Orang tua dituntut mengarahkan dan mendidik tauhid, juga menjadikan Al-Quran contoh nyata dalam kehidupan anak
oleh: M. Handika Yusuf Fadillah
Hidayatullah.com | SEBAGAIMANA kita ketahui, parenting merupakan metode pengasuhan anak yang dilakukan oleh orang tua dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Adapun parenting anak dalam perspektif Al-Qur’an adalah metode kepengasuhan yang berlandaskan nilai-nilai dan petunjuk yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam.
Dalam Al-Qur’an, membimbing dan mendidik anak dengan baik merupakan tanggung jawab utama orang tua. Bahkan, disebut sebagai suatu bentuk kezaliman jika orang tua mengabaikan kewajiban tersebut.
Pendidikan anak harus dimulai dari pembenahan diri orang tua terlebih dahulu, sebab anak adalah peniru ulung yang akan menyerap perilaku dan kebiasaan dari lingkungannya, terutama dari orang tuanya.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah an-Nisâ’ [4]: 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 9)
Menurut Quraish Shihab, kewajiban orang tua adalah melindungi fitrah kesucian anak agar tidak ternoda. Anak yang masih kecil belum mampu membedakan antara benar dan salah, dan belum sanggup menentukan arah hidupnya, termasuk dalam memilih keyakinan.
Oleh karena itu, orang tua harus menjadi teladan yang baik—mengendalikan emosi, bersabar, serta membersihkan diri dari penyakit hati—sebelum memberikan nasihat kepada anak.
Keteladanan Luqman dalam Mendidik Anak
Salah satu tokoh inspiratif dalam Al-Qur’an dalam hal parenting adalah Luqman. Namanya diabadikan oleh Allah dalam Surah Luqman karena kebijaksanaan dan keteladanannya dalam mendidik anak.
Dalam Surah Luqman ayat 17, Allah berfirman:
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ إِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
“Wahai anakku, tegakkanlah salat, suruhlah manusia berbuat yang makruf dan cegahlah mereka dari yang mungkar, serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang harus diutamakan.”
Quraish Shihab menjelaskan bahwa Luqman mengajarkan keteguhan dalam beribadah, amar makruf nahi mungkar, serta kesabaran dalam menghadapi cobaan.
Semua itu merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter anak. Beliau menggunakan panggilan penuh kasih sayang seperti “Yā Bunayya” (Wahai anakku sayang) sebagai bentuk kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Panggilan semacam ini diulang dalam ayat 13, 16, dan 17 Surah Luqman.
Dalam ayat 13, Luqman berkata:
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.'”
Dari sini kita belajar bahwa pendekatan dengan kelembutan dan cinta membuat anak lebih mudah menerima nasihat dan memahami nilai-nilai kebenaran.
Tauhid Landasan Parenting
Luqman menanamkan prinsip tauhid sejak dini. Pendidikan yang berlandaskan tauhid menjadi fondasi utama yang akan membentuk pribadi yang kuat secara spiritual dan moral. Dalam kitab Mabahits fi Ummul Qur’an karya Syekh Manna’ Khalil Al-Qahtan disebutkan bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat yang menyatu dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Maka, pengasuhan anak dalam Islam juga dapat diperkuat dengan pendekatan ilmu modern seperti psikologi dan pendidikan.
Dalam Al-Qur’an, pembiasaan terhadap prinsip dasar agama sangat ditekankan, dengan melibatkan proses penanaman nilai secara bertahap. Namun untuk dosa besar seperti syirik, Al-Qur’an tidak memberikan toleransi, bahkan sejak dini ditekankan sebagai larangan mutlak.
Dengan demikian, parenting dalam perspektif Al-Qur’an adalah sebuah proses pengasuhan yang mencakup keteladanan, kedekatan emosional, penanaman tauhid, dan pembinaan karakter melalui nilai-nilai kebaikan dan kesabaran.
Orang tua bukan hanya dituntut untuk mengarahkan, tetapi juga menjadi contoh nyata dalam kehidupan anak.
Pendidikan ini bertujuan membentuk generasi yang kuat, beriman, dan mampu membawa nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Semoga kita semua mampu menjadi orang tua yang bijak, mendidik anak dengan cinta, keteladanan, dan nilai-nilai ilahi. Āmīn Yā Rabb al-‘Ālamīn.*
Prodi Akhwal As-Syakhsiyyah, Universitas PTIQ Jakarta




