Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Gadis yang Hilang: Film Pertanian Organik

Ahmad
Terakhir diupdate: 5 Januari 2025 12:15 12:15 pm
Ahmad
Dipublikasikan 5 Januari 2025 12:14
Bagikan
film Laapata Ladies
Bagikan

Oleh: – Ahmadie Thaha (Cak AT)

“Kalau kita bisa menanam padi, kenapa tidak bisa menanam perubahan?” demikisn Catatan Cak AT (Ahmadie Thaha) menyorot film Laapata Ladies, tetang gadis yang hilang

Hidayatullah.com | AKHIR  pekan ini, saya menghabiskan dua jam menonton karya Aamir Khan, produser India yang dikenal atas pilihannya pada film-film berbasis konten bermakna.

Benar saja, Laapataa Ladies, yang disutradarai Kiran Rao, adalah kombinasi sempurna antara pesan sosial yang mendalam dan humor cerdas.

Film Laapataa Ladies (Gadis yang Hilang) ini bukan hanya untuk ditonton, tapi juga untuk direnungkan. Ia mampu menyentuh hati sekaligus memancing tawa. Sebuah karya yang menggugah kesadaran namun tetap menghibur.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Menariknya, pesan yang diusungnya sejalan dengan minat saya pada pertanian organik. Ya, film ini menyinggung program yang turut digaungkan oleh Prabowo Subianto.

Pesan kehilangan pada Laapataa Ladies  begitu nyata. Ia menggambarkan bagaimana sistem patriarki dan pertanian konvensional merampas hak-hak dasar perempuan dan bumi kita.

Dengan gaya satiris dan humoris, film ini mengangkat dua isu penting: emansipasi perempuan dan pertanian organik. Jarang ada film dengan pesan sekuat ini.

Melalui cerita yang sederhana namun penuh kejutan, film ini mengkritisi dua isu tersebut sembari menyisipkan candaan tentang rumitnya menjadi perempuan dalam dunia patriarkal serta tantangan bertani organik di tengah dominasi pupuk kimia.

Film ini simbol bahwa perempuan bukan hanya “ladang” untuk ditanam, tapi juga menanam.

Kisahnya dimulai dengan kekacauan di stasiun kereta pedesaan India. Dua pasangan pengantin baru, yang mengenakan pakaian tradisional serupa, turun dari kereta yang sama, di stasiun berbeda.

Karena buru-buru, sesak, kebingungan dan kurangnya komunikasi, terjadi pertukaran pasangan.

Phool Kumari (diperankan Nitanshi Goel), gadis desa polos penuh mimpi, turun dari kereta pertama kali, tiba-tiba mendapati dirinya bersama suami yang bukan miliknya.

Sementara itu, Pushpa Rani (Pratibha Ratna), perempuan modern yang membawa buku tentang pertanian organik, terdampar di rumah suami yang salah lainnya.

Phool, meski awalnya panik dan bingung, perlahan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Pengalaman memasaknya ternyata tak sia-sia, mengisi waktunya di kafe kecil stasiun yang menjadi tempatnya berlindung, sekaligus sekolah singkat tentang komunikasi, dunia yang kacau, dan pentingnya kemandirian.

Di sisi lain, Pushpa memanfaatkan kesempatan untuk memperkenalkan praktik pertanian organik kepada keluarga barunya yang skeptis.

Adegan-adegan lucu bermunculan ketika Pushpa mencoba meyakinkan bahwa pupuk kompos bukanlah “sampah”, melainkan “emas untuk tanah”.

Selain Pratibha Ratna dan Nitanshi Goel, film ini juga diperkuat oleh Sparsh Shrivastav sebagai Deepak dan Ravi Kishan sebagai Daroga Manoharji.

Chhaya Kadam dan Geeta Agarwal turut memberikan performa kuat sebagai pendukung cerita. Adegan di kantor polisi membuat alur cerita tak mudah ditebak.

Laapataa Ladies dengan cerdas mengkritik budaya patriarki yang mengakar kuat. Di India, perempuan sering dianggap “penjaga tradisi”, sementara di Indonesia, mereka diharapkan menjadi sosok sempurna yang “masak, bersih-bersih, dan tersenyum manis”.

Film ini menertawakan absurditas tersebut, menunjukkan bagaimana perempuan menemukan kebebasan di ladang, bukan di dapur.

Pendidikan perempuan juga menjadi sorotan. Salah satu adegan paling lucu adalah ketika seorang karakter berkata, “Kalau perempuan bisa menghitung beras untuk masak, kenapa tidak bisa menghitung keuntungan dari bertani?”

Ini sindiran tajam bagi mereka yang meremehkan kemampuan perempuan dalam mengelola bisnis, termasuk pertanian.

Selain emansipasi perempuan, Laapataa Ladies juga menyoroti isu pertanian organik. Film ini menggambarkan perempuan yang beralih dari pertanian konvensional yang merusak tanah ke praktik organik yang lebih ramah lingkungan.

Adegan mereka mempromosikan pupuk kompos sebagai “kosmetik untuk tanah” menjadi salah satu momen paling jenaka sekaligus inspiratif.

Kritik juga diarahkan pada pemerintah dan perusahaan agrokimia. Dalam salah satu adegan satir, seorang salesman pupuk kimia mencoba meyakinkan para perempuan bahwa “tanah butuh suntikan vitamin”, namun mereka justru bertanya balik, “Kalau tanah disuntik terus, apa tidak kecanduan?”

Kejeniusan Laapataa Ladies terlihat dalam penggunaan situasi kacau akibat pertukaran istri sebagai metafora perubahan sosial. Kedua perempuan dipaksa keluar dari zona nyaman mereka dan menemukan potensi terpendam.

Pushpa, dengan buku organiknya, menjadi simbol inovasi untuk mengubah sistem pertanian yang merusak. Sementara Phool, yang awalnya hanya “seorang istri”, membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi agen perubahan, baik di rumah maupun di ladang.

Film ini mengingatkan bahwa perubahan dimulai dari langkah kecil, baik perempuan yang beralih dari dapur ke ladang, maupun petani yang mengganti pupuk kimia dengan kompos.

Seperti kata Pushpa dalam film, “Kalau kita bisa menanam padi, kenapa tidak bisa menanam perubahan?”

Laapataa Ladies bukan hanya film “India’s official entry” ke Oscars 2025 yang layak ditonton seluruh anggota keluarga, tapi panggilan untuk bertindak.

Jangan biarkan perempuan dan bumi kita “hilang” karena keserakahan dan ketidakpedulian. Emansipasi perempuan dan pertanian organik bisa jadi kunci masa depan yang lebih baik.*/Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 5/1/2025

Penulis wartawan senior

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ahmadie ThahaCatatan Cak ATgadis yang hilangLaapata Ladiesperubahan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Populasi Paris Menurun Gegara Biaya Sewa Rumah Mahal
Tulisan selanjutnya Menembus Pintu Langit:  Kandungan Doa Ashabul Kahfi (1)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Uni Eropa Bendera
Berita

Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil

Berita
5 September 2026 10:14
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?