Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Menusantarakan Tanpa Takut Ngarab

Ahmad
Terakhir diupdate: 4 Juli 2025 11:26 11:26 am
Ahmad
Dipublikasikan 4 Juli 2025 11:26
Bagikan
Gubernur Jabar Deddy Mulyadi ubah nama RS Al-Ihsan dalam bahasa arab jadi Welas Asih
Bagikan

Menghapus nama bernuansa Arab demi “menusantarakan” justru mengaburkan warisan spiritual dan sejarah Islam yang telah mengakar dalam budaya Nusantara

Oleh: Dr. Halimi Zuhdy

Hidayatullah.com | GUBERNUR Jawa Barat mengubah nama RSUD “Al-Ihsan” menjadi “Welas Asih”, tentunya ada yang sepakat dan juga ada yang menolak. Tapi, yang menolak juga tidak akan bisa berbuat apa-apa, apalagi tidak punya kekuasaan. Demikianlah.

Menusantarakan yang kearab-araban pasti tidak paham perkembangan bahasa dan sejarah. Kalimat tersebut mengandung nada xenofobia budaya, terutama terhadap unsur-unsur Arab yang selama ini sudah menjadi bagian penting dari sejarah, nilai, dan identitas bangsa Indonesia, khususnya dalam konteks keislaman.

Istilah seperti “kengarab-ngaraban” seolah-olah menyudutkan unsur bahasa atau istilah Arab sebagai sesuatu yang asing dan tidak pantas dipertahankan di Indonesia.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Padahal, banyak istilah Arab yang sudah membumi di Nusantara, tidak hanya dalam agama, tetapi juga dalam pendidikan, hukum, dan tata nilai.

Menjadikan Arab sebagai “lawan” dari Nusantara justru menciptakan polarisasi yang tidak sehat, dan bisa memicu ketegangan identitas di tengah masyarakat yang majemuk.

Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh bahasa Arab, yang menjadi bahasa wahyu dan ilmu. Kata “Al-Ihsan” misalnya, bukan sekadar istilah Arab, tetapi juga mewakili nilai spiritualitas dalam Islam, ini yang mengubah, tidak paham mata ihsan dengan baik, harus belajar bahasa Arab dulu.

Berbuat baik seakan-akan melihat Tuhan. Ini bukan sekadar nama asing, tetapi nilai yang luhur dan dalam.

Dan andai menghapusnya hanya karena kesannya “kengarab-ngaraban” berarti mengabaikan warisan intelektual dan spiritual bangsa sendiri.

Yang aneh bin ajaib. Nusantara tidak pernah anti terhadap pengaruh luar. Sejak dahulu, Nusantara justru menjadi melting pot budaya seperti India, Arab, Tionghoa, Eropa, dan lainnya.

Menjadi Nusantara sejati bukan berarti menolak unsur asing, tapi mampu menyerap dan mengadaptasinya dengan bijak. Lah, hari gini kok malah menjadi mundur.

Coba sisir betapa banyak nama-nama perumahan, makanan, nama toko dan lainnya yang lagi dengan bahasa Asing. Sekalian ubah ke bahasa Nusantara, atau diwajibkan tulisan bahasa Indonesia, tapi nyatanya “tidak akan bisa”.

Mengklaim “menusantarakan” dengan cara menghapus jejak Arab justru bertentangan dengan semangat keterbukaan Nusantara itu sendiri.

Perubahan nama dan retorika seperti ini dapat terbaca sebagai upaya memisahkan ruang publik dari nilai-nilai agama, padahal institusi pelayanan masyarakat seperti rumah sakit pun seringkali diberi nama dengan nilai-nilai moral dan spiritual sebagai simbol harapan dan etika pelayanan.

Membangun kembali identitas budaya lokal seperti Sunda, Jawa dan Nusantara adalah langkah mulia.

Namun, hendaknya tidak dilakukan dengan menyudutkan identitas lain, apalagi yang telah menjadi bagian erat dari jati diri masyarakat, seperti Islam dan istilah-istilah Arab.

“Al-Ihsan” kok diganti “Welas Asyih”. Apalagi dengan alasan diambil dari kata ar-rahman ar rahim (ini akan dibahasa khusus). Mengganti nama boleh dilakukan, tapi cara berpikir dan narasi publik yang menyertainya harus inklusif, adil, dan menghargai sejarah.

***

Saya masih ingat ada pertanyaan yang menggelitik saya dari salah satu peserta seminar dari Saudi Arabia di Universitas Islam Internasional Dalwa.

“Irak, Sudan, Mesir, Maroko, Tunisia, Libya dan beberapa negeri lainnya, dulunya bukan Arab, setelah Islam masuk ke beberapa negeri di Asia dan Afrika, tidak hanya penduduknya yang memeluk Islam tetapi bahasanya berganti menjadi Bahasa Arab, mengapa Indonesia (Nusantara) yang mayoritas penduduknya beragama Islam, bahasanya tidak berubah menjadi bahasa Arab?” tanya peserta dengan bahasa Arab.

Saya sedikit merenung, dan mengira-ngira jawaban yang tepat untuk penanya dari Arab ini.

Saya jawab, bahwa Indonesia itu sangat beragam, baik dari suku, bahasa, keyakinan dan populasi penduduknya yang mencapai 270 juta. Terdiri dari 17.508 pulau yang dianggap sebagai negara dengan pulau terbesar di dunia.

Islam hadir ke Nusantara berbeda dengan kedatangannya ke berbagai negara di dunia. Islam hadir di Indonesia melalui akulturasi budaya.

Melalui para pedagang yang sambil berdakwah. Jalur pernikahan dan jalur pendidikan. Dan masih banyak pendapat lainnya tentang hadirnya Islam ke Nusantara, dari berbagai catatan, tidak ada yang melalui jalur peperangan. Islam hadir dengan cinta.

Berbeda dengan kehadiran Islam di beberapa negara lainnya, seperti di Benua Afrika masuknya tentara Amr bin Ash ke Afrika dengan jalur peperangan (walau jalur perang adalah jalur terakhir dari diplomasi) yaitu pada tahun 640 M.

Jalur peperangan bukan untuk mengislamkan, tetapi untuk membebaskan beberapa negara dari kekaisaran yang dzalim.

Islam hadir sebagai pembebas dari kedzaliman di berbagai negara di dunia. Sehingga kehadirannya ditunggu, setelah adanya pembebasan, banyak penduduk yang kemudian masuk Islam dengan tanpa kedamaian.

Maka, tidaklah benar dengan anggapan Islam hadir dengan pedang. La ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam beragama).

Penyebaran Islam di berbagai negara tidak hanya merubah keyakinan mereka, tapi juga bahasanya.

Berbeda dengan Nusantara (Indonesia), walau Islam tersebar sampai ke jantung kepulauan tetapi tidak merubah semua budaya di Nusantara dan juga tidak sampai menggantinya dengan bahasa Arab.

Walau tidak sedikit kosakata bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab. Ada sekitar 2000-3000 kata yang diserap dari bahasa Arab, sekitar 40 %- 60% persen.

Pengaruh tulisan Arab begitu masif sebelum datangnya penjajahan Belanda, seperti tulisan Jawi atau Pegon. Demikian juga ungkapan keseharian (tahiyyat). Bahasa dalam peribadatan (addiniyah). Dan juga dalam kesusastraan dan seni.

Kehadiran Islam tidak menjadikan Nusantara berbahasa Arab, tapi menyerap banyak kata dari bahasa Arab. Ia hadir lewat budaya, tapi tidak menghancurkan budaya.

Bahasa Arab hadir lewat ngaji Al-Qur’an, kajian keislaman, doa-doa, pengajian, dzikir, dan sekolah-sekolah. Berbeda dengan beberapa negara lainnya (terutama Afrika), yang lewat pemerintahan dengan kekuasaannya, seperti Irak yang ditaklukkan oleh khulafaur rasyidun lewat pertempuran Al-Qadisiyah, Islam masuk ke Mesir karena penduduk Koptik memberikan dukungan pada pasukan Islam untuk membebaskan mereka dari tekanan Kekaisaran Romawi Timur.

Di Indonesia dengan damai, maka bahasa yang digunakan tetap dengan bahasa Nusantara (tidak merubah bahasa-bahasa yang di daerah, walau banyak mempengaruhi kata yang ada di dalamnya). Allahu’lam bissawab.*

Penulis dosen sastra Arab UIN Maliki Malang, Jawa Timur

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:budaya nusantaraHeadlinenama Arabngarabnuansa ArabnusantaraPilihan Redaksiwarisan islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kisah Catherine Perez: Mata-Mata ‘Israel’ Berkedok Muslimah
Tulisan selanjutnya Syeikh Salamah Al-Azhar Jelaskan Beda “Dzalim” dan “Kafir” antara Iran–Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang

Berita
30 Agustus 2026 17:04
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?