Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Adab: Ketika Layar Televisi Menguji Martabat Santri

Dari Resolusi Jihad 1945 hingga Hari Santri hari ini, perjuangan mereka tetap sama: menjaga martabat dan membela kebenaran—kali ini bukan di medan perang, melainkan di ruang digital dan layar kaca.

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Oktober 2025 16:43 4:43 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Oktober 2025 17:00
Bagikan
AlBurhan Semarang (ilutsrasi)
Bagikan

oleh: Abdullah al-Mustofa

Daftar isi
  • Api Lama yang Menyala Lagi
  • Pertempuran Baru di Dunia yang Berisik
  • Ketika Adab Jadi Benteng Terakhir
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Hidayatullah.com – BAYANGKAN suasana pondok pesantren di pagi hari. Santri-santri bangun sebelum subuh, berwudu di air yang dinginnya menggigit, lalu berbaris menuju musala. Dari kejauhan, terdengar lantunan ayat suci yang menggetarkan hati. Namun beberapa hari lalu, keheningan dunia pesantren itu tiba-tiba terusik. Sebuah tayangan di televisi—“Xpose Uncensored” di Trans7—menyajikan kehidupan santri dengan nada mengejek, seolah dunia pesantren hanyalah tempat konyol dan kolot.

Gelombang reaksi pun datang deras, seperti ombak yang menghantam pantai. Media sosial mendidih. Alumni pesantren, kiai, dan masyarakat menuntut klarifikasi. Tapi di balik riuhnya kemarahan itu, ada pertanyaan yang menggantung di udara: Apakah ini hanya soal tayangan yang salah arah, atau ada sesuatu yang lebih dalam sedang diuji?

Api Lama yang Menyala Lagi

Hari Santri Nasional—22 Oktober—ditetapkan untuk mengenang momen bersejarah Resolusi Jihad tahun 1945. Saat itu, ribuan santri bangkit melawan penjajahan. Mereka tak memegang mikrofon atau kamera, tapi bambu runcing dan tekad yang tak tergoyahkan. Seruan KH Hasyim Asy’ari menggema: membela tanah air adalah bagian dari iman.

Namun, 80 tahun berselang, bentuk “penjajahan” berubah rupa. Tidak lagi berupa senjata, tetapi berupa narasi yang menyesatkan. Jika dulu santri berhadapan dengan tentara asing, kini mereka menghadapi opini publik yang mudah terbentuk hanya karena potongan video. “Xpose Uncensored” hanyalah satu contoh dari banyaknya tontonan yang mencoba memutar makna—bahwa kesopanan dianggap kuno, dan adab dianggap ketinggalan zaman.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Pertempuran Baru di Dunia yang Berisik

Bayangkan: para santri yang setiap hari belajar sopan santun dan menahan amarah, tiba-tiba menjadi bahan candaan di layar nasional. Tapi alih-alih melawan dengan kata-kata kasar, mereka menulis surat terbuka. Mereka berdiskusi, berdoa bersama, dan menegur dengan santun. Inilah gaya perjuangan santri masa kini—bukan dengan amarah, tapi dengan adab.

Inilah revolusi adab—versi baru dari resolusi jihad. Jika dulu santri mengusir penjajah dari tanah air, kini mereka berjuang melawan penjajahan moral dan logika. Senjatanya bukan lagi bambu runcing, tapi pena, naskah, dan keberanian menjaga kebenaran di tengah bisingnya dunia digital.

Dan di sinilah kisahnya menjadi semakin menarik. Bayangkan seorang santri muda yang duduk di depan televisi, melihat tayangan itu dengan dada berdebar. Ia marah, tapi juga sadar: ini bukan waktu untuk berteriak, ini waktu untuk membuktikan dengan tindakan. Maka ia mulai menulis, berdakwah, dan menunjukkan keindahan pesantren lewat konten positif. Satu unggahan kecilnya mulai viral, dan publik mulai sadar—pesantren bukan tempat gelap, tapi taman ilmu dan cahaya.

Ketika Adab Jadi Benteng Terakhir

Kasus “Xpose Uncensored” sesungguhnya memberi pelajaran yang lebih besar daripada sekadar kritik media. Ia membuka mata bangsa bahwa pesantren bukan tinggalan masa lalu, tapi benteng moral masa depan. Saat dunia kehilangan sopan santun, santrilah yang mengajarkan cara bicara dengan hati. Saat media kehilangan arah, santrilah yang mengingatkan bahwa kebebasan tanpa tanggung jawab hanyalah kebodohan yang disiarkan.

Dan di momen Hari Santri ini, gema resolusi jihad kembali terasa—bukan dalam bentuk perang fisik, melainkan perang makna. Karena di zaman ini, kebenaran sering kalah oleh suara paling nyaring.

Santri tahu, jihad bukan soal membenci, tapi menjaga cinta: cinta pada kebenaran, cinta pada adab, cinta pada bangsa. Maka mereka melawan bukan untuk menang, tapi untuk menjaga martabat.

Ketika layar kaca retak oleh kesalahan, santri hadir untuk memperbaikinya dengan ketenangan. Karena mereka tahu, tugas mereka bukan hanya membaca kitab, tetapi juga membaca zaman.

Dan di situlah getaran adrenalin sejati Hari Santri terasa—bukan dalam pekikan perang, tapi dalam keheningan seorang santri yang menegakkan adab di tengah dunia yang kian kehilangan arah. Wallahu a’lam.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Hari SantriResolusi JihadRevolusi AdabTrans 7
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dakwah Hidayatullah di 50 Tahun Kedua: Dari Gerakan ke Peradaban
Tulisan selanjutnya Dilarang Masuk ke Beberapa Negara, Paspor ‘Israel’ Turun Peringkat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi

Berita
2 September 2026 20:16
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap
Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?