Hidayatullah.com—Nama Dr. Ang Swee Chai mungkin tidak asing bagi mereka yang mengikuti perjuangan kemanusiaan di Palestina. Wanita keturunan Tionghoa asal Malaysia ini adalah seorang ahli bedah ortopedi yang mengabdikan lebih dari empat dekade hidupnya untuk merawat korban luka-luka dan trauma di wilayah konflik, khususnya di Palestina.
erjalanan hidup Dr. Ang Swee Chai, seorang ahli bedah ortopedi kelahiran Malaysia, menuju pembelaan tanpa henti untuk rakyat Palestina berawal dari sebuah peristiwa tragis yang personal: penangkapan dan penghilangan paksa suaminya sendiri di Singapura.
Pada tahun 1977, suami Dr. Ang, seorang aktivis mahasiswa, ditangkap di bawah Internal Security Act (ISA) Singapura yang kontroversial. Pengalaman pahit ini membuka matanya pada realita ketidakadilan dan penindasan oleh penguasa. Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan Singapura dan mencari suaka politik di Inggris, di mana ia melanjutkan karir medisnya.
Titik baliknya terjadi pada 1982, saat ia menyaksikan langsung dampak mengerikan dari Pembantaian Sabra dan Shatila di Lebanon. Peristiwa tragis itu membawanya pada kesadaran mendalam untuk membela rakyat Palestina yang terus menderita di bawah penjajahan.
Melihat ribuan pengungsi Palestina yang menjadi korban, ia teringat pada ketidakberdayaan yang dirasakannya saat suaminya dirampas kebebasannya. Peristiwa ini mengkristalkan tekadnya untuk membela mereka yang tertindas.
Sejak saat itu, ia memutuskan untuk mendedikasikan keahlian medisnya bagi mereka yang paling membutuhkan pertolongan.
“Ketika saya melihat anak-anak Palestina yang terlantar dan terluka, saya melihat wajah setiap orang yang pernah menderita di bawah ketidakadilan. Pengalaman pribadi saya membuat saya tidak bisa berpaling,” ujar Dr. Ang dalam suatu wawancara, menghubungkan secara mendalam pengalaman tragisnya dengan penderitaan rakyat Palestina.
Pada tahun yang sama, bersama aktivis kemanusiaan lainnya, ia mendirikan Medical Aid for Palestinians (MAP), organisasi yang menjadi ujung tombak bantuan medis bagi rakyat Palestina di wilayah penjajahan.
MAP hingga hari ini terus memberikan bantuan medis darurat dan jangka panjang bagi rakyat Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan pengungsi di Lebanon.
Tidak hanya memberikan layanan medis, Dr. Ang juga menjadi saksi hidup dan juru suara bagi penderitaan rakyat Palestina di panggung internasional.
Melalui bukunya yang terkenal, “From Beirut to Jerusalem”, ia menuturkan pengalaman pahit dan mengharukan yang ia alami selama bertugas di lapangan, mengungkapkan kondisi kemanusiaan yang sering kali ditutup-tutupi oleh media arus utama.
“Kita tidak bisa hanya berdiam diri menyaksikan ketidakadilan. Sebagai dokter, tugas saya adalah menyembuhkan. Tetapi sebagai manusia, tugas kita adalah membela yang tertindas,” ujar Dr. Ang dalam suatu wawancara, mengungkapkan motivasi perjuangannya.
Pembelaan Tak Kenal Lelah
Dedikasi Dr. Ang Swee Chai bagi Palestina melampaui batas-batas ruang operasi. Selama puluhan tahun, ia telah menjadi simbol ketabahan dan keberanian, sering kali bekerja di bawah kondisi yang sangat berbahaya dan penuh tekanan.
Ia dengan berani memasuki wilayah-wilayah konflik seperti Jalur Gaza yang terkepung, dimana akses terhadap kebutuhan dasar sangat terbatas dan infrastruktur medis hancur berulang kali akibat serangan.
Di tengah gempuran udara dan blokade yang menyulitkan distribusi bantuan, Dr. Ang dan tim MAP tidak pernah menyerah.
Mereka membangun klinik-klinik darurat, melatih tenaga medis lokal, dan menyediakan obat-obatan serta peralatan vital yang menyelamatkan nyawa ribuan warga sipil, termasuk banyak anak-anak yang menjadi korban ledakan dan kekerasan.
Lebih dari sekadar memberikan bantuan medis, Dr. Ang menggunakan posisinya untuk melakukan advokasi global. Ia bersuara lantang di berbagai forum internasional, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menuntut pertanggungjawaban atas pelanggaran HAM dan hukum humaniter yang terjadi.
Ia dengan tegas menyatakan bahwa krisis di Palestina bukan hanya sekadar konpolitik, melainkan krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian dan tindakan segera dari dunia internasional.
Perjuangannya adalah perlawanan terhadap ketidakpedulian. Ia yakin bahwa setiap nyawa yang diselamatkan, setiap cerita yang dibagikan, adalah tameng melawan lupa dan ketidakadilan. Meski telah berusia lanjut, semangatnya tidak pernah pudar.
Dr. Ang percaya bahwa perdamaian sejati hanya dapat tercapai ketika hak-hak dasar rakyat Palestina untuk hidup bermartabat di tanah airnya sendiri diakui dan dihormati.
Perjuangannya terus menginspirasi generasi baru dokter, aktivis, dan relawan untuk tidak tinggal diam dan mengambil peran dalam membela kemanusiaan, dimanapun ketidakadilan terjadi.*




