Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Australia Deportasi Influencer ‘Israel’, Picu Ketegangan dan Bahaya Publik

Ahmad
Terakhir diupdate: 24 Juni 2025 11:28 11:28 am
Ahmad
Dipublikasikan 24 Juni 2025 11:28
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Pemerintah Australia secara resmi mencabut visa seorang influencer media sosial asal ‘Israel’ yang dikenal luas karena unggahan pro-’Israel’ dan komentar tajam terkait konflik Timur Tengah.

Keputusan ini diumumkan oleh Departemen Dalam Negeri Australia dan didasari pada penilaian bahwa yang bersangkutan “menjadi ancaman terhadap keamanan masyarakat” serta berpotensi memicu ketegangan sosial.

Meski nama lengkap influencer tersebut belum diungkap secara resmi oleh pemerintah, sejumlah media ‘Israel’ seperti Haaretz dan The Times of ‘Israel’ mengidentifikasinya sebagai figur yang cukup populer di kalangan pendukung ‘Israel’ garis keras, dengan jutaan pengikut di Instagram, TikTok, dan Twitter (kini X).

Ia dilaporkan sebelumnya tinggal di Australia dengan visa sementara, namun kini diperintahkan untuk meninggalkan negara tersebut.

Retorika Online Dianggap Provokatif

Baca Juga

Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat

Menurut pernyataan resmi Departemen Dalam Negeri, keputusan pembatalan visa diambil setelah tinjauan dari badan intelijen dan imigrasi, yang menilai bahwa aktivitas daring influencer tersebut mengandung unsur “retorika provokatif dan hasutan kekerasan”.

Unggahan-unggahan yang dipermasalahkan mencakup pujian terhadap aksi kekerasan oleh pemukim ‘Israel’ di wilayah pendudukan Tepi Barat serta kecaman terhadap unjuk rasa pro-Palestina di Australia.

“Perilaku online individu ini tidak sejalan dengan nilai-nilai Australia dan berisiko menimbulkan gesekan di dalam komunitas multikultural kami,” tulis pernyataan Departemen Dalam Negeri.

Komunitas Terbelah

Keputusan ini memicu respons yang kontras dari kelompok-kelompok masyarakat di Australia. Dewan Eksekutif Yahudi Australia (ECAJ) menyuarakan kekhawatiran bahwa langkah ini dapat mencerminkan “bias politis” dan menyerukan transparansi dalam proses hukum.

Sebaliknya, Jaringan Advokasi Palestina Australia (APAN) menyambut baik keputusan tersebut sebagai bentuk tindakan tegas terhadap ujaran kebencian.

“Ini adalah preseden penting yang menunjukkan bahwa Australia serius melindungi komunitas rentan dari provokasi berbasis kebencian,” ujar juru bicara APAN seperti dikutip dari ABC News.

Sikap Tegas Pemerintah

Menteri Dalam Negeri Clare O’Neil membela keputusan tersebut, menegaskan bahwa Australia memiliki kebijakan nol toleransi terhadap ujaran yang berpotensi menimbulkan kekerasan, tanpa memandang asal negara atau orientasi politik.

“Siapa pun yang menyebarkan kebencian dan kekerasan tidak akan diberi ruang di negara ini,” ujar O’Neil dalam konferensi pers, dikutip oleh The Guardian Australia.

Menurut hukum Australia, visa dapat dicabut atas dasar karakter jika seseorang dianggap tidak pantas secara moral atau menjadi ancaman terhadap ketertiban umum.

Kasus ini mencerminkan tren ketat dalam kebijakan imigrasi Australia, di mana beberapa tokoh asing—termasuk aktivis sayap kanan dan ekstremis agama—pernah ditolak masuk atau dideportasi dalam beberapa tahun terakhir.

Implikasi Lebih Luas

Kasus ini menyoroti sejumlah isu krusial beberapa hal. Pertama, regulasi media sosial: Pemerintah Australia semakin aktif menindak ujaran online yang dinilai membahayakan. Undang-undang baru terkait ujaran kebencian digital tengah dipertimbangkan.

Kedua, pengaruh asing: Canberra telah memperketat aturan campur tangan asing, khususnya dalam isu-isu sensitif seperti konflik ‘Israel’-Palestina, demi menjaga stabilitas domestik.

Ketiga, sensitivitas diplomatik: Meski hubungan Australia dan ‘Israel’ tetap kuat secara diplomatik, keputusan ini bisa memunculkan perdebatan tentang keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan keamanan nasional.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AustraliainfluencerisraelTimur Tengahvisa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya vape covid BRIN: Remaja Indonesia Alami 4 Masalah Serius, Termasuk Rokok Elektrik
Tulisan selanjutnya Pemkab Batang Ancam Karaoke di Pantai Sigandu Beri Tenggat Sepekan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

5 Juni 2026 05:00
Berita

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

4 Juni 2026 21:20
Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

4 Juni 2026 14:01
Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

4 Juni 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?