Hidayatullah.com— Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menguraikan secara terbuka posisinya mengenai masa depan Gaza dan wilayah Palestina. Ia menegaskan bahwa rekonstruksi Gaza tidak akan diizinkan sebelum terjadi demiliterisasi penuh dan kontrol keamanan tetap berada di tangan ‘Israel’ dari Sungai Yordan hingga Laut Tengah, termasuk Jalur Gaza.
“Tidak akan ada rekonstruksi Gaza sebelum demiliterisasi total. Keamanan harus tetap di tangan kami,” ujar Netanyahu, kutip Time of Israel.
Dalam pernyataannya, penjahat kemanusiaan ini juga menolak berbagai wacana kehadiran pasukan asing di Gaza sebagai bagian dari skema stabilisasi pascagenosida. Ia secara khusus menyebut bahwa tidak akan ada pasukan Turki maupun pihak lain yang masuk menggantikan peran keamanan penjajah di wilayah tersebut.
“Tidak akan ada pasukan Turki atau pasukan asing lain di Gaza. Kami yang akan tetap mengendalikan keamanan,” katanya, kutip Time of Israel.
Netanyahu juga mempertegas penolakannya terhadap pembentukan negara Palestina di wilayah Gaza. Menurutnya, wilayah tersebut harus tetap berada di bawah pengawasan keamanan zionis demi mencegah kebangkitan kembali kekuatan bersenjata yang dianggap mengancam.
“Israel akan mempertahankan kontrol keamanan di seluruh wilayah dari Yordan hingga laut,” ujarnya, kutip Time of Israel.
Sikap ini menegaskan kembali bahwa pemerintahan Netanyahu tidak mendukung solusi dua negara dalam bentuk pendirian negara Palestina merdeka di Gaza maupun wilayah lain yang kini berada dalam kendali ‘Israel’.
“Netanyahu kembali menolak kemungkinan kehadiran pasukan Turki di Gaza dan menegaskan dominasi keamanan Israel,” lapor Türkiye Today.
Sementara itu, laporan Middle East Monitor menyebutkan bahwa Netanyahu menjadikan pelucutan senjata pejuang Hamas sebagai syarat mutlak sebelum berbicara mengenai pemulihan Gaza. Tanpa hal itu, menurutnya, setiap upaya rekonstruksi hanya akan mengulang siklus genosida.
“Rekonstruksi tanpa pelucutan senjata hanya akan mengembalikan ancaman yang sama,” kutip Middle East Monitor dari pernyataan Netanyahu.
Sejumlah pengamat menilai pernyataan ini memperlihatkan bahwa berbagai gagasan perdamaian yang didorong Amerika Serikat dan mitra internasional menghadapi hambatan besar dari posisi resmi pemerintah zionis sendiri. Rencana yang mengusulkan pengelolaan Gaza oleh pihak internasional atau otoritas Palestina dinilai tidak sejalan dengan sikap Netanyahu.
Laporan Anadolu Agency juga mencatat bahwa pernyataan Netanyahu muncul di tengah tekanan diplomatik internasional yang menginginkan adanya rekonstruksi kemanusiaan di Gaza secepatnya. Namun, Israel tetap menempatkan aspek keamanan sebagai prioritas mutlak di atas pertimbangan lain.
Di sisi lain, pernyataan mengenai kontrol “dari Yordan hingga laut” memicu kembali perdebatan panjang tentang masa depan Palestina, karena frasa tersebut dipahami sebagai penegasan bahwa tidak ada ruang bagi kedaulatan Palestina yang berdiri sendiri.
Dengan sikap ini, pemerintah penjajah di bawah Netanyahu memperjelas arah kebijakan bahwa Gaza tidak akan dipulihkan dan usaha Amerika dengan Board of Peace (BoP) yang tidak ada banyak manfaat bagi kemerdekaan Palestina sendiri.*




