah Menahan Pilot Iran
  • Tidak Becus Tandai Kecurangan NTU Hentikan Penggunaan Detektor AI
  • Pakai Toilet Umum Kaum Hawa Disuruh Bayar Kaum Adam Gratis, Wanita Austria Ini Menggugat
  • Banyak Peluncuran Satelit Eropa Terancam Kekurangan Roket
  • Redam Aksi Protes PM Modi Janjikan Pelatihan AI Gratis untuk Pelajar India

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Tidak Becus Tandai Kecurangan NTU Hentikan Penggunaan Detektor AI

16 Agustus 2026 14:49
Berita

Pakai Toilet Umum Kaum Hawa Disuruh Bayar Kaum Adam Gratis, Wanita Austria Ini Menggugat

16 Agustus 2026 10:55
Berita

Banyak Peluncuran Satelit Eropa Terancam Kekurangan Roket

16 Agustus 2026 10:17
Berita

Redam Aksi Protes PM Modi Janjikan Pelatihan AI Gratis untuk Pelajar India

16 Agustus 2026 09:46
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?