Hidayatullah.com—Sumber-sumber diplomatik dan keamanan menyebutkan bahwa ‘Israel’ telah menyetujui penambahan 10 nama baru dari tahanan Palestina yang divonis penjara seumur hidup dalam daftar pertukaran tahanan dengan Hamas. Namun, Tel Aviv tetap menolak memasukkan nama tokoh Fatah, Marwan Barghouti , serta sejumlah komandan senior pejuang Brigade al-Qassam.
Kabar ini disampaikan oleh Al Jazeera, yang mengutip sumber-sumber Palestina dan laporan Radio Tentara ‘Israel’, bersamaan dengan publikasi resmi daftar 250 tahanan Palestina yang direncanakan akan dibebaskan dalam tahap pertama perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tawanan.
Menurut laporan itu, 100 dari total 250 tahanan akan diizinkan kembali ke Tepi Barat yang diduduki , sementara 5 lainnya akan dikembalikan ke Yerusalem Timur.
‘Israel’ tetap pada sikapnya yang menolak membebaskan Marwan Barghouti dan sejumlah pemimpin besar Hamas,” tulis laporan Al Jazeera, Jumat (10/10/2025).
Tahap Baru Pertukaran Tahanan
Proses negosiasi daftar tahanan, yang disebut sangat sensitif, berlangsung intensif di Mesir dengan mediasi Qatar, Turki, dan Mesir , serta pengawasan langsung dari pemerintah Amerika Serikat.
Perundingan yang berlangsung empat hari di kota Sharm el-Sheikh menghasilkan kesepakatan awal yang diumumkan Kamis dini hari, dan mulai diterapkan Jumat siang waktu Gaza.
Pemerintah ‘Israel’ mengonfirmasi bahwa gencatan senjata resmi mulai berlaku pukul 12.00 waktu setempat , bersamaan dengan dimulainya tahap pertama pertukaran tahanan dan pembebasan sandera.
Reuters melaporkan bahwa ratusan warga Palestina di Khan Younis dan Deir al-Balah menyambut para tahanan yang dibebaskan dengan sujud syukur, pekik takbir, dan pengibaran bendera Palestina.
Ribuan Warga Kembali ke Utara Gaza
Segera setelah pengumuman gencatan senjata, puluhan ribu warga Palestina yang sebelumnya mengungsi di Wadi Gaza (pusat Jalur Gaza) mulai bergerak kembali ke wilayah utara. Meski masih terdengar beberapa ledakan sporadis di pagi hari, tidak ada laporan mengenai serangan udara besar setelah pengumuman resmi penghentian tembakan.
“Hari ini kami kembali ke rumah kami di utara, meski hancur, karena perang ini akhirnya berhenti,” kata Mahmoud Abu Issa , seorang pengungsi dari Beit Hanoun kepada Al Jazeera Arabic.
Peran AS dan Kesepakatan Tahap Pertama
Presiden Amerika Serikat Donald Trump —yang memediasi langsung perjanjian ini—mengumumkan pada Kamis dini hari bahwa ‘Israel’ dan Hamas telah mencapai kesepakatan atas fase pertama dari rencana pertukaran tahanan dan penghentian perang Gaza.
“Ini adalah langkah besar menuju perdamaian yang lebih luas di Timur Tengah,” ujar Trump dalam konferensi pers di Washington.
Mesir disebut menjadi tuan rumah utama pertemuan teknis yang menentukan mekanisme pemulangan tawanan ‘Israel’ dari Gaza dan pembebasan tahanan Palestina dari penjara ‘Israel’.
Data Korban dan Kondisi Tahanan
Menurut estimasi resmi Tel Aviv, masih ada 48 tawanan ‘Israel’ yang tersisa di Gaza , di antaranya 20 orang diyakini masih hidup.
Sementara itu, lebih dari 11.100 warga Palestina dilaporkan masih berada di penjara-penjara ‘Israel’, dengan ratusan di antaranya menjalani hukuman seumur hidup.
Laporan lembaga hak asasi manusia Palestina dan ‘Israel’ menunjukkan bahwa tahanan Palestina kerap mengalami penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis. Sejumlah tahanan dilaporkan meninggal akibat kondisi tersebut selama dua tahun terakhir.
Konteks Kemanusiaan Gaza
Sejak 7 Oktober 2023, ‘Israel’ telah melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza yang oleh kelompok HAM dan PBB disebut sebagai bentuk kejahatan perang atau genosida.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 67.194 syahid dan 169.890 luka-luka , sebagian besar anak-anak dan perempuan. Selain itu, lebih dari 460 warga Gaza meninggal akibat kelaparan dan kekurangan obat , termasuk 154 anak-anak.
“Perang ini menghancurkan Gaza secara fisik, tapi semangat rakyatnya tetap bertahan,” ujar salah satu pejabat Palestina kepada Al Jazeera Mubasher.
Simbol Politik: Barghouti dan Harapan Baru
Penolakan ‘Israel’ untuk membebaskan Marwan Barghouti , yang dipenjara sejak 2002 dan dijatuhi lima hukuman seumur hidup, dianggap sebagai indikasi kekhawatiran politik. Barghouti selama ini disebut sebagai sosok yang dapat menyatukan faksi-faksi Palestina jika dibebaskan.
“Selama Barghouti tetap di penjara, tidak akan ada kepemimpinan tunggal Palestina yang kuat,” kata analis politik Nour Odeh kepada Al Jazeera English.
Meskipun demikian, pembebasan 250 tahanan tahap pertama—termasuk 10 narapidana seumur hidup—dipandang sebagai kemajuan nyata menuju akhir perang dan awal pembicaraan politik baru untuk masa depan Gaza dan Tepi Barat.*




