Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Pakar: Media Sosial jadi Ajang Predator Seks Anak

Ahmad
Terakhir diupdate: 1 November 2024 13:33 1:33 pm
Ahmad
Dipublikasikan 1 November 2024 13:35
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Kurangnya kontrol ketat dari operator media sosial (medsos) membuat platform tersebut menjadi sarang kegiatan pedofilia yang menyasar anak-anak dan remaja yang naif terhadap keselamatan dirinya sendiri sebagai korban.

Dengan kemudahan komunikasi dan aksesibilitas yang tinggi, para penjahat ini mampu menyamar sebagai individu yang dapat dipercaya dalam membangun hubungan dan memanipulasi korban dengan mudah.

Analis kejahatan asal Malaysia, Kamal Afandi Hashim mengatakan, selain media sosial, game online juga menjadi titik terpenting para pelaku kejahatan untuk pemuas nafsu para predator seks.

“Awalnya pelaku ini sedang bermain game online dengan korban, lalu memintanya untuk mengirimkan beberapa gambar sebagai awal dari ‘persahabatan’.

Seiring berjalannya waktu, tersangka mulai ‘membunyikan klakson’ dengan meminta foto PAP (Post a Picture) telanjang korban dan mengancam akan memberi tahu orang tuanya bahwa dia telah membagikan foto jelek tersebut kepada orang lain,” ujarnya saat dihubungi Utusan Malaysia (UM).

Baca Juga

Tak Mau Angkut Senjata 'Israel', Lufthansa Tetapkan Embargo
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat

Selain itu, para pedofil rela mengubah tangkapan layar foto anak-anak menjadi ‘benda’ telanjang dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) hanya untuk memuaskan hasrat jahatnya.

Pakar keamanan siber dari Universitas Kuala Lumpur (UniKL), Dr. Syafiza Mohd. Shariff mengatakan dalam hal ini, pengembang media sosial harus menetapkan aturan untuk tidak mengizinkan tangkapan layar gambar pengguna mana pun.

“Kami khawatir ketika gambar anak-anak kami digunakan untuk memuaskan nafsunya dan beberapa tahun kemudian menjadi jejak digital yang dapat diregenerasi oleh pengguna lain.

“Hal ini akan berdampak sangat besar bagi para korban, terutama anak-anak, dan akan mengganggu kesehatan mental mereka ketika foto aslinya diubah menjadi foto bugil yang ‘segar’ di ingatan orang yang melihatnya,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa sebelum memposting foto apa pun di media sosial, pengguna harus memastikan bahwa mereka tidak mengunggah apa pun yang dapat mengungkapkan detail pribadi dan keluarga.

“Misalnya foto anak berseragam sekolah yang memperlihatkan logo sekolah atau plat nomor kendaraan. Pastikan diburamkan terlebih dahulu sebelum diposting.

Sebab, para pedofil akan melakukan segala pencarian terkait anak yang menjadi korbannya, termasuk mencari nama-nama profil media sosial individu tersebut, ujarnya.

Senada, Wakil Ketua Kelompok Kerja Keamanan, Kepercayaan dan Privasi, Forum Standar Teknis Malaysia Berhad (MTFSB), Prof. Dr. Shahrulniza Musa mengatakan orang tua harus mendidik anak-anaknya sebelum mulai menggunakan media sosial.

“Sebagian permasalahannya mungkin disebabkan oleh kurangnya pengawasan orang tua, namun itu bukan satu-satunya faktor. Pendidikan dan kesadaran akan keamanan siber juga memerlukan peran sekolah dan masyarakat.

“Selain itu, platform media sosial juga perlu bertanggung jawab dengan menyediakan alat dan panduan keselamatan yang efektif bagi pengguna muda,” ujarnya.

Menurutnya, semua pihak termasuk pemerintah, perusahaan teknologi, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menjadikan internet sebagai tempat yang lebih aman.

Sementara itu di Kuala Lumpur, Menteri Komunikasi Fahmi Fadzil mengatakan pemerintah tidak akan berkompromi lagi dengan Meta, apalagi melibatkan penipu dan pedofilia yang merajalela di media sosial.

Menurut dia, dari hasil diskusi dengan Meta kemarin sore, kejahatan yang melibatkan pedofilia masih belum bisa ditindak oleh pihak dan pemerintah tidak bisa lagi memberikan waktu kepada Meta.

“Meta sudah meminta pemerintah memberinya waktu lebih, tapi kami tidak bisa menunggu, dan kami tidak bisa berkompromi lagi.

“Kami sudah bertemu Meta sejak awal tahun dan klaim bahwa kami belum pernah bertemu Meta dalam hal ini adalah tidak benar,” ujarnya dalam jumpa pers bersamaan dengan Open House Deepavali Madani di Depo Sentul di sini, kemarin.

Fahmi menambahkan, Meta kerap memberikan berbagai alasan dan tidak menindak pelaku kejahatan.

“Dia sudah tahu saya ke Singapura untuk berdiskusi dengan mereka. Meta akan memberikan segala macam alasan tapi bagi saya, keselamatan warga Malaysia, terutama anak-anak dan keluarga, tidak bisa dikompromikan,” tegasnya.

Kemarin, dalam pertemuannya dengan Meta, Fahmi mengaku sempat menegur partai tersebut karena masih gagal menangani tindak pidana pedofilia dan pelecehan seksual, khususnya di platform Facebook.

“Meta harus jauh lebih proaktif dalam melawan kelompok-kelompok di akun media sosial Meta media sosial, termasuk penipuan (scamming), perjudian online, cyberbullying, dan kejahatan seksual terhadap anak-anak.

“Namun, saya berkomitmen untuk mendengarkan pandangan semua platform media sosial, karena lisensi yang akan dikenakan adalah lisensi kelas,” katanya.

Selain itu, lisensi tersebut berlaku untuk semua platform yang memenuhi persyaratan, termasuk yang memiliki setidaknya delapan juta pengguna di Malaysia.

Dia mengatakan Meta telah setuju untuk memberikan umpan balik tentang draf Kode Etik yang diterbitkan pada 22 Oktober dan akan mengadakan diskusi lebih lanjut dengan Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) awal minggu depan untuk memeriksa beberapa aspek secara lebih rinci.

Pedofilia merupakan gangguan mental, tepatnya kelainan seksual. Pedofilia adalah ketertarikan seksual pada anak prapubertas.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinemedia sosialmedsospedofiliaPredator seksscammer
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sultan Hamengku Buwono Keluarkan Instruksi Miras, Polisi Langsung Bertindak
Tulisan selanjutnya Generasi muda Mesir Kekejaman ‘Israel’ di Gaza akan Bangkitkan Perlawanan Generasi Muda Mesir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Berita
1 September 2026 09:01
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah

25 Mei 2026 08:50
Iptekes

Jumlah Kasus Penyakit Menular Seksual di Eropa Pada 2024 Mencatat Rekor

22 Mei 2026 15:27
Iptekes

Belajar di Waktu Subuh Terbukti Tingkatkan Kinerja Otak dan Daya Ingat

31 Maret 2026 09:28
Iptekes

Pembuat Jutaan iPhone Malah Malah Melarang Main HP Berlebihan karena Bahaya

26 Maret 2026 08:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?