Hidayatullah.com – Lahir tahun 1977 dari keluarga Tionghoa, Hanny Kristianto awalnya anti-Islam. Ia bahkan menjadi penginjil di Love and Care Ministry dan Yayasan Marthuria Indonesia. Namun saat mempelajari al-Qur’an untuk mencari kelemahan, ia justru menemukan kebenarannya.
Saat bekerja di Kalimantan, Koh Hanny –panggilan akrabnya—berinteraksi dengan umat Islam dan ceramah almarhum Ustadz Arifin Ilham. Terbukalah hatinya. Titik baliknya saat membaca Bibel (Markus 12:29) tentang keesaan Tuhan, meyakinkannya tentang Islam.
Perjalanannya berat: sempat ditipu dukun, dikucilkan keluarga, ditinggal istri dan anaknya, hingga depresi. Namun Koh Hanny akhirnya bersyahadat pada 28 Februari 2013 di Mojokerto. Dibantu Mualaf Center Indonesia (MCI) dan almarhum Steven Indra Wibowo, ia bangkit. Tahun 2014, ia mendirikan Ikhlaas Foundation (dinamai dari anaknya yang wafat), menyediakan ambulans gratis dan pembinaan mualaf.
Koh Hanny menikah dengan Shilvia Nanda Putri. Pasangan ini telah dikaruniai 7 anak: Darryl Hannyson, Shalihah Putri Nanda, Syaqila Putri Nanda, Dalfin Hannyson dan Salsabila Putri Nanda, sedang kedua putra lainnya telah dipanggil Allah SWT.
Melalui media sosial @hannykristianto_id dan dakwah modern, Koh Hanny aktif membina mualaf. Ia bahkan membeli gereja di Klaten untuk diubah menjadi Masjid Isa Almasih —beroperasi 24 jam dengan program hapus tato gratis bagi penghafal Surat ar-Rahman.
Hidupnya berubah total: dari penginjil jadi dai’, dari bangun gereja jadi masjid, dan dari kehilangan keluarga jadi pelayan umat.
Tentang Hidayatullah punya pandangan khusus. “Hidayatullah beda dengan ormas yang lain,” katanya. Apanya yang beda, Hanny menyampaikan di dalam video ini




