Ulama dunia dan Haiat Ulama Palestina menyerukan pengelolaan Gaza harus tetap berada di tangan orang Palestina sendiri sebagai bentuk penegasan kedaulatan dan perjuangan rakyat Palestina, meniadakan Hamas adakan sebuah jebakan Barat
Hidayatullah.com | PERNYATAAN bersama Ulama Dunia terkait rencana ‘Rencana Perdamaian ala Donald Trump’ menegaskan penolakan keras terhadap inisiatif tersebut. Mereka menyebut gagasa AS yang didukung negara Barat lainnya sebagai “rencana kolonial” yang bertujuan melikuidasi perjuangan Palestina, bukan membawa kedamaian sejati.
Dalam teks resmi berjudul “Bayān ‘Ulamā al-Ummah ḥaul Mawāqif ad-Duwal al-‘Arabiyyah wal-Islāmiyyah min Khutthah Trump”, para ulama menyoroti lima poin utama:
Pertama, Amerika adalah musuh umat. Disebutkan bahwa AS bukan penengah adil, melainkan motor penggerak agresi Israel. Perang di Gaza disebut sebagai “perang dengan senjata Amerika.”
Kedua, dukungan negara Arab-Islam terhadap rencana ini adalah tekanan terhadap perlawanan. Langkah itu dianggap sebagai pelemahan rakyat Palestina, bukan dukungan.
Ketiga, sikap mendukung rencana AS adalah bentuk ketundukan politik. Mereka memperingatkan bahwa sejarah menunjukkan Amerika tidak pernah setia kepada sekutu yang lemah.
Keempat, seruan kepada para ulama untuk bersuara lantang. Ulama diimbau tidak diam dengan alasan diplomasi, melainkan menyuarakan kebenaran.
Kelima, dukungan penuh terhadap rakyat Gaza. Para ulama menyatakan berada dalam satu barisan dengan rakyat Palestina dan menolak setiap upaya normalisasi dengan Israel.
Dalam pernyataan itu, para ulama mengutip ayat Al-Quran yang mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai sekutu dalam urusan yang bertentangan dengan iman (QS. Al-Maidah: 51), serta peringatan bahwa mereka tidak akan pernah rela sampai umat Islam mengikuti kehendak mereka (QS. Al-Baqarah: 120).
Para ulama juga mengutip hadis Nabi juga berbunyi, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzhaliminya, tidak menelantarkannya, dan tidak menyerahkannya kepada musuh.”
Amerika Bukan Mediator Adil
Para ulama menyebut rencana Trump sebagai “racun dalam madu” dan menyebut negara itu bukan mediator yang adil karena selalu di pihak penjajah Israel. Selain itu, syarat melucuti senjata Hamas, membebaskan tawanan Israel, dan penempatan Gaza di bawah pengawasan asing dinilai bukan solusi, melainkan jebakan.
“Ini bukan jalan menuju kemerdekaan, melainkan strategi untuk mengurung Gaza dalam penjara terbuka,” tegas salah satu isi pernyataan.
Dalam pernyataan resmi oleh Haiat Ulama Palestina mereka menyerukan bahwa pengelolaan Gaza harus tetap berada di tangan orang Palestina sendiri sebagai bentuk penegasan kedaulatan dan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Tokoh dan Lembaga Penandatangan
Pernyataan itu ditandatangani berbagai lembaga, di antaranya Hai’ah Ulama Palestina, Persatuan Ulama Afghanistan, Rabithah Ulama Maghreb, Asosiasi Ulama Malaysia, dan Persatuan Ulama Turki, serta tokoh seperti Dr. Nawas Takaruri, Dr. Abdul Hay Yusuf, dan Dr. Mohamed Khair Musa.
Pengamat internasional dari Universitas Indonesia menilai, rencana ini tidak logis dan mustahil membawa perdamaian sejati. “Sebuah perdamaian tidak bisa dibangun di atas syarat berat sebelah yang menekan pihak lemah dan membebaskan agresor dari tanggung jawab. Ide semacam ini tidak masuk akal dan harus ditolak,” ujarnya.
Pernyataan ditutup dengan seruan agar semua umat Islam mendukung perjuangan rakyat Palestina, menolak normalisasi, dan mendesak pemerintah masing-masing untuk meninjau kembali sikap terhadap Israel.
“Tidak ada ruang bagi sikap abu-abu. Sejarah tidak akan memaafkan siapa pun yang melemahkan perlawanan,” demikian pesan terakhir dari pernyataan tersebut.
Dokumen ini merupakan sebuah pernyataan bersama yang ditandatangani oleh 14 lembaga Islam dan 62 ulama serta da’i dari berbagai negara seperti Palestina, Yaman, Bangladesh, Sudan, Turki, Iran, Malaysia, Maroko, dan banyak negara lainnya, yang diawali dengan ayat Al-Qur’an (Yusuf: 21) untuk menegaskan bahwa kemenangan berada di tangan Allah.
Daftar penandatangan yang sangat panjang dan beragam secara geografis ini menunjukkan adanya upaya untuk membentuk sebuah koalisi atau front persatuan yang luas di kalangan ulama dan organisasi Islam internasional dalam menyikapi suatu isu, kemungkinan besar terkait dengan perjuangan Palestina dan Masjid Al-Aqsa, sebagaimana tercermin dari nama-nama lembaga yang terlibat.
Penandatangan:
Pertama: Lembaga:
- Majelis Ulama Palestina
- Lembaga Dunia untuk Pendukung Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
- Perkumpulan Kebangkitan Ulama Yaman
- Aliansi Irak untuk Mendukung Al-Aqsa
- Lembaga Penelitian Ilmiah Bangladesh
- Lembaga Umat Satu
- Perhimpunan Ulama Eritrea
- Majelis Ilmiah Ulama Afghanistan
- Perhimpunan Ulama Maghrib Arab
- Perkumpulan Ulama Malaysia
- Institut Studi Perbandingan untuk Penelitian Masa Depan Keagamaan – Teheran
- Perkumpulan Al-Ma’ali untuk Sains dan Pendidikan – Aljazair
- Serikat Ulama dan Sekolah Islam Turki
- Yayasan Al-Murtadha untuk Studi dan Dakwah Islam – Iran
Kedua: Ulama dan Da’i:
- Syaikh Dr. Nawaf Takruri
- Syaikh Abdul Hay Yusuf
- Syaikh Dr. Muhammad Ash-Shaghir
- Syaikh Hasan Salman
- Syaikh Muhammad Khair Musa
- Syaikh Dr. Muhammad Hammam Said
- Syaikh Dr. Abdul Rahman Hamad
- Syaikh Ibrahim Jibril – Dewan Peradilan Afrika Selatan
- Syaikh Dr. Muhammad Abdul Karim
- Dr. Abdullah bin Abdul Majid Az-Zandani
- Syaikh Munir Ruqayyah
- Syaikh Dr. Abu Bakar Al-Isawi
- Dr. Mahmud Said Asy-Syajrawi
- Dr. Marwah Nasar
- Dr. Nasim Yasin, Ketua Perhimpunan Ulama Palestina
- Dr. Said Asy-Syibli
- Dr. Ibrahim Mahna
- Ust. Rasyid bin Kautsar Bangladesh
- Dr. Husain Abdul ‘Al
- Prof. Dr. Washfi Ashur Abu Zaid – Guru Besar Ushul Fikih dan Maqashid Syariah Islam
- Dr. Muhammad Umar Baskuthah
- Syaikh Mudzthir Ahmad Ismail
- Dr. ‘Athiyah ‘Adlan
- Dr. Hudzaifah Syarif Al-Khatib
- Prof. Dr. Alaauddin Az-Zaki, Wakil Ketua Majelis Ulama Sudan
- Dr. Walid Al-Husaini
- Syaikh Burhan Said
- Dr. Muhammad Hammam Said
- Syaikh Muhammad Harun Khitibi
- Dr. Muhammad Hindi
- Dr. Yusuf Al-Jajiyah
- Imam Syaikh Ibrahim Seek di Senegal
- Syaikh Al-Hassan bin Ali Al-Kattani, Ketua Perhimpunan Ulama Maghrib Arab
- Syaikh Muhammad Abu Bakar Az-Zanfuli
- Syaikh Abu Zaid Ruqayyah – Lebanon
- Syaikh Ali Al-Yusuf
- Dr. Mustafa Dzul Faqar – Universitas Teheran
- Syaikh Nuruddin La’muri
- Dr. Khelouati Sahraoui, Ketua Akademi Asad untuk Pembinaan Ilmiah dan Dakwah
- Syaikh Abdul Majid Al-Balushi, Anggota Serikat Ulama Muslim Iran
- Abdul Warits Abdul Khaliq Turkistani – Ketua Perkumpulan Jurnalis dan Media Turkistan Timur
- Sayyid Fadhil – Penanggung Jawab Institut Pengembangan Pemikiran Anak dan Remaja, Provinsi Khorasan, Iran
- Mullah Anwar Al-Amadi – Ketua Serikat Ulama dan Sekolah Islam Turki
- Mullah Abdul Quddus Al-Hilmi – Wakil Ketua Serikat Ulama dan Sekolah Islam Turki
- Mullah Muhammad Al-Hujjati – Sekretaris Jenderal Serikat Ulama dan Sekolah Islam Turki
- Su’ad Yasin, Wakil Ketua Serikat Ulama dan Sekolah Islam Turki
- Syaikh Abdul Hay Syeikh Adam, Ketua Forum Ulama Somalia
- Dr. Muhammad Umar Baskuthah
- Dr. Mudzthir Ahmad Ismail – Sekretaris Jenderal Aliansi Sudan untuk Ulama, Imam, dan Da’i
- Dr. ‘Athiyah ‘Adlan
- Dr. Abdullah Az-Zandani
- Dr. Hudzaifah Syarif Al-Khatib
- Prof. Dr. Ahmad Tekin
- Prof. Dr. Alaauddin Az-Zaki – Wakil Ketua Majelis Ulama Sudan
- Dr. Walid Al-Husaini
- Dr. Abdul Salam Al-Mujidi
- Dr. Abdul Basith Ismail Yarbu’
- Dr. Marwan Al-Fa’uri
- Dr. Ahmad Said Hawwa
- Dr. Salamah Abdul Qawi
- Dr. Fahmi Islam
- Syaikh Ahmad Al-Bainjuri.*




