Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Meteor Lyrid Menyapa Bumi, Cahaya Misterius Sinari Langit  

Ahmad
Terakhir diupdate: 26 April 2025 14:50 2:50 pm
Ahmad
Dipublikasikan 26 April 2025 14:36
Bagikan
Bagikan

Menurut hukum fisika plasma dan spektrum cahaya, oksigen yang terionisasi (O₂⁺) akan memancarkan cahaya hijau saat kembali ke keadaan dasarnya

Hidayatullah.com | LANGIT malam di sepanjang pantai timur Australia berubah menjadi panggung pertunjukan alam yang memukau pada 21 April 2025.

Sebuah kilatan cahaya hijau terang terlihat melintasi langit Queensland hingga New South Wales, mengundang decak kagum warga dan para ilmuwan.

Menurut laporan ABC News Australia, fenomena ini berkaitan dengan hujan meteor tahunan Lyrid, yang berasal dari sisa-sisa debu komet Thatcher.

Lyrid meteor shower illuminates night sky over Karagol geosite in Türkiyehttps://t.co/LoPtdx2tY8

🎥: Hakan Dündar pic.twitter.com/8I8MNPf0pl

— Anadolu Images (@anadoluimages) April 22, 2025

Dr. Brad Tucker, astrofisikawan dari Australian National University, menjelaskan, “Meteor itu memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan sangat tinggi, sekitar 49 km per detik. Gesekan hebat dengan atmosfer menyebabkan pemanasan ekstrem, dan dalam kasus ini, menghasilkan cahaya hijau yang kuat,” katanya kepada ABC News, Selasa, (22/4/2025).

Baca Juga

Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah
Jumlah Kasus Penyakit Menular Seksual di Eropa Pada 2024 Mencatat Rekor
Belajar di Waktu Subuh Terbukti Tingkatkan Kinerja Otak dan Daya Ingat
Pembuat Jutaan iPhone Malah Malah Melarang Main HP Berlebihan karena Bahaya
Kecenderungan Beragama Generasi Z Meningkat, Ini Temuan Peneliti

Warna hijau yang khas ini, lanjut Dr. Tucker, disebabkan oleh reaksi kimia. “Ionisasi oksigen di atmosfer menghasilkan pancaran warna hijau ketika partikel meteor terbakar,” jelasnya.

Fenomena ini jarang terjadi dengan intensitas warna secerah yang terlihat malam itu.

Banyak warga setempat melaporkan pengalaman mereka. “Saya pikir itu kilat pada awalnya, tapi warnanya aneh sekali, hijau terang. Lalu terdengar dentuman besar seperti ledakan,” ujar seorang warga Lismore, dalam wawancara dengan The Guardian Australia.

Fenomena ini tidak hanya menghasilkan pertunjukan cahaya yang luar biasa, tetapi juga suara keras akibat gelombang kejut yang tercipta saat meteor meledak di udara, fenomena yang dikenal sebagai airburst.

Dr. Jonti Horner, ahli astrobiologi dari University of Southern Queensland, menambahkan dalam keterangannya kepada ABC News, “Hujan meteor Lyrid memang rutin terjadi, tapi biasanya hanya tampak seperti garis-garis kecil di langit. Yang terjadi malam itu adalah bolide — meteor besar yang meledak dengan spektakuler.”

Warna hijau yang terlihat saat meteor melintas di langit terjadi karena reaksi kimia antara partikel meteor dan atmosfer bumi. Ketika meteor memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi (sekitar 49 km/detik), ia bergesekan dengan molekul udara. Gesekan ini menyebabkan pemanasan ekstrem, yang membuat meteor terbakar (ablasi).

Menurut hukum fisika plasma dan spektrum cahaya, oksigen yang terionisasi (O₂⁺) akan memancarkan cahaya hijau saat kembali ke keadaan dasarnya. Fenomena ini mirip dengan aurora borealis, yang juga memancarkan cahaya hijau karena eksitasi molekul oksigen.

Menurut laporan Space.com, meteor besar yang jatuh di atmosfer bumi dan menimbulkan cahaya hijau secerah ini tergolong jarang. Biasanya hanya terjadi beberapa kali dalam satu dekade di wilayah tertentu.

Hujan meteor Lyrid sendiri mencapai puncaknya setiap tahun antara 22 dan 23 April. Tahun ini, kehadiran meteor raksasa pada malam 21 April seolah menjadi pembuka yang tidak terlupakan.

Kendati demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena seperti ini tidak berbahaya. “Meteor itu terbakar habis di atmosfer, dan serpihannya yang tersisa sangat kecil untuk menimbulkan ancaman ke daratan,” tutup Dr. Tucker.

Fenomena ini sekali lagi mengingatkan umat manusia akan betapa dinamis dan spektakulernya alam semesta. Momen langka ini pun menjadi bahan perbincangan hangat, tidak hanya di Australia, tetapi juga di seluruh dunia.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cahayacahaya hijaufisika plasmaHeadlinemeteor lyrid
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Lebih Dari 70 Ribu Jiwa di Tangerang Dinilai Rentan HIV/AIDS
Tulisan selanjutnya Pemerintah Minta Ormas tidak Jadi Alat Pemeras Masyarakat atau Pengusaha

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

vape covid
Iptekes

Otoritas Kesehatan Prancis Peringatkan Risiko Vape Bagi Kesehatan

13 Februari 2026 20:11
Iptekes

Satu dari Tiga Orang Belanda Tidak Sadar Dirinya Diabetes

12 Februari 2026 18:16
BeritaIptekes

WHO: Kasus di India dan Bangladesh Risiko Penyebaran Virus Nipah Rendah

12 Februari 2026 15:28
Iptekes

WHO: Daging Olahan Termasuk Sosis dan Bacon Masuk Karsinogen Pemiku Kanker

11 Februari 2026 21:09
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?